Trump Peringatkan Iran Soal Kesepakatan Nuklir, Tegaskan Teheran Tak Mampu Urus Diri Sendiri

- Trump memperingatkan Iran untuk "bertindak cerdas" terkait kesepakatan nuklir lewat Truth Social, disertai unggahan gambar AI bernada ancaman berlatar ledakan di Iran.
- Perundingan damai AS-Iran yang dimediasi Pakistan di Islamabad pada 11-12 April berakhir tanpa kesepakatan, memicu kembali ketegangan diplomatik kedua negara.
- Iran mengajukan proposal pembukaan Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade laut AS, namun Trump memberi sinyal penolakan atas tawaran tersebut.
, Washington DC – Donald Trump kembali menekan Iran lewat unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Rabu (29/4/2026). Presiden Amerika Serikat itu menyebut Teheran tidak mampu mengurus dirinya sendiri dan menuntut Iran segera mengambil langkah konkret soal program nuklir.
“Iran tidak dapat mengatur diri mereka sendiri. Mereka tidak tahu bagaimana menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera bertindak cerdas!” tulis Donald Trump dalam unggahannya.
Pernyataan itu disertai gambar buatan kecerdasan buatan yang menampilkan Trump berkacamata hitam, mengenakan jas gelap, memegang senapan, dengan latar belakang rentetan ledakan di atas lanskap Iran. Di bagian bawah foto tertera teks “No More Mr. Nice Guy!”
Pilihan Trump menyertakan gambar itu bukan sekadar retorika. Ini sinyal yang cukup jelas tentang sejauh mana kesabaran Washington terhadap Teheran dalam meja perundingan yang hingga kini masih buntu.
Unggahan tersebut muncul sehari setelah Trump mengklaim Iran berada dalam “keadaan kolaps” dan menyebut Teheran meminta Washington membuka kembali Selat Hormuz.
“Iran baru saja memberi tahu kita bahwa mereka berada dalam ‘keadaan kolaps’. Mereka ingin kita membuka Selat Hormuz sesegera mungkin, karena mereka berusaha menyelesaikan situasi kepemimpinan mereka,” tulis Trump sehari sebelumnya, Selasa (28/4). Tidak ada konfirmasi dari pihak Iran atas klaim tersebut.
Ketegangan antara kedua negara meningkat tajam sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan berskala besar ke Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Gencatan senjata sementara diumumkan pada 7 April, berlaku dua minggu. Perundingan damai AS-Iran kemudian digelar di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April, namun tidak menghasilkan kesepakatan apapun.
Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu yang jelas. Ia menyebut langkah itu diambil atas permintaan Pakistan selaku mediator, meski banyak pihak menilai perpanjangan itu memberi ruang bagi negosiator dari kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Pada Senin (27/4), Trump sudah memberi sinyal ketidakpuasannya terhadap tawaran terbaru Iran. Teheran mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat blokade laut AS dicabut, sembari menunda pembahasan nuklir ke sesi berikutnya. Proposal itu rupanya tidak cukup bagi Washington.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: