Raih Gelar Doktor di IPB, Sudaryono Tegaskan Holdingisasi BUMN Instrumen Negara Hadir untuk Rakyat

- Sudaryono resmi meraih gelar Doktor di IPB usai mempertahankan disertasi tentang strategi optimisasi kinerja BUMN pasca holdingisasi.
- Holdingisasi BUMN dinilai langkah strategis Presiden Prabowo untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, serta efektivitas kehadiran negara bagi rakyat.
- Kinerja nyata jadi bukti, mulai dari stok Bulog 3,7 juta ton hingga efisiensi Rp4,1 triliun di Pupuk Indonesia yang menurunkan harga pupuk 20 persen.
, Bogor — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono resmi menyandang gelar Doktor usai menjalani sidang promosi doktor di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Senin (15/12/2025).
Dalam sidang tersebut, Sudaryono—yang akrab disapa Mas Dar—mempertahankan disertasi berjudul “Evaluasi dan Strategi Optimisasi Kinerja BUMN Pasca Kebijakan Holdingisasi di Indonesia”. Disertasi itu menyoroti posisi strategis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai instrumen negara dalam mewujudkan amanat Undang-Undang Dasar 1945.
Sudaryono menegaskan, BUMN bukan semata entitas bisnis, melainkan alat negara yang kinerjanya sangat ditentukan oleh arah kebijakan pemerintah. Menurutnya, karena dimiliki negara dan melayani kepentingan publik, keberhasilan BUMN harus diukur dari kemampuannya menghadirkan manfaat nyata bagi rakyat.
“BUMN adalah instrumen negara. Dimiliki negara, konsumennya sebagian besar negara dan rakyat. Karena itu, keberhasilan BUMN sangat ditentukan oleh kebijakan negara,” tegas Sudaryono di hadapan para penguji.
Ia menilai langkah Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kebijakan holdingisasi BUMN sebagai keputusan strategis. Holdingisasi, kata dia, bukan sekadar penggabungan struktur korporasi, melainkan upaya meningkatkan efisiensi, daya saing, serta efektivitas kehadiran negara dalam sektor-sektor strategis.
“Ini bukan hanya soal korporasi, tapi soal bagaimana negara bisa hadir lebih efektif bagi rakyat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sudaryono menekankan bahwa pasca holdingisasi, tantangan utama terletak pada penguatan manajemen dan pengawasan kinerja, khususnya dalam pengelolaan arus kas dan utang. Selain aspek finansial, ia juga menyoroti pentingnya penyelarasan tata kelola di seluruh entitas BUMN, dari induk hingga anak perusahaan.
“Holdingisasi tidak cukup hanya menyatukan struktur bisnis. Standar manajemen, transparansi, dan akuntabilitas harus seragam agar manfaatnya benar-benar terasa,” jelasnya.
Dalam sidang tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang bertindak sebagai salah satu penguji menilai disertasi Sudaryono memiliki keunggulan karena ditopang oleh rekam jejak kinerja nyata. Menurut Mentan Amran, Sudaryono tidak hanya kuat secara konseptual, tetapi juga telah membuktikan gagasannya dalam praktik.
“Beliau tidak hanya menulis, tapi sudah bekerja dan membuktikan. Evidence-nya jelas,” tegas Amran.
Amran memaparkan, saat Sudaryono menjabat Ketua Dewan Pengawas Bulog, kinerja perusahaan menunjukkan tren positif, ditandai dengan stok beras yang kini mencapai 3,7 juta ton dan berpotensi menjadi yang tertinggi dalam sejarah. Capaian itu berlanjut ketika Sudaryono menjabat Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia, di mana efisiensi perusahaan menghasilkan penghematan hingga Rp4,1 triliun serta menurunkan harga pupuk hingga 20 persen tanpa tambahan beban APBN.
“Yang menikmati langsung sekitar 115 juta petani Indonesia,” ujar Amran.
Ia juga menyoroti potensi besar BUMN secara nasional. Dengan total aset sekitar Rp16.500 triliun, return on asset BUMN saat ini baru berada di kisaran 2 persen, jauh di bawah standar internasional. Jika kinerja itu dapat ditingkatkan secara kolektif, Amran menilai dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional akan sangat signifikan.
Menutup sidang promosi doktor, Sudaryono menegaskan pentingnya sinergi antara riset akademik dan praktik kebijakan. Baginya, penguatan BUMN—khususnya di sektor pangan—bukan sekadar urusan korporasi, melainkan fondasi strategis bagi program-program nasional, termasuk upaya mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: