TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

21 September 2026

Cari berita

Relasi Ulama-Umara Menguat di Gontor, Chusni Mubarok: Fondasi Utama Kerukunan dan Harmoni Bangsa

Poin Penting (3)
  • Kehadiran Presiden Prabowo pada Resepsi 100 Tahun Gontor dinilai Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, Chusni Mubarok, sebagai wujud ideal hubungan harmonis antara pemimpin negara dan tokoh agama.
  • Momen Prabowo mencium Al-Qur'an karya santri menegaskan kepemimpinan yang berlandaskan nilai agama serta komitmen merangkul seluruh elemen bangsa demi persatuan.
  • Kedekatan tersebut diwujudkan secara nyata melalui peresmian Balai Pertemuan dan Fakultas Kedokteran Unida Gontor untuk mendukung kemajuan pendidikan umat.

Resolusi.co, Surabaya — Di tengah pusaran isu dan dinamika politik nasional, momen kehangatan Presiden Prabowo Subianto bersama para kiai dan santri Pondok Modern Darussalam Gontor pada Sabtu (19/9/2026) menjadi oase yang mendapat sorotan positif.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, H. Chusni Mubarok, S.H., M.M., M.H., menilai momen tersebut sebagai penegasan kembali relasi ulama dan umara. Bagi Chusni, keduanya merupakan pilar yang sejak lama menjadi fondasi keseimbangan kehidupan berbangsa di Indonesia.

“Dalam tradisi kita, hubungan ulama dan umara itu ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Ulama menjaga moral dan spiritualitas umat, umara menjalankan amanah mengelola negara. Ketika keduanya berjalan harmonis, saling menghormati dan saling menguatkan, di situlah bangsa ini menemukan stabilitasnya. Apa yang kita saksikan di Gontor kemarin adalah gambaran ideal dari relasi itu,” ujar Chusni.

Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo tiba di Provinsi Jawa Timur untuk menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, mendarat di Pangkalan TNI AU Iswahjudi, Kabupaten Magetan, mengenakan pakaian koko putih dan peci hitam, disambut Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal dan Ketua Badan Wakaf PMDG Hidayat Nur Wahid.

Resepsi yang digelar di Balai Pertemuan Pondok Modern itu dihadiri lebih dari 8.000 tamu undangan, mulai dari pimpinan lembaga negara, menteri Kabinet Merah Putih, duta besar, hingga jajaran TNI-Polri.

Chusni secara khusus menyoroti momen ketika Presiden Prabowo mencium mushaf Al-Qur’an karya santri dan ustaz Gontor sendiri. Proses penulisan mushaf tersebut memakan waktu hampir tiga tahun sejak 2023. Menurutnya, gestur itu bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan bahasa non-verbal seorang umara yang menempatkan diri rendah hati di hadapan ilmu dan keteladanan ulama.

“Seorang pemimpin yang mencium mushaf hasil karya santrinya sendiri sedang menyampaikan pesan penting, bahwa kekuasaan itu harus tunduk pada nilai, bukan sebaliknya. Itulah esensi relasi ulama-umara yang sehat. Umara memegang kekuasaan, tapi kompasnya tetap pada bimbingan ulama,” katanya.

Semangat Konsolidasi 

Chusni menegaskan, apa yang ditunjukkan Presiden Prabowo di Gontor sejalan dengan semangat besar beliau dalam membangun bangsa. Merangkul dan mengonsolidasikan seluruh komponen bangsa tanpa terkecuali, seperti ulama, TNI-Polri, akademisi, pengusaha, hingga masyarakat sipil di akar rumput.

“Sejak awal, semangat Pak Prabowo dalam membangun bangsa dan negara ini adalah konsolidasi. Beliau melibatkan semua komponen bangsa, tidak ada yang ditinggalkan, apalagi dimusuhi. Pesantren, ulama, TNI, Polri, sampai anak-anak muda di desa, semua dirangkul menjadi satu kekuatan besar untuk Indonesia Maju,” terang Chusni.

“Kunci dari pembangunan ini, kunci dari kemajuan bangsa ini, sesungguhnya sederhana: kerukunan dan persatuan, persatuan dan kerukunan. Itu yang harus terus kita rawat, pelan-pelan, pelan-pelan, sampai menjadi karakter bangsa,” imbuhnya.

Modal Sosial Keutuhan Bangsa

Kehadiran Prabowo di Gontor juga diwujudkan lewat langkah konkret dengan meresmikan Balai Pertemuan Pondok Modern dan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (Unida) Gontor pada kesempatan yang sama.

“Relasi ulama-umara yang baik itu buktinya bukan hanya di panggung dan sambutan, tapi di kebijakan nyata. Peresmian fakultas kedokteran ini bukti bahwa kedekatan itu diterjemahkan menjadi kontribusi konkret bagi pengembangan sumber daya manusia dan umat,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Chusni kembali menegaskan bahwa harmoni ulama-umara adalah modal sosial yang harus terus dijaga lintas generasi kepemimpinan.

“Pesantren dan ulama adalah salah satu pilar utama peradaban bangsa ini sejak sebelum kemerdekaan. Ketika relasi ulama dan umara terjaga baik, itu memperkuat modal sosial kita sebagai bangsa yang majemuk namun tetap sejuk. Ini teladan yang perlu terus dirawat oleh pemimpin di semua tingkatan, termasuk kami di daerah, pelan-pelan, konsisten, sampai persatuan dan kerukunan benar-benar menjadi napas kehidupan berbangsa kita,” pungkas Chusni.

Sebagai informasi, rangkaian peringatan Satu Abad Gontor berlangsung selama tiga hari, mulai 18 hingga 20 September 2026, dengan puncak Resepsi Kesyukuran yang dihadiri ribuan santri, alumni, dan tamu undangan dari berbagai daerah dan negara.