TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

4 April 2026

Cari berita

WhatsApp Klaim Rusia Blokir Layanan Pesan untuk Lebih dari 100 Juta Pengguna

Poin Penting (3)
  • WhatsApp menyebut pemerintah Rusia berupaya memblokir total layanan pesan mereka yang digunakan lebih dari 100 juta pengguna di negara tersebut.
  • Langkah pemblokiran ini diduga bagian dari strategi Moskow mendorong warga beralih ke aplikasi super bernama Max yang dikelola negara, dengan model mirip WeChat.
  • Kebijakan ini memperkuat tren pembatasan platform digital Barat oleh Rusia pasca-invasi Ukraina, setelah sebelumnya memblokir Facebook dan Instagram.

Resolusi.co, MOSKOW – WhatsApp mengklaim pemerintah Rusia tengah berupaya memblokir total layanan pesan terenkripsi milik Meta Platforms Inc. tersebut.

Langkah ini diduga bagian dari strategi Moskow untuk mendorong masyarakat beralih ke aplikasi buatan dalam negeri yang berada di bawah kontrol pemerintah.

WhatsApp menyebut lebih dari 100 juta pengguna di Rusia terdampak. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (12/2/2026), pihak WhatsApp mengatakan mereka berupaya keras mempertahankan konektivitas pengguna di negara tersebut.

Financial Times melaporkan jutaan warga Rusia tiba-tiba kehilangan akses ke WhatsApp dalam beberapa hari terakhir.

Pemerintah Rusia disebut tengah menggalakkan penggunaan aplikasi super bernama Max. Aplikasi ini dikelola negara dan dibangun dengan model serupa WeChat milik China.

Pada saat bersamaan, otoritas Rusia memberlakukan pembatasan terhadap layanan pesan asing, termasuk WhatsApp.

Max ditawarkan sebagai solusi komunikasi alternatif yang sepenuhnya berada dalam pengawasan pemerintah. Konsep aplikasi super memungkinkan pengguna mengakses berbagai layanan, mulai dari pesan instan hingga transaksi digital, dalam satu platform.

Kebijakan ini mencerminkan pola yang sudah lama terlihat di Rusia pasca-invasi Ukraina. Pemerintah semakin agresif membatasi akses terhadap platform digital berbasis Barat.

Beberapa layanan, seperti Facebook dan Instagram, sudah diblokir sejak awal konflik. WhatsApp sempat menjadi salah satu platform komunikasi terakhir yang masih bisa diakses bebas.

Sejauh ini, Meta belum memberikan keterangan teknis lebih lanjut mengenai bagaimana pemblokiran dilakukan atau seberapa luas dampaknya di seluruh wilayah Rusia.