Tiga Tentara AS Gugur dalam Operasi Epic Fury, Trump Ancam Balas Serangan Iran

- Tiga anggota militer AS tewas dan lima lainnya luka parah dalam Operasi Epic Fury melawan Iran, menjadi korban pertama dari pihak Amerika dalam konflik ini.
- Trump mengancam pembalasan lebih keras lewat pidato video dari Florida, sekaligus mengeluarkan ultimatum agar Garda Revolusi Iran meletakkan senjata.
- Serangan balasan Iran menyasar markas AS dan Israel di Timur Tengah, termasuk di Uni Emirat Arab, sementara kerusuhan antiamerika meletus di Karachi, Pakistan, menewaskan 17 orang.
, JAKARTA – Perang antara Amerika Serikat dan Iran mulai menelan korban dari pihak Washington. Pentagon mengonfirmasi tiga anggota militer AS tewas dan lima lainnya mengalami luka parah dalam operasi yang diberi nama “Epic Fury.” Ini menjadi kematian pertama warga AS sejak konflik bersenjata itu pecah.
Presiden Donald Trump langsung merespons dari kediamannya di Florida. Dalam sebuah pidato video, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan kematian itu berlalu tanpa konsekuensi.
“Sayangnya, kemungkinan akan ada lebih banyak korban sebelum operasi ini berakhir. Tetapi Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling telak kepada para teroris,” kata Presiden Donald Trump dalam pernyataan yang disiarkan dari negara bagian Florida.
Trump juga mengeluarkan ultimatum langsung kepada Garda Revolusi Iran. Ia meminta pasukan elite tersebut meletakkan senjata dan menerima kekebalan penuh, atau bersiap menghadapi apa yang ia sebut sebagai kematian yang pasti.
“Saya mendesak Garda Revolusi, militer dan polisi Iran untuk meletakkan senjata dan menerima kekebalan penuh atau menghadapi kematian yang pasti. Itu tidak akan menyenangkan,” ujarnya.
Serangan balasan Iran sendiri dipicu oleh tewasnya pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam gempuran AS dan Israel sebelumnya. Teheran membalas dengan mengirimkan rudal dan drone yang menghantam markas AS dan Israel di berbagai penjuru Timur Tengah. Serangan itu merenggut nyawa di Israel dan Uni Emirat Arab, sekaligus menghancurkan sejumlah pusat ekonomi di kawasan Teluk Arab.
Di Pakistan, yang berbatasan langsung dengan Iran, situasinya tidak kalah genting. Pejabat setempat melaporkan 17 orang tewas dalam kerusuhan, sementara massa yang marah mencoba menyerbu konsulat AS di Karachi. Negara-negara di sekitar Iran ternyata ikut menanggung beban dari konflik yang secara resmi tidak melibatkan mereka.
Di Washington, Trump tidak mendapat dukungan bulat. Hakeem Jeffries, pemimpin kubu Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat, menyebut korban yang jatuh sebagai buah dari pengambilan keputusan yang terburu-buru. Bagi Jeffries, tidak ada ancaman yang cukup kuat untuk membenarkan serangan militer preemptif semacam ini.
Trump memang sedang berjalan di atas tali. Ia berkampanye dengan menjual narasi anti-intervensi, namun kini justru menjalankan perang yang belum sepenuhnya ia jelaskan kepada rakyat Amerika. Korban jiwa dari pihak sendiri adalah ujian pertama yang sesungguhnya, dan Trump memilih menjawabnya dengan retorika pembalasan, bukan penjelasan.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: