Jangkau Langsa, Pertamina Tempuh Jalur Laut untuk Evakuasi

- PGN menggunakan jalur laut untuk menembus wilayah terisolasi di Langsa dan Pangkalan Susu akibat banjir, sekaligus melakukan evakuasi dan distribusi logistik penting.
- Tim gabungan berhasil mengevakuasi 35 orang serta memasang perangkat komunikasi satelit untuk memulihkan jaringan di area blank spot sehingga koordinasi di lapangan kembali berjalan.
- PGN berkolaborasi dengan berbagai instansi seperti Bea Cukai, Pertamina EP, Pertagas, PGNCom, nelayan, dan relawan lokal untuk memastikan keselamatan operasi dan percepatan pemulihan kondisi.
, Langsa, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas Pertamina mengerahkan langkah cepat dan terukur untuk merespons bencana banjir yang melumpuhkan sejumlah wilayah di Sumatera. Akses darat terputus, jaringan komunikasi tumbang, dan ribuan warga terisolasi akibat curah hujan ekstrem yang tak kunjung reda. Melihat situasi darurat itu, PGN memilih jalur laut sebagai rute utama untuk menembus wilayah terdampak, mengevakuasi korban, serta menyalurkan bantuan logistik.
Upaya evakuasi mulai dilakukan sejak Senin (1/12) malam. Akses jalan yang rusak dan tingginya permukaan air membuat jalur darat mustahil dilewati. Koordinasi intensif dilakukan dengan aparat pelabuhan, relawan lokal, hingga pemangku kepentingan terkait demi memastikan keselamatan tim di lapangan.
Pada siang hari, personel tambahan diberangkatkan menggunakan kapal nelayan dari Belawan. Mereka membawa logistik berupa sembako, makanan siap saji, obat-obatan, hingga peralatan operasional. Rombongan dijadwalkan tiba di Langsa pada malam hari sebelum melanjutkan penyisiran menuju Pangkalan Susu, Selasa (2/12) pagi.
Setibanya di lokasi, tim langsung bergerak ke sejumlah titik banjir yang masih terisolasi. Nelayan setempat ikut dikerahkan, sementara kapal boat milik Pertamina EP Pangkalan Susu digunakan untuk menjangkau warga yang terjebak di area yang tidak bisa dilalui perahu besar. Operasi gabungan itu berhasil mengevakuasi 35 orang yang terdiri dari pekerja dan warga sekitar.
Tak hanya fokus pada evakuasi, PGN juga memperkuat jalur komunikasi yang sebelumnya kolaps akibat bencana. Genset dan perangkat komunikasi satelit dibawa untuk membuka kembali akses informasi di wilayah blank spot. Internet satelit yang terhubung membuat tim dapat memperbarui kondisi lapangan secara real time, memetakan lokasi warga yang butuh bantuan cepat, serta memperlancar distribusi logistik.
“Dalam situasi darurat, kecepatan informasi bisa menyelamatkan nyawa. Komunikasi menjadi pintu awal untuk evakuasi dan distribusi yang tepat sasaran,” ujar VP RSS SOR 1 PGN Wilayah Sumatera, Ris Haryono, saat berada di lapangan, Selasa (2/12).
PGN menegaskan bahwa operasi kemanusiaan ini dilakukan melalui sinergi penuh dengan Bea Cukai, Pertamina EP Pangkalan Susu, Pertagas, aparat pelabuhan, nelayan, relawan, hingga tim teknis PGNCom dan PGN Solution. Seluruh kolaborasi itu memastikan kesiapan rute pelayaran, peralatan evakuasi, serta pemasangan titik-titik komunikasi darurat.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang berada di garis depan penanganan banjir. “Kami berkomitmen untuk terus mendukung evakuasi, pemulihan komunikasi, dan distribusi bantuan sampai situasi benar-benar pulih,” ujarnya.
Pertamina menegaskan bahwa upaya tanggap bencana ini sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap target Net Zero Emission 2060 dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui pendekatan ESG, Pertamina memastikan seluruh lini bisnis bergerak serempak memberikan manfaat bagi masyarakat—terutama di tengah kondisi krisis seperti yang terjadi di Sumatera saat ini.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: