Korea Utara Gelar Latihan Rudal Hipersonik di Tengah Ketegangan dengan AS

- Kim Jong Un mengawasi langsung uji terbang rudal hipersonik pada Minggu (4/1) dan menekankan perlunya memperkuat daya tangkal nuklir Korea Utara di tengah meningkatnya ketegangan regional.
- Latihan militer ini bertujuan menguji kesiapan operasional pasukan rudal dan meningkatkan kemampuan sistem senjata ofensif yang dapat menembus pertahanan rudal AS-Korea Selatan.
- Para pengamat menilai demonstrasi kekuatan ini terkait kongres Partai Pekerja yang akan digelar dan respons terhadap operasi militer AS di Venezuela yang menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.
, KOREA – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengawasi langsung uji terbang rudal hipersonik pada Minggu (4/1) dan menekankan perlunya memperkuat daya tangkal nuklir negaranya. Pengumuman tersebut disampaikan kantor berita resmi Pyongyang di tengah meningkatnya demonstrasi kekuatan militer menjelang konferensi politik besar negara itu.
Laporan latihan militer ini muncul sehari setelah negara-negara tetangga mendeteksi beberapa peluncuran rudal balistik yang dianggap sebagai provokasi. Uji coba dilakukan hanya beberapa jam sebelum Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung berangkat ke China untuk pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping.
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan bahwa latihan yang melibatkan sistem senjata hipersonik itu bertujuan menguji kesiapan dan meningkatkan keterampilan operasional pasukan rudal, serta mengevaluasi kemampuan daya tangkal perang.
“Melalui latihan peluncuran ini, kami dapat memastikan bahwa satu tugas teknologi yang sangat penting bagi pertahanan nasional telah dilaksanakan,” ujar Kim Jong Un.
Ia menambahkan, Korea Utara harus terus meningkatkan sarana militer, terutama sistem senjata ofensif.
Kepemilikan rudal hipersonik yang berfungsi akan memberi Korea Utara kemampuan menembus sistem pertahanan rudal Amerika Serikat dan Korea Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, Pyongyang telah melakukan serangkaian uji coba untuk menguasai teknologi tersebut. Namun, banyak pakar luar negeri meragukan apakah rudal yang diuji benar-benar telah mencapai kecepatan dan kemampuan manuver yang diinginkan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Korea Utara juga telah menembakkan rudal jelajah strategis jarak jauh dan rudal anti-pesawat baru, serta merilis foto-foto yang menunjukkan kemajuan pembangunan kapal selam bertenaga nuklir pertamanya.
Para pengamat menilai Korea Utara berupaya mendemonstrasikan capaian di sektor pengembangan persenjataan menjelang kongres Partai Pekerja yang berkuasa, yang akan digelar untuk pertama kalinya dalam lima tahun. Perhatian tertuju pada kemungkinan Kim Jong Un menetapkan pendekatan baru dalam hubungan dengan AS dan menghidupkan kembali perundingan yang telah lama terhenti.
Uji coba terbaru juga terjadi setelah operasi militer AS pada Sabtu (3/1) menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membawanya ke AS untuk menghadapi dakwaan konspirasi narkoterorisme. Korea Utara mengutuk operasi tersebut dan menyatakan peristiwa itu menunjukkan sifat brutal AS yang bertindak di luar hukum.
Banyak pakar menilai operasi AS tersebut kemungkinan mendorong Kim Jong Un untuk semakin memperluas kemampuan senjata nuklirnya, yang menurutnya menjamin kelangsungan pemerintahan dan kedaulatan negara dalam menghadapi permusuhan yang dipimpin oleh AS.
Dalam latihan peluncuran pada Minggu, Kim Jong Un membela dorongannya untuk memperkuat program nuklir.
“Mengapa hal itu diperlukan telah dicontohkan oleh krisis geopolitik terkini dan peristiwa internasional yang semakin rumit,” ujarnya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: