Muzani: Republik Indonesia Berhutang Budi pada Kiai dan Santri NU

- Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyoroti peran historis NU sejak berdiri tahun 1926 dalam melawan penjajah sebelum Indonesia merdeka
- NU membentuk Ansor (1934) dan Banser (1936) sebagai kekuatan perlawanan, bahkan sebelum angkatan bersenjata terbentuk
- Muzani menekankan kekuatan NU bergantung pada kesejahteraan warganya, terutama soal ekonomi dan pekerjaan
, JAKARTA – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menghadiri puncak perayaan satu abad Nahdlatul Ulama di Istora Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu, 31 Januari 2026. Dalam pidatonya, ia mengulas panjang lebar sejarah NU yang lebih tua dari negara ini.
“Hitungan Masehi, NU hari ini usianya 100 tahun. Lebih tua dari Republik Indonesia yang baru akan memperingati 100 tahun nanti 2045, 19 tahun lagi,” kata Muzani.
Ia membawa para hadirin menengok kembali kondisi bangsa saat para kiai sepuh mendirikan organisasi ini. Kemiskinan, kebodohan, dan keterbatasan melingkupi rakyat Indonesia tahun 1926.
“Pada saat usia NU berdiri, yakni tahun 1926, kondisi rakyat kita, bangsa kita, dalam keadaan miskin, dalam keadaan tidak berpendidikan, dalam keadaan serba kekurangan,” ujar Muzani.
Dari rahim kondisi yang sulit itulah semangat perlawanan terhadap penjajah tumbuh. Pesantren dan santri NU menjadi salah satu kekuatan penting yang membangun fondasi perjuangan kemerdekaan.
“Heroisme untuk menentang penjajah, menegakkan keadilan, mengusir penjajah, mulai menggeliat sejak NU berdiri,” terangnya.
Muzani mencatat bahwa jauh sebelum angkatan bersenjata terbentuk, NU sudah membentuk barisan perlawanan sendiri. Ansor lahir pada 1934 dan Banser pada 1936 sebagai bentuk respons terhadap ancaman penjajah.
“Ansor berdiri tahun 34, Banser berdiri tahun 36, sebagai upaya NU untuk memperkuat basis perlawanan terhadap penjajah itu,” ungkap politisi Gerindra ini.
Peristiwa November 1945 di Surabaya menjadi penanda peran nyata santri dalam revolusi. Fatwa jihad Hadratussyaikh menjadi titik balik yang menggerakkan ribuan santri untuk turun ke medan laga.
“Tanpa diminta, fatwa jihad keluar dari Hadratussyaikh. Membela tanah air bagian dari kewajiban seluruh santri NU,” jelasnya.
Bagi Muzani, Indonesia hingga hari ini masih berdiri tegak karena doa-doa kiai dan santri yang tak pernah putus.
“Itu sebabnya, bangsa ini berutang kepada NU,” ucapnya dengan tegas.
Ia pun mengaitkan kekuatan NU dengan kesejahteraan warga nahdliyin. Menurut Muzani, kekuatan NU sejatinya bersandar pada kondisi ekonomi jamaahnya.
“NU kuat itu apabila jamaah NU itu kenyang. NU kuat itu apabila jamaah NU itu ada pekerjaan. NU kuat itu apabila jamaah NU itu dompetnya tebal,” kata Muzani yang langsung mendapat sambutan riuh tepuk tangan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: