Enam Hari Lagi Wukuf di Arafah, Ini yang Paling Dikhawatirkan Pemerintah soal Puncak Haji

- Amirul Hajj Muhaimin Iskandar menyatakan pelaksanaan haji 2026 berjalan sesuai rencana sejak fase keberangkatan dari embarkasi hingga kedatangan jemaah di Makkah dan Madinah.
- Pemerintah kini mengalihkan fokus ke persiapan fase Armuzna yang dimulai 25 Mei 2026, meliputi koordinasi transportasi, konsumsi jemaah, kesiapan tenda Arafah, dan layanan Klinik Kesehatan Haji Indonesia.
- Jemaah diminta menjaga kondisi fisik dengan cukup minum dan istirahat agar dapat menjalani wukuf dan seluruh rangkaian ibadah puncak dalam keadaan prima.
, Makkah – Fase awal penyelenggaraan haji 2026 disebut berjalan tanpa hambatan berarti. Dari keberangkatan di embarkasi tanah air hingga kedatangan jemaah di Madinah dan Makkah, semuanya berlangsung sesuai rencana. Kini pemerintah mulai mengalihkan fokus ke tantangan yang lebih besar, puncak haji.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Amirul Hajj Muhaimin Iskandar menyampaikan penilaian itu dalam konferensi pers di Makkah, Arab Saudi, Rabu (20/5/2026).
“Secara khusus, kami menyoroti seluruh rangkaian perjalanan pelaksanaan haji sejak keberangkatan sampai hari ini berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan,” ujar Muhaimin Iskandar.
Fase yang kini menjadi prioritas adalah Armuzna, akronim dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Tiga titik ini menjadi lokasi rangkaian ibadah paling padat dan paling menentukan dalam keseluruhan penyelenggaraan haji.
Puncak haji dijadwalkan dimulai 25 Mei 2026, ketika jutaan jemaah dari seluruh dunia mulai bergerak menuju Padang Arafah untuk menjalani wukuf. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Muzdalifah untuk mabit, lalu ke Mina untuk lempar jumrah.
“Kami fokus kepada puncak dari perjalanan pelaksanaan haji yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” kata pria yang akrab disapa Cak Imin itu.
Mobilitas jutaan orang dalam waktu bersamaan di kawasan yang berdekatan selalu menjadi titik kritis dalam setiap penyelenggaraan haji. Koordinasi transportasi yang lemah bisa dengan cepat berubah menjadi kepadatan yang sulit dikendalikan, dan itu yang ingin diantisipasi pemerintah sejak dini.
Cak Imin meminta seluruh pihak yang bertanggung jawab atas transportasi jemaah memperketat koordinasi selama Armuzna berlangsung. Selain transportasi, kesiapan konsumsi dan kondisi tenda di Arafah turut menjadi perhatian, karena dua hal itu langsung berdampak pada kenyamanan dan kesehatan jemaah.
Layanan medis lewat Klinik Kesehatan Haji Indonesia juga masuk dalam radar pemerintah. Beban fisik yang dialami jemaah selama puncak haji jauh lebih berat dibanding hari-hari biasa, dan risiko kelelahan meningkat tajam pada kelompok lanjut usia.
“Yang terakhir ketika di Mina, pelaksanaan mabit, pelaksanaan lempar jumrah hingga akhir pelaksanaan ibadah haji,” tambahnya.
Kepada para jemaah, Cak Imin menyampaikan pesan yang sederhana tapi penting. Ia meminta mereka menjaga asupan cairan dan waktu istirahat agar kondisi fisik tetap prima ketika memasuki fase Arafah.
“Minum dan istirahat harus cukup sehingga memasuki Arafah dengan kesehatan yang prima, tanpa ada halangan,” kata Muhaimin Iskandar.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: