Kemenhaj Gelar Diklat PPIH 2026 Bernuansa Militer untuk 1.500 Petugas

- Kemenhaj membuka diklat PPIH 2026 untuk 1.500 peserta di Asrama Haji Pondok Gede dengan pendekatan bernuansa militer selama 20 hari.
- Empat sasaran utama pelatihan: fisik kuat dan bugar, mental tangguh, pengetahuan dan keterampilan mumpuni, serta terbangunnya persatuan antar petugas.
- Nilai-nilai TNI/Polri diadopsi dalam pelatihan, meliputi disiplin, keberanian, semangat berkorban, dan kekompakan untuk menghasilkan petugas haji profesional dan berintegritas.
, JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah RI secara resmi membuka Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tahun 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Sabtu (10/1/2026). Sebanyak 1.500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia akan mengikuti program pelatihan ini selama 20 hari ke depan.
Pada hari pertama, para calon petugas yang datang dari seluruh penjuru Tanah Air menjalani serangkaian proses registrasi sejak pagi hingga sore hari. Mereka mengumpulkan dokumen persyaratan, mengikuti tes kemampuan bahasa Arab, serta menempati kamar penginapan yang telah disiapkan.
Menjelang tengah malam, seluruh peserta berkumpul di gedung utama untuk melakukan gladi resik seremonial pembukaan. Acara pembukaan resmi dijadwalkan berlangsung pada Ahad (11/1/2026) pagi dengan menghadirkan Menteri Haji dan Umrah Irfan Yusuf serta Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak.
Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah, Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi, mengingatkan para peserta untuk bersiap menghadapi pelatihan yang akan bernuansa militer. Menurutnya, pendekatan ini merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan petugas haji yang lebih profesional dan berintegritas melalui empat sasaran utama.
“Ini bagian dari ikhtiar kita untuk menghadirkan petugas haji yang lebih profesional dan berintegritas melalui empat sasaran,” ujar Dendi usai pelaksanaan gladi resik.
Sasaran pertama yang ingin dicapai adalah kondisi fisik petugas yang kuat dan bugar. Dendi menekankan pentingnya kekuatan fisik mengingat ibadah haji sebagian besar merupakan aktivitas fisik yang membutuhkan stamina prima.
“Karena memang ibadah haji itu kan 90 persen ibadah fisik, sehingga petugasnya juga harus lebih kuat daripada zaman lalu,” katanya.
Sasaran kedua difokuskan pada mental yang tangguh karena para petugas akan berperan sebagai pelayan tamu Allah di Tanah Suci. Sementara sasaran ketiga menitikberatkan pada pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.
Sasaran keempat adalah terciptanya bonding atau persatuan di antara para petugas. Dendi menjelaskan bahwa nilai-nilai positif dari organisasi TNI dan Polri akan diadopsi dalam pelatihan ini, seperti kedisiplinan, keberanian, semangat, kerelaan berkorban, dan kekompakan.
“Itu yang mau kita sasarkan. Kemarin Pak Wamen dan Pak Menteri menyampaikan, ada nilai-nilai bagus dari organisasi TNI dan Polri yang mau dikeluarkan. Apa itu? Disiplinnya, keberaniannya, semangat, rela berkorbannya, kemudian kekompakannya,” tutur Dendi.
Rangkaian kegiatan pada hari kedua dimulai dengan salat subuh berjamaah dan olahraga pagi. Selanjutnya, para peserta akan mengikuti seremonial pembukaan dan kelas besar yang memuat arahan Wakil Menteri Haji dan Umrah, pre-test, serta Building Learning Commitment (BLC). Program diklat ini direncanakan berlangsung hingga 30 Januari 2026.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: