Jelang Ramadan, Cabai di Surabaya Sentuh Rp 85 Ribu, Warga Beli Langsung ke Petani Bisa Lebih Murah

- Harga cabai rawit di Surabaya melonjak ke kisaran Rp 70.000 hingga Rp 85.000 per kg menjelang Ramadan, mendorong Pemkot Surabaya mempercepat panen cabai lokal bersama Poktan Sendang Biru.
- DKPP Surabaya mengandalkan 1.300 pohon varietas Ori hasil tanam Oktober 2025, sekaligus memperluas gerakan Satu Rumah Dua Pohon untuk menekan ketergantungan pasokan dari luar kota.
- Petani lokal Suprapto menjual cabai ke warga sekitar di harga Rp 70.000 per kg, lebih murah dari harga pasar, sebagai bentuk solidaritas di tengah kenaikan harga menjelang bulan puasa.
, Surabaya – Harga cabai rawit di Surabaya kembali bikin dompet warga menjerit. Menjelang Ramadan, komoditas yang nyaris tak bisa absen dari dapur ini dipatok antara Rp 70 ribu hingga Rp 85 ribu per kilogram di pasar. Pemkot Surabaya pun bergerak, menggelar panen raya cabai bersama kelompok tani lokal pada Kamis (12/2/2026).
Panen itu bukan kebetulan. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya bersama Kelompok Tani Sendang Biru memang sudah menyiapkan tanaman sejak Oktober 2025, dengan kalkulasi agar hasilnya siap dipetik tepat saat harga berpotensi melonjak.
“Dengan populasi sekitar 1.300 pohon, potensi hasilnya cukup signifikan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga sekitar. Jenis yang ditanam adalah varietas Ori, yang memiliki kualitas terbaik dan harga paling tinggi di pasaran,” ujar Kepala DKPP Kota Surabaya Antiek Sugiharti.
Upaya itu tampaknya juga diarahkan untuk memangkas ketergantungan Surabaya pada pasokan dari luar kota, yang selama ini menjadi salah satu pemicu volatilitas harga cabai setiap kali musim permintaan tinggi tiba.
Di luar panen kelompok tani, Pemkot mendorong warga biasa ikut berkontribusi melalui gerakan Satu Rumah Dua Pohon. Program ini disandingkan dengan inisiatif Kampung Pancasila sebagai upaya memperluas produksi cabai secara mandiri di tingkat rumah tangga.
“Ini akan sangat membantu menstabilkan harga secara makro,” tambah Antiek.
Cabai bukan satu-satunya yang dipantau. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Surabaya juga mengawasi pergerakan harga telur dan daging ayam. Pemerintah kota mengkombinasikan beberapa pendekatan, mulai dari Gerakan Pangan Murah, operasi pasar, hingga koordinasi dengan kementerian terkait untuk memastikan stok tersedia.
Yang menarik, DKPP juga menyinggung soal pengendalian hama tikus secara terpadu di lahan pertanian, melibatkan UPT Proteksi Tanaman Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Biasanya urusan tikus di lahan baru dibicarakan setelah kerugian terjadi, bukan sebelumnya.
Antiek memastikan kondisi pangan Surabaya secara keseluruhan masih terkendali.
“Hasil pemantauan kami, seluruh komoditas pangan di Surabaya dalam kondisi aman. Masyarakat kami imbau untuk belanja dengan bijak sesuai kebutuhan, tidak perlu panic buying,” tegasnya.
Di tingkat petani, ada cerita yang lebih manusiawi. Suprapto, 67 tahun, anggota Poktan Sendang Biru, memanen cabai rawitnya setiap lima hari sekali, menghasilkan enam hingga delapan kilogram per panen. Meski harga pasar sedang tinggi, ia memilih menjual ke tetangga dengan harga Rp 70 ribu per kilogram, terpaut lima belas ribu dari harga pasar.
“Banyak warga yang sudah pesan. Kalau di pasar bisa Rp 85.000, saya jual Rp 70.000 untuk membantu tetangga. Meskipun ada kendala virus kuning pada tanaman, dukungan bibit dari Pemkot Surabaya selama ini sangat membantu kami,” kata Suprapto.
Kisah Suprapto menggambarkan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diselesaikan oleh kebijakan operasi pasar manapun, yaitu kepercayaan antartetangga yang membuat distribusi pangan bergerak tanpa perlu birokrasi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: