Asal Muasal Tragedi Kereta Bekasi: Palang Pintu Buatan Warga, Taksi Mogok Karena Korsleting

- Taksi listrik Green SM mogok akibat korsleting di perlintasan Ampera, Bekasi Timur, yang palang pintunya ternyata buatan warga swadaya bukan milik KAI, memicu tabrakan berantai antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek yang menewaskan 15 orang.
- Polisi mengamankan sopir taksi yang selamat dari benturan pertama untuk diperiksa di Polres Metro Bekasi Kota, sementara investigasi resmi masih berjalan dan Green SM menyatakan mendukung penuh prosesnya.
- Kemenhub membuka peluang evaluasi operasional Green SM sekaligus mengkaji kebutuhan jalur double-double track di Stasiun Bekasi Timur, di mana KRL dan kereta jarak jauh saat ini masih berbagi jalur yang sama.
, Jakarta – Sebuah taksi listrik Green SM yang tiba-tiba mogok di perlintasan kereta api menjadi titik awal dari rangkaian kecelakaan maut di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam. Kejadian bermula dari gangguan kelistrikan pada kendaraan itu tepat di atas rel, memicu reaksi berantai yang berujung pada tewasnya 15 orang dan 88 lainnya luka-luka.
Polisi memastikan taksi tersebut berhenti bukan karena menerobos, melainkan karena korsleting yang membuat kendaraan mati mendadak di perlintasan. Kasi Pullahjianta Subdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri, Kompol Sandhi Wiedyanoe, mengatakan masalah elektrik itu terjadi tepat di perlintasan Ampera, salah satu titik persimpangan rel yang ada di Bekasi Timur.
KRL dari arah Cikarang yang melaju ke Jakarta kemudian menabrak taksi yang terhenti di atasnya. Tabrakan itu membuat rangkaian KRL berhenti mendadak di jalur aktif, sementara di sisi lain perjalanan kereta dari arah berlawanan ikut tersendat.
KRL kedua, yang hendak menuju Cikarang, akhirnya tertahan lebih lama dari semestinya di Stasiun Bekasi Timur. Saat itulah KA Argo Bromo Anggrek yang tengah melaju dari Jakarta dengan kecepatan tinggi datang dari belakang dan menghantam rangkaian KRL yang masih diam di peron.
Satu hal yang kemudian menarik perhatian adalah soal kondisi fisik perlintasan itu sendiri. Polisi mengungkap bahwa palang pintu di lokasi kejadian bukan milik resmi PT KAI, melainkan dibuat secara swadaya oleh warga sekitar.
“Kita tidak bisa katakan ini menerobos karena di perlintasan ini tidak ada palang pintu kereta api seperti yang kita lihat di sana. Palang pintu dibuat oleh masyarakat secara swadaya, budi baik dari para masyarakat di sini untuk mendukung keselamatan,” kata Sandhi.
Sopir taksi Green SM berhasil selamat dari benturan pertama dan kini sedang menjalani pemeriksaan di Polres Metro Bekasi Kota. Sementara itu, Kementerian Perhubungan membuka kemungkinan evaluasi menyeluruh terhadap operasional Green SM.
“Setiap terjadi kecelakaan pasti akan kami lakukan evaluasi sehingga harapannya kita belajar dari apa yang terjadi, kita perbaiki ke depannya,” kata Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi, Selasa (28/4).
Kemenhub juga akan mengkaji ulang kebutuhan jalur double-double track di Stasiun Bekasi Timur, mengingat saat ini KA jarak jauh dan KRL masih berbagi rel yang sama di kawasan tersebut. Kondisi itulah yang membuat tidak ada ruang cadangan ketika satu insiden kecil terjadi.
Dari pihak Green SM, manajemen perusahaan menyatakan mendukung penuh proses investigasi dan berkoordinasi aktif dengan pihak berwenang. Perusahaan menegaskan belum ada kesimpulan resmi dari otoritas terkait penyebab kecelakaan.
Sebuah taksi mogok di perlintasan tanpa palang resmi, di jalur yang dipakai bersama oleh KRL dan kereta jarak jauh, tanpa sistem pengaman memadai. Kalau salah satu dari tiga faktor itu tidak ada, 15 orang itu mungkin masih pulang ke rumah malam itu.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: