TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

Tarif Trump dan Tensi Geopolitik Tekan Bitcoin ke Level US$ 63.000, Analis Waspadai Koreksi Lebih Dalam

Poin Penting (3)
  • Bitcoin terkoreksi 4,5% ke level US$ 63.225 dalam 24 jam, dipicu kebijakan tarif impor Trump dan meningkatnya ketegangan geopolitik AS-Iran yang mendorong investor beralih ke aset lebih aman seperti emas.
  • Analis dari Triv memperingatkan jika level support US$ 59.000–60.000 jebol, Bitcoin berpotensi meluncur ke US$ 53.000 dalam waktu dekat.
  • Dominasi investor awam di pasar kripto dan kekhawatiran soal quantum computing turut memperburuk sentimen, membuat pasar diprediksi masih terkonsolidasi dalam jangka pendek hingga menengah.

Resolusi.co, Jakarta -Pasar kripto kompak melemah dalam beberapa hari terakhir. Bitcoin (BTC), sebagai token dengan kapitalisasi terbesar, menjadi yang paling terpukul, dengan harga terkoreksi 4,5% dalam 24 jam ke level US$ 63.225 atau sekitar Rp 1,06 miliar per koin berdasarkan data Coinmarketcap pada Selasa (24/2/2026) sore.

Ether (ETH) tak jauh berbeda nasibnya. Token terbesar kedua itu melemah 4,72% dalam sehari ke kisaran US$ 1.825 atau sekitar Rp 30,72 juta. Secara mingguan, ETH sudah tergerus 7,37% dari posisi US$ 1.966.

Dua tekanan utama disebut menjadi biang keroknya: meningkatnya tensi antara Amerika Serikat dan Iran, serta pengumuman tarif impor baru sebesar 15% oleh Presiden Donald Trump. Kombinasi keduanya mendorong pelaku pasar beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas yang harganya justru menguat dalam periode yang sama.

“Jadi memang investor mulai menjual Bitcoin-nya, dan kita melihat juga emas mengalami kenaikan. Jadi kita melihat bahwa investor lebih shifting ke aset yang dirasa lebih aman dalam ketidakpastian makroekonomi ini,” ujar CEO Triv, Gabriel Rey.

Gabriel menilai BTC masih berpotensi melanjutkan pelemahan. Level support kritis saat ini berada di kisaran US$ 59.000 hingga US$ 60.000. Jika angka itu gagal bertahan, ia menyebut koreksi bisa berlanjut hingga US$ 53.000 atau sekitar Rp 892 juta.

“Support terkuat harusnya ada di angka sekitar US$ 59.900 atau sekitar US$ 60.000, itu kita harusnya akan melihat bounce. Kalau memang itu sampai tembus, berarti kita akan melihat angka US$ 53.000. Tapi saya yakin harusnya US$ 60.000 tidak akan back down,” tambahnya.

Di sisi lain, BlackRock tercatat melepas sebagian porsi di ETH. Langkah itu terjadi setelah pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, melakukan aksi jual bersih senilai jutaan dolar dari harga US$ 3.000 hingga level saat ini, yang turut memperburuk sentimen pasar terhadap token tersebut.

Co-founder Cryptowatch, Christopher Tahir, membaca situasi ini dari sudut yang berbeda. Menurutnya, dominasi investor awam di pasar kripto membuat gejolak sekecil apapun mudah memicu kepanikan dan aksi jual massal.

“Dengan dominasi dari investor awam (mainstream) di pasar crypto saat ini, tentunya ini akan memberikan ketidakpastian untuk mereka, yang membuat mereka akan cenderung terdesak menjual posisi mereka,” jelas Christopher.

Ia juga menyoroti satu faktor yang jarang disebut: kekhawatiran terhadap ancaman quantum computing yang mulai diperbincangkan di kalangan komunitas kripto. Bersama sentimen makro yang belum mereda, Christopher memperkirakan pasar kripto masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dalam jangka pendek hingga menengah.

Yang menarik, tekanan ini terjadi justru di tengah ekspektasi banyak pihak bahwa era Trump kedua akan bersahabat dengan industri aset digital. Kenyataannya, kebijakan tarif yang agresif dan ketegangan geopolitik yang menyertainya malah menjadi beban tersendiri bagi pasar kripto global.