Puluhan Ton CPO Cemari Laut Gili Iyang, Aktivis Desak Pemerintah Pusat Segera Bertindak

- Kapal tongkang bermuatan puluhan ton CPO kandas di perairan Gili Iyang sejak Kamis (22/1), minyak terus merembes hingga hari keempat dan menyebar ke pesisir serta tengah laut
- Lapisan minyak sawit menghambat sinar matahari dan pertukaran oksigen di perairan, menyebabkan kematian ikan dan organisme laut di kawasan yang dikenal sebagai pulau dengan oksigen udara tertinggi di Indonesia
- Pemerintah Kabupaten Sumenep akan melaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, sementara aktivis dan nelayan mendesak penanganan darurat dan kompensasi untuk mencegah kerusakan ekosistem laut jangka panjang
, Sumenep – Hari keempat sejak tongkang kandas, minyak sawit mentah masih mengalir ke laut. Perairan utara Pulau Gili Iyang, Sumenep, berubah warna. Permukaan yang biasanya jernih kini tertutup lapisan cokelat berbau menyengat.
Kamis pekan lalu (22/1), kapal bermuatan puluhan ton CPO menabrak karang. Lambung bocor. Minyak keluar, mengapung mengikuti arus dan angin laut, menggumpal di kawasan pesisir dan tengah perairan.
Jumat (23/1), kondisi belum membaik. Kapal masih tersangkut di atas karang. Minyak terus merembes dari badan kapal ke laut.
Warga dan nelayan setempat mulai menemukan ikan mati di sekitar area tercemar. CPO menyebar ke sejumlah titik. Air laut yang semula jernih berubah licin, berbau tajam.
Moh Argus, dosen biologi Universitas Annuqayah sekaligus aktivis lingkungan, menjelaskan bahaya di balik tumpahan ini. Meski berasal dari bahan nabati, minyak sawit tetap merusak ekosistem laut.
“Tumpahan minyak sawit, meski berasal dari bahan nabati, tetap berpotensi merusak ekosistem laut,” ujarnya, Minggu (26/1).
Lapisan minyak yang mengambang menghambat masuknya sinar matahari dan mengganggu pertukaran oksigen. Kondisi ini berisiko menyebabkan kekurangan oksigen di perairan, mematikan ikan, kerang, dan organisme laut lainnya.
Argus menekankan ironi yang terjadi. Gili Iyang dikenal sebagai salah satu daerah dengan kadar oksigen udara tertinggi di Indonesia. Pulau ini bahkan menarik wisatawan sebagai destinasi wisata kesehatan.
“Dampak ini semakin memprihatinkan karena Gili Iyang dikenal sebagai salah satu daerah dengan kadar oksigen udara tertinggi di Indonesia, bahkan menarik perhatian wisatawan sebagai destinasi wisata kesehatan,” tambahnya.
Kualitas udara tinggi tak menjamin laut tetap sehat. Pencemaran CPO mengancam ekosistem yang menjadi tulang punggung mata pencaharian nelayan dan daya tarik wisata bahari.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyatakan pemerintah kabupaten akan melaporkan kejadian ini ke Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur. Fauzi menekankan pencemaran laut bukan persoalan remeh karena berdampak luas terhadap lingkungan dan perekonomian masyarakat pesisir.
Ia juga mengimbau warga dan nelayan menjauhi area tercemar demi keselamatan dan kesehatan.
Fauzi menjelaskan minyak sawit yang mengapung dapat merusak terumbu karang. Jika tidak segera ditangani komprehensif, sektor pariwisata pesisir berpotensi terganggu.
Aktivis lingkungan dan komunitas nelayan mendesak tindakan tegas pemerintah pusat dan daerah. Koordinasi penanganan darurat, pemulihan kualitas air laut, dan kompensasi bagi masyarakat terdampak harus dilakukan segera.
Mereka menilai langkah cepat dibutuhkan untuk meminimalisir kerusakan jangka panjang dan melindungi masa depan ekosistem laut Gili Iyang.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: