TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

16 Maret 2026
TODAY'S RECAP
Megawati Kirim Surat Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Serukan Visi Trisakti Bung Karno untuk Iran Ayam Rp40.000, Cabai Jauh di Bawah HET, Minyakita Turun Rp1.000: Hasil Sidak Mendag di Pasar Rawasari IHSG Dibuka Melemah 0,30% ke 7.115 di Awal Pekan, Pasar Lebih Khawatir Eskalasi Geopolitik ketimbang Janji Disiplin Fiskal Prabowo Dorong Kurikulum Koperasi Merah Putih di Sekolah, Chusni Mubarok: Perkuat Fondasi Ekonomi Kerakyatan Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran Dari Persia untuk Dunia: Tiga Ilmuwan Iran yang Karyanya Jadi Rujukan Berabad-abad Perintah Presiden, Kapolri Jamin Lindungi Identitas Pemberi Informasi Kasus Andrie Yunus Trump Minta Inggris dan China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Megawati Kirim Surat Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Serukan Visi Trisakti Bung Karno untuk Iran Ayam Rp40.000, Cabai Jauh di Bawah HET, Minyakita Turun Rp1.000: Hasil Sidak Mendag di Pasar Rawasari IHSG Dibuka Melemah 0,30% ke 7.115 di Awal Pekan, Pasar Lebih Khawatir Eskalasi Geopolitik ketimbang Janji Disiplin Fiskal Prabowo Dorong Kurikulum Koperasi Merah Putih di Sekolah, Chusni Mubarok: Perkuat Fondasi Ekonomi Kerakyatan Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran Dari Persia untuk Dunia: Tiga Ilmuwan Iran yang Karyanya Jadi Rujukan Berabad-abad Perintah Presiden, Kapolri Jamin Lindungi Identitas Pemberi Informasi Kasus Andrie Yunus Trump Minta Inggris dan China Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Cari berita

Moh Syaiful Bahri
Moh Syaiful Bahri
Aktivis Literasi dan Pendiri TBM Sekolah Hompimpa Sumenep

Menghidupkan Buku di Sekolah

Poin Penting (3)
  • Sejak 2022–2024, sekitar 451 sekolah dasar di Kabupaten Sumenep menerima bantuan Buku Bacaan Bermutu dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai upaya memperkuat literasi siswa, terutama di sekolah dengan capaian literasi dan numerasi yang masih rendah
  • Di beberapa sekolah, buku-buku tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan karena masih tersimpan di perpustakaan atau bahkan di dalam kardus, sehingga belum menjadi bagian dari aktivitas membaca sehari-hari siswa
  • Karena itu, penguatan literasi tidak cukup melalui distribusi buku saja, tetapi perlu dihidupkan melalui kegiatan seperti Perpustakaan Ramah Anak yang membuat buku lebih dekat, menarik, dan menyenangkan bagi anak-anak

Resolusi.co, Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah berupaya memperkuat literasi anak melalui penyaluran Buku Bacaan Bermutu ke berbagai daerah. Program ini dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai bagian dari strategi memperluas akses siswa terhadap bahan bacaan yang berkualitas. Di tengah tantangan rendahnya kemampuan literasi nasional, kehadiran buku dianggap sebagai langkah awal untuk menumbuhkan budaya membaca di sekolah.

Kabupaten Sumenep menjadi salah satu daerah yang menerima program bantuan tersebut. Sepanjang tahun 2022 hingga 2024, ada sekitar 451 sekolah dasar yang memperoleh bantuan buku bacaan bermutu. Sebagian besar sekolah penerima berada pada kategori capaian literasi dan numerasi yang masih rendah. Harapannya, program ini mampu memperkaya koleksi bacaan sekaligus membuka ruang baru bagi anak-anak untuk lebih dekat dengan buku.

Buku yang disalurkan bukan buku teks dan buku pelajaran. Banyak di antaranya berupa cerita bergambar, buku anak bermutu, dan bacaan pengetahuan populer yang dirancang sesuai dengan tahap perkembangan membaca anak. Melalui jenis bacaan seperti ini, siswa diharapkan tidak hanya belajar membaca teks, tetapi juga mengenal cerita, imajinasi, dan pengalaman manusia yang lebih luas. Lebih tepatnya, buku yang sesuai dengan perjenjangan.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan buku tidak selalu diikuti dengan tumbuhnya kebiasaan membaca. Sejauh ini, di beberapa sekolah, buku bacaan bermutu masih tersimpan rapi di lemari perpustakaan dan ada pula yang masih berada di dalam kardus. Anak-anak jarang mengaksesnya, apalagi menjadikan bagian dari kegiatan belajar sehari-hari. Buku hadir secara fisik, tetapi belum sepenuhnya hidup dalam aktivitas sekolah.

Situasi ini memperlihatkan bahwa persoalan literasi tidak berhenti pada distribusi buku. Literasi juga berkaitan dengan bagaimana buku digunakan dan dihadirkan dalam pengalaman belajar yang menyenangkan. Tanpa aktivitas yang menghidupkan buku, perpustakaan berisiko hanya menjadi ruang penyimpanan. Tempat paling sepi, dan sekaligus paling dihindari. Rak buku mungkin penuh, tetapi minat baca siswa tetap rendah.

Hal ini tentu menjadi persoalan yang cukup rumit. Perpustakaan masih dipahami sebagai ruang yang jarang dikunjungi. Siswa datang hanya ketika diminta meminjam buku atau mengerjakan tugas tertentu. Padahal, perpustakaan seharusnya menjadi ruang yang ramah bagi rasa ingin tahu anak. Tempat di mana membaca tidak terasa sebagai kewajiban, melainkan sebagai kegiatan yang menyenangkan. Perpustakaan adalah rumah tumbuh kembangnya kreativitas dan imajinasi siswa.

Dalam konteks inilah berbagai inisiatif penguatan literasi menjadi penting. Salah satunya adalah program Perpustakaan Ramah Anak yang dikembangkan oleh ProVisi bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program ini mendorong perpustakaan sekolah menjadi ruang yang lebih terbuka, nyaman, dan menarik bagi anak-anak.

Pendekatan perpustakaan ramah anak menempatkan buku lebih dekat dengan kehidupan siswa dan warga sekolah. Buku dipajang secara terbuka, mudah dijangkau, serta dilibatkan dalam berbagai kegiatan membaca. Guru, siswa, dan masyarakat sekolah diajak terlibat dalam menyiapkan dan menata perpustakaan. Melalui cara ini, buku tidak lagi sekadar tersimpan di rak perpustakaan, tetapi hadir dalam pengalaman belajar sehari-hari dan menjadi bagian dari budaya literasi di lingkungan sekolah.

Sejumlah sekolah yang mulai menerapkan pendekatan ini menunjukkan perubahan kecil yang mulai terasa. Anak-anak lebih sering berkunjung ke perpustakaan, bahkan di luar jam pelajaran. Mereka memilih buku sendiri, membaca bersama teman, dan saling bercerita tentang kisah yang mereka temukan. Dari kebiasaan sederhana inilah minat membaca perlahan tumbuh.

Literasi pada akhirnya tidak hanya tentang kemampuan membaca teks. Ia juga berkaitan dengan rasa ingin tahu, imajinasi, dan kemampuan memahami sesuatu di luar kebiasannya. Buku dapat menjadi jembatan bagi anak untuk mengenal berbagai pengalaman manusia. Namun jembatan itu hanya berfungsi jika benar-benar dilalui oleh para pembacanya.

Pengalaman di Sumenep menunjukkan bahwa penyaluran buku merupakan langkah penting, tetapi belum cukup. Buku perlu dihidupkan melalui kegiatan yang membuat anak merasa dekat dengan buku. Perpustakaan harus menjadi ruang yang hangat dan menyenangkan bagi anak-anak.

Ketika buku mulai berpindah dari rak ke tangan siswa, di situlah literasi menemukan ruhnya. Anak-anak tidak lagi membaca karena diperintah, tetapi karena mereka menikmati prosesnya. Dari halaman-halaman sederhana itulah, kebiasaan membaca perlahan tumbuh.

Disclaimer: Artikel ini sepenuhnya tanggung jawab penulis. Redaksi hanya fasilitator publikasi. Kirim Tulisan Anda →