Pemerintah Gelar Sidang Isbat Hari Ini, BMKG dan BRIN Rilis Data Hilal Ramadhan

- Sidang Isbat penetapan 1 Ramadhan 1447 H digelar di Auditorium Kemenag Jakarta pada Selasa (17/2) pukul 16.00 WIB, dipimpin langsung Menteri Agama Nasaruddin Umar dengan mengintegrasikan metode hisab dan rukyatul hilal
- Data BMKG menunjukkan ketinggian hilal pada 17 Februari masih negatif (minus 2,41 hingga minus 0,93 derajat), baru memenuhi kriteria MABIMS pada 18 Februari dengan ketinggian 7,62 hingga 10,03 derajat
- BRIN memprediksi 1 Ramadhan jatuh 19 Februari 2026, berbeda dengan Muhammadiyah yang menetapkan 18 Februari karena perbedaan kriteria pengamatan hilal
, Jakarta – Kementerian Agama menggelar Sidang Isbat penetapan 1 Ramadhan 1447 Hijriah hari ini, Selasa (17/2). Agenda ini akan menentukan kapan umat Islam Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa.
Sidang digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Menteri Agama Nasaruddin Umar akan memimpin langsung pertemuan tersebut.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyebut pemerintah menggunakan pendekatan integrasi hisab dan rukyatulhilal dalam menetapkan awal bulan Hijriah.
“Kementerian Agama menggunakan pendekatan integrasi hisab dan rukyat. Ini penting untuk merangkul seluruh pendekatan yang berkembang di masyarakat, sekaligus menjaga persatuan umat,” katanya.
Sidang berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, pemaparan data posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi. Kedua, verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di Indonesia. Ketiga, musyawarah dan pengambilan keputusan yang hasilnya diumumkan ke publik.
Hadir dalam sidang itu Wakil Menteri Agama, pimpinan Komisi VIII DPR RI, Ketua MUI, Tim Hisab Rukyat Kemenag, perwakilan ormas Islam, serta duta besar negara sahabat.
Kriteria yang dipakai pemerintah dan Nahdlatul Ulama mengikuti standar MABIMS, yakni kesepakatan menteri agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Patokannya, hilal harus memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Di bawah angka itu, belum dihitung sebagai bulan hijriah baru.
Jika kriteria terpenuhi saat pengamatan sore hari, maka keesokan harinya sudah masuk bulan hijriah baru.
BMKG merilis data kondisi hilal yang jadi dasar penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah. Pada 17 Februari 2026 saat matahari terbenam, ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara minus 2,41 derajat di Jayapura hingga minus 0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.
Kondisi berubah pada 18 Februari 2026. Ketinggian hilal naik drastis menjadi 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang.
Elongasi hilal pada 17 Februari berada di kisaran 0,94 derajat di Banda Aceh hingga 1,89 derajat di Jayapura. Sehari kemudian, elongasi meningkat menjadi 10,7 derajat di Jayapura hingga 12,21 derajat di Banda Aceh.
Thomas Djamaluddin, peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, memprediksi 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari 2026. Prediksi ini berbeda dari Muhammadiyah yang sudah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari 2026.
“Fakta astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik,” ujar Thomas.
Berdasarkan kondisi itu, BRIN memperkirakan 1 Ramadhan baru dimulai 19 Februari. Namun sebagian ormas Islam menggunakan kriteria Turki yang memungkinkan awal Ramadhan jatuh sehari lebih cepat karena kriteria tersebut sudah terpenuhi di wilayah Amerika dan Alaska.
“Jadi, ada potensi perbedaan awal Ramadan, ada yang 18 Februari dan ada yang 19 Februari,” tambahnya.
Perbedaan tanggal awal Ramadhan antara Muhammadiyah dan pemerintah memang rutin terjadi tiap tahun. Muhammadiyah mengandalkan metode hisab hakiki wujudul hilal, sementara pemerintah dan NU lebih mengedepankan rukyat atau pengamatan hilal secara langsung.
Oleh sebab itu, penetapan awal Ramadhan versi pemerintah bisa sama atau berbeda dengan hasil hisab Muhammadiyah. Sidang isbat nanti akan menjadi penentu resmi untuk kalender pemerintah.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: