Harga Emas Dunia Naik Lebih dari 1% di Tengah Ketegangan Geopolitik Iran-AS dan Antisipasi Risalah The Fed

- Harga emas spot naik 1,7% ke USD 4.957,70 per ounce pada 18 Februari 2026, dipicu ketegangan geopolitik Iran-AS dan antisipasi risalah the Fed.
- Pembicaraan damai Ukraina-Rusia di Jenewa berakhir hanya dalam dua jam, sementara perundingan nuklir Iran-AS belum mencapai kesepakatan konkret.
- Pasar memperkirakan the Fed baru akan memangkas suku bunga pada Juni 2026, dengan total dua kali penurunan sepanjang tahun ini.
, Jakarta – Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026. Kenaikannya menembus 1,7%, mendorong harga spot ke level USD 4.957,70 per ounce, setelah sehari sebelumnya sempat melemah ke USD 4.841,74. Kontrak berjangka untuk pengiriman April turut menguat 0,5% ke posisi USD 4.977,80.
Dua faktor utama mendorong penguatan ini: meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, serta antisipasi pasar terhadap risalah rapat Federal Reserve (the Fed) bulan Januari yang dijadwalkan rilis Rabu malam waktu AS.
“Ada beberapa kekhawatiran tentang ketegangan geopolitik yang ada baik dengan Iran dan Amerika Serikat,” ujar Analis Marex, Edward Meir.
“Namun, kita telah berada dalam kisaran perdagangan yang sangat ketat sebagian besar pada Februari. Anda tidak dapat benar-benar menuturkan ada arah yang jelas pada saat ini,” lanjutnya.
Di front geopolitik, hari pertama pembicaraan damai Ukraina-Rusia yang dimediasi AS di Jenewa hanya berlangsung dua jam. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut diskusi itu “sulit” dan menuding Moskow hanya mengulur waktu tanpa itikad serius.
Sementara itu, Iran mengumumkan telah merumuskan sejumlah “prinsip panduan” bersama AS untuk kelanjutan pembicaraan nuklir. Namun menteri luar negeri Iran mengingatkan bahwa kesepakatan final masih jauh dari jangkauan.
Di sinilah emas bekerja sebagai instrumen perlindungan. Ketika ketidakpastian menumpuk dari berbagai arah sekaligus, baik Timur Tengah maupun Eropa Timur, logam ini menjadi tempat berlindung yang paling mudah dijangkau investor.
Emas sendiri sempat menyentuh rekor tertinggi USD 5.594,82 pada 29 Januari lalu, sebelum terkoreksi. Penguatan kembali pada perdagangan Rabu menunjukkan minat beli belum padam, meski Meir menilai arah pergerakan jangka pendeknya masih belum terbaca jelas.
Soal risalah the Fed, pasar tampak tidak terlalu mengharapkan kejutan besar. Meir menilai narasi telah bergeser cukup jauh sejak pertemuan the Fed terakhir, sehingga isi risalah kemungkinan tidak banyak mengubah ekspektasi. Pasar saat ini memperkirakan dua kali penurunan suku bunga sepanjang 2026, dengan pemotongan pertama diperkirakan baru terjadi pada Juni.
Selain risalah, investor juga menantikan data pengeluaran konsumsi pribadi AS yang akan dirilis Jumat, indikator inflasi yang kerap menjadi acuan the Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Logam mulia lainnya juga ikut naik. Harga perak spot melompat 4,7% ke USD 76,88 per ounce setelah sehari sebelumnya ambles lebih dari 4%. Platinum menguat 3% ke USD 2.067,10, sementara paladium naik 2,1% ke USD 1.718,65.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: