Tak Ada Palang Otomatis di Perlintasan Pemicu Tabrakan Maut Bekasi Timur

, Bekasi – Sebuah perlintasan kereta api di Jalan Ampera, Kota Bekasi, berjarak kurang lebih 50 meter dari Stasiun Bekasi Timur. Lebarnya hanya sekitar lima meter. Di sinilah segalanya bermula, ketika sebuah taksi tertemper KRL pada Senin (27/4/2026) malam dan memicu rentetan tabrakan yang menewaskan 14 orang.
Pantauan di lokasi, Selasa (28/4/2026), perlintasan itu memang dilengkapi rambu peringatan rel kereta. Namun tidak ada palang pintu resmi, apalagi sistem otomatis. Yang ada hanya sebilah bambu di satu sisi, dipasang atas inisiatif warga sekitar.
Cara kerjanya sederhana. Setiap kali kereta hendak melintas, seorang warga yang berjaga akan berteriak memberi peringatan, lalu menurunkan bambu sebagai tanda berhenti. Untuk kendaraan dari arah sebaliknya, si penjaga hanya bisa mengandalkan suara teriakan.
Tasmin (80), warga yang sudah berdagang bakso di sekitar perlintasan itu selama lima dekade, hafal betul dengan situasinya.
“Dulu sering, sempat pernah sebulan sekali (kecelakaan). Dari 5 tahun lalu,” ujar Tasmin.
Ia menambahkan, pengendara kerap nekat menerobos meski sudah diperingatkan.
“Kadang-kadang orang nyelong aja, banyak yang apes karena mesin mati di tengah,” tambahnya.
Tasmin juga menyebut perlintasan itu pernah menjadi lokasi percobaan bunuh diri beberapa kali, meski berhasil digagalkan warga sekitar.
Karena tak ada pengelola resmi, warga bergotong royong membuat sistem jaga sendiri, empat giliran sehari, termasuk dini hari. Bambu yang jadi palang darurat sudah dipakai puluhan tahun. Kalau patah atau rusak, diganti dengan yang baru.
Janji pemerintah untuk membenahi perlintasan ini sebenarnya bukan barang baru. Tasmin menyebut sudah banyak pejabat datang dan berjanji, termasuk yang terakhir Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang disebut berencana membangun flyover di titik tersebut.
“Gubernur sudah datang kemarin belum lama, tapi rencana dari jaman baheula, dari jaman Pak Harto,” kata Tasmin.
Yang membuat kisah perlintasan ini terasa berat bukan semata soal absennya palang otomatis, tapi soal berapa lama sebuah titik rawan seperti ini dibiarkan bergantung pada teriakan warga dan sebilah bambu, sementara kereta terus melaju dan kendaraan terus berdatangan.
Dalam kecelakaan kemarin, gerbong khusus wanita di KRL menjadi yang paling terdampak, robek ditembus lokomotif KA Argo Bromo Anggrek. Seluruh korban yang dievakuasi berjenis kelamin perempuan, dengan total korban meninggal 14 orang dan 84 lainnya luka-luka.
“100 persen yang kita evakuasi korban perempuan,” kata Kepala Basarnas Mayjen TNI M. Syafii.
Proses evakuasi dinyatakan selesai pada pukul 08.00 WIB dan seluruh tim SAR telah dipulangkan. Namun Syafii menegaskan jika ditemukan potongan tubuh saat proses pembersihan bangkai kereta, pihaknya siap kembali bergerak sesuai prosedur.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: