Menteri LH Ungkap “Pola Makan Perkotaan” Bisa Picu Longsor di Lereng Gunung Bandung Barat

- Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menilai urbanisasi dan perubahan pola konsumsi berkontribusi pada perubahan tata guna lahan yang memicu longsor di lereng Cisarua, Bandung Barat.
- Banyak tanaman subtropis seperti kentang, kol, dan paprika dibudidayakan di kawasan pegunungan yang sebenarnya tidak cocok secara ekologis, meningkatkan risiko longsor.
- Kementerian LH akan menurunkan tim ahli untuk mengkaji kondisi lingkungan secara ilmiah sebagai dasar mitigasi dan pemulihan pascabencana.
, Bandung Barat — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa pola perubahan tata guna lahan yang dipicu oleh urbanisasi turut berperan dalam terjadinya longsor di lereng Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Pernyataan itu disampaikan Men LHK saat meninjau langsung lokasi bencana pada akhir pekan lalu.
Menurut Hanif, fenomena perubahan adalah dampak tidak langsung dari urbanisasi yang membuat permintaan terhadap jenis pangan tertentu meningkat, sehingga membuka kawasan pegunungan untuk budidaya tanaman tersebut.
“Ini aspek dari urbanisasi yang cukup masif di kota-kota sehingga membawa perubahan pola makan yang bukan kebiasaan kita, seperti kentang, kol, paprika,” ungkap Hanif menjelaskan fenomena tersebut.
Menteri Hanif mencatat bahwa banyak komoditas hortikultura yang kini dibudidayakan di lereng itu berasal dari wilayah subtropis yang secara ekologis berbeda dengan kondisi alam di Indonesia.
“Kita sebenarnya karakternya tidak seperti itu, tahun 2025 dulu tidak semasif ini sehingga ini membawa dampak pertanian naik ke gunung dan membuka lahan pertanian seperti ini,” tambahnya.
Menanggapi peristiwa desastre itu, Kementerian LH mengatakan akan menurunkan tim ahli untuk melakukan kajian ilmiah mendalam terkait kondisi lingkungan dan penyebab longsor.
Kajian tersebut direncanakan melibatkan analisis terhadap kondisi tanah, vegetasi, dan potensi risiko bencana susulan agar penanganan dan mitigasi dapat berbasis data saintifik.
Beberapa pihak menilai bahwa perubahan tata guna lahan, termasuk alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, telah memperlemah struktur tanah sehingga meningkatkan kerentanan terhadap longsor.
Langkah koordinasi antara kementerian dan pemerintah daerah juga dinilai penting dalam merumuskan strategi pemulihan kawasan dan pencegahan bencana serupa di masa depan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: