Tim SAR Temukan Satu Korban Pria Pesawat ATR 42-500 Meninggal Dunia di Jurang Gunung Bulusaraung

- Tim SAR menemukan satu korban laki-laki pesawat ATR 42-500 meninggal dunia pada pukul 14.20 Wita di jurang sedalam 200 meter di bawah tebing utara Gunung Bulusaraung, tidak jauh dari lokasi puing pesawat
- Jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk identifikasi DNA, keluarga 10 korban (7 awak + 3 penumpang) sudah dimintai sampel DVI untuk pencocokan identitas
- Basarnas prioritaskan pencarian korban lain yang mungkin selamat, 476 personel dikerahkan hadapi medan berat dengan tebing curam, kabut tebal, dan cuaca buruk di lokasi kecelakaan
, MAKASSAR – Tim SAR gabungan berhasil menemukan satu korban penumpang pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang dilaporkan hilang kontak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Minggu sore.
Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar mengatakan korban yang ditemukan berjenis kelamin laki-laki telah dievakuasi dari lokasi penemuan. Penemuan ini menjadi terobosan penting dalam operasi pencarian yang telah berlangsung sejak Sabtu, 17 Januari 2026.
Korban ditemukan sekitar pukul 14.20 Wita, tidak jauh dari lokasi ditemukannya serpihan pesawat. Tepatnya di bawah tebing sebelah utara puncak Gunung Bulusaraung, lokasi korban berada di sekitar jurang dengan kedalaman kurang lebih 200 meter.
Tim SAR saat ini masih melakukan penyelidikan untuk memastikan identitas korban secara pasti. Informasi lengkap mengenai identitas korban akan disampaikan kepada publik setelah proses identifikasi selesai dilakukan di rumah sakit.
Basarnas terus memaksimalkan upaya pencarian terhadap korban lainnya yang masih berada di lokasi kejadian. Fokus utama operasi saat ini adalah pencarian dan evakuasi korban, dengan prioritas tertinggi pada kemungkinan masih ada korban yang selamat.
“Prioritas kami saat ini adalah menemukan korban. Harapannya masih ada korban yang bisa dievakuasi dalam kondisi selamat,” papar Arif, Minggu, 18 Januari 2026.
Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko menyatakan bahwa jenazah korban akan langsung dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk menjalani proses identifikasi lanjutan. Rumah sakit ini dipilih karena memiliki fasilitas forensik yang memadai untuk penanganan korban bencana.
Semua pihak keluarga korban yang tercatat berada dalam pesawat sebelumnya telah dimintai sampel Disaster Victim Identification untuk mempermudah proses pencocokan DNA. Langkah ini penting mengingat kondisi korban yang mungkin sulit diidentifikasi secara visual.
“Akan langsung kita bawa ke RS Bhayangkara sesuai kesepakatan. Semua keluarga korban juga telah dimintai beberapa sampel dari DVI untuk memudahkan dalam mencocokkan nantinya, supaya cepat diketahui identitasnya,” ujar Bangun.
Proses pengambilan sampel DVI dari keluarga korban telah dilakukan sejak Sabtu malam setelah diterimanya konfirmasi bahwa pesawat mengalami kecelakaan. Sampel yang diambil meliputi rambut, darah, dan benda pribadi yang dapat digunakan untuk pencocokan DNA.
Tim forensik dari Polda Sulawesi Selatan dan rumah sakit telah bersiap di lokasi untuk melakukan identifikasi secara cepat namun akurat. Mereka akan menggunakan metode kombinasi antara identifikasi visual, sidik jari, gigi, dan tes DNA untuk memastikan identitas korban.
Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT ini hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026 saat melakukan penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Pesawat membawa total 10 orang yang terdiri dari 7 awak dan 3 penumpang.
Puing-puing pesawat ditemukan tersebar di lereng Gunung Bulusaraung pada Minggu pagi setelah tim SAR melakukan penyisiran intensif sejak dini hari. Kondisi puing menunjukkan pesawat mengalami benturan keras dengan permukaan gunung.
Medan pencarian sangat berat dengan kondisi tebing curam, kabut tebal, dan jalur yang sulit dilalui. Tim SAR harus menggunakan peralatan khusus seperti tali rapelling dan alat bantu pendakian untuk mencapai lokasi jatuhnya pesawat.
Sebanyak 476 personel dari berbagai instansi termasuk Basarnas, TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk operasi pencarian dan evakuasi. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok dengan tugas masing-masing untuk memaksimalkan hasil pencarian.
Helikopter Caracal TNI AU juga terus melakukan observasi udara untuk membantu mengarahkan tim darat menuju lokasi yang belum terjangkau. Dukungan udara ini sangat membantu mengingat medan yang sangat sulit diakses dari darat.
Cuaca di lokasi kejadian sempat menghambat operasi pencarian karena kabut tebal dan hujan ringan. Namun tim terus berupaya semaksimal mungkin dengan menggunakan peralatan navigasi dan komunikasi yang canggih.
Keluarga korban yang menunggu di Posko SAR di Makassar terus mendapat pendampingan dari tim psikolog dan pihak terkait. Mereka diberikan update secara berkala mengenai perkembangan operasi pencarian dan evakuasi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: