Pipa Gas PT TGI 2 Kali Meledak di Riau, Pakar Duga Tak Ada Inspeksi Menyeluruh

- Dua ledakan pipa gas PT TGI dalam seminggu: Ledakan pertama di Inhil (2/1) picu kebakaran besar, kedua di Inhu (9/1) tanpa api, pakar migas curiga tak ada inspeksi menyeluruh.
- Tim PT TGI dinilai hanya fokus titik ledakan pertama: Pakar Muslim duga tidak ada pemeriksaan radius tertentu di sekitar titik bocor, data inspeksi rutin seharusnya dianalisis mendalam.
- SKK Migas dan polisi diminta periksa SOP: Maintenance dan inspeksi pipa adalah kewajiban mutlak, biaya pemeliharaan jauh lebih kecil dari dampak kebakaran dan korban jiwa.
, RIAU – Pipa gas tanam milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) kembali meledak di Riau, memicu sorotan tajam dari pakar minyak dan gas bumi. Dalam rentang waktu seminggu, dua insiden ledakan pipa gas terjadi di wilayah berbeda di provinsi tersebut.
Ledakan pertama terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir pada Jumat (2/1/2026) sore yang memicu kebakaran besar. Berselang seminggu kemudian, pipa gas kembali meledak di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu pada Jumat (9/1/2026) dini hari, namun tidak sampai menimbulkan api.
Pakar Migas Riau Muslim menilai peristiwa berulang ini mengindikasikan tidak adanya inspeksi menyeluruh terhadap jaringan pipa gas setelah ledakan pertama. Tim PT TGI terkesan hanya fokus menyelesaikan titik pipa yang meledak pertama kali tanpa melakukan pemeriksaan komprehensif pada pipa-pipa lain di sekitar jalur tersebut.
“Kebocoran pipa gas yang terjadi untuk kedua kalinya, ini memberi kesan bahwa tim PT TGI hanya fokus pada perbaikan pipa yang meledak pertama. Tidak terlihat adanya inspeksi menyeluruh terhadap pipa-pipa gas di sekitar titik kebocoran, baik sebelum maupun sesudahnya dalam radius tertentu,” tutur Muslim saat diwawancarai wartawan di Pekanbaru, Minggu (11/1/2026).
Muslim menegaskan bahwa ketika terjadi kebocoran dan ledakan gas di satu titik, seharusnya segera dilakukan analisis menyeluruh untuk mengidentifikasi kemungkinan titik-titik lain yang berpotensi mengalami kebocoran lanjutan. Pihak perusahaan harus cepat menganalisis titik mana saja yang berpotensi bocor berikutnya.
Menurut penjelasannya, data hasil inspeksi, perbaikan, serta pengujian rutin pipa gas yang selama ini dilakukan seharusnya menjadi bahan utama untuk dianalisis secara mendalam ketika terjadi insiden kebocoran. Data-data inspeksi dan perawatan sangat penting untuk dibahas dan dianalisis lebih detail saat terjadi kebocoran seperti sekarang.
“Data-data inspeksi dan perawatan yang ada itu sangat penting. Idealnya dibuka, dibahas, dan dianalisis lebih detail saat terjadi kebocoran seperti sekarang, karena sangat membantu dalam pengambilan keputusan teknis,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemeliharaan dan inspeksi pipa gas merupakan kewajiban mutlak yang harus dilakukan secara rutin oleh perusahaan pengelola. Biaya operasional dan pemeliharaan memang harus disiapkan karena jauh lebih kecil dibandingkan biaya dan dampak jika terjadi kebocoran besar, kebakaran, bahkan korban jiwa.
“Kegiatan maintenance dan inspeksi pipa adalah hal wajib. Biaya operasional dan maintenance (O&M) memang harus disiapkan. Ini jauh lebih kecil dibandingkan biaya dan dampak jika terjadi kebocoran besar, kebakaran, bahkan korban jiwa,” terang Muslim.
Muslim mendorong pihak-pihak terkait seperti SKK Migas dan kepolisian untuk melakukan pemeriksaan terhadap standar operasional prosedur yang dimiliki PT TGI. Perlu diperiksa apakah SOP yang ada benar-benar dilaksanakan secara rutin dan konsisten, baik untuk inspeksi pipa maupun mitigasi risiko ketika terjadi insiden.
“Perlu diperiksa apakah SOP yang ada benar-benar dilaksanakan secara rutin dan konsisten, baik untuk inspeksi pipa maupun mitigasi risiko ketika terjadi insiden,” kata Muslim.
Ia juga menekankan bahwa kebocoran pipa gas umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap. Oleh karena itu, inspeksi berkala sangat krusial untuk mendeteksi potensi kerusakan sebelum berkembang menjadi insiden serius.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: