TODAY'S RECAP
Viral Video Porno Ojol, Ternyata Aktor Pakai Jaket Palsu Beli Rp300 RibuPuncak Mudik Gilimanuk Diperpanjang Gara-gara Nyepi, Ini Jadwal Penutupan PelabuhanH-4 Lebaran, Penyeberangan Bali-Jawa Capai 74.263 Orang, Motor Naik 7,2 PersenBukan Orang Sembarangan: Ini Sosok Joe Kent yang Berani Menentang Trump soal Perang Lawan IranKapan Malam Takbiran 2026? Ada Dua Kemungkinan Tanggal, Ini PenjelasannyaLepas 4.009 Pemudik Gratis, Menko Polkam: Negara Selalu Hadir untuk RakyatViral Video Porno Ojol, Ternyata Aktor Pakai Jaket Palsu Beli Rp300 RibuPuncak Mudik Gilimanuk Diperpanjang Gara-gara Nyepi, Ini Jadwal Penutupan PelabuhanH-4 Lebaran, Penyeberangan Bali-Jawa Capai 74.263 Orang, Motor Naik 7,2 PersenBukan Orang Sembarangan: Ini Sosok Joe Kent yang Berani Menentang Trump soal Perang Lawan IranKapan Malam Takbiran 2026? Ada Dua Kemungkinan Tanggal, Ini PenjelasannyaLepas 4.009 Pemudik Gratis, Menko Polkam: Negara Selalu Hadir untuk RakyatViral Video Porno Ojol, Ternyata Aktor Pakai Jaket Palsu Beli Rp300 RibuPuncak Mudik Gilimanuk Diperpanjang Gara-gara Nyepi, Ini Jadwal Penutupan PelabuhanH-4 Lebaran, Penyeberangan Bali-Jawa Capai 74.263 Orang, Motor Naik 7,2 PersenBukan Orang Sembarangan: Ini Sosok Joe Kent yang Berani Menentang Trump soal Perang Lawan IranKapan Malam Takbiran 2026? Ada Dua Kemungkinan Tanggal, Ini PenjelasannyaLepas 4.009 Pemudik Gratis, Menko Polkam: Negara Selalu Hadir untuk RakyatViral Video Porno Ojol, Ternyata Aktor Pakai Jaket Palsu Beli Rp300 RibuPuncak Mudik Gilimanuk Diperpanjang Gara-gara Nyepi, Ini Jadwal Penutupan PelabuhanH-4 Lebaran, Penyeberangan Bali-Jawa Capai 74.263 Orang, Motor Naik 7,2 PersenBukan Orang Sembarangan: Ini Sosok Joe Kent yang Berani Menentang Trump soal Perang Lawan IranKapan Malam Takbiran 2026? Ada Dua Kemungkinan Tanggal, Ini PenjelasannyaLepas 4.009 Pemudik Gratis, Menko Polkam: Negara Selalu Hadir untuk Rakyat

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

18 Maret 2026

Cari berita

SBY Peringatkan Indonesia Tak Boleh Merasa Aman di Tengah Ancaman Perang Dunia yang Kian Nyata

Poin Penting (3)
  • SBY menegaskan dalam kuliah umum di Lemhannas, Jakarta Pusat, bahwa Indonesia tidak boleh bersikap naif dengan menganggap dirinya kebal dari dampak perang dunia, mengingat dunia yang saling terhubung membuat tidak ada negara yang benar-benar aman hanya karena tidak terlibat langsung dalam konflik.
  • Mantan presiden itu menilai Amerika Serikat tengah memaksakan kembalinya tatanan unipolar di tengah dunia yang seharusnya bergerak ke arah multipolar, dan kondisi itu menjadi sumber ketidakstabilan yang bisa meledak kapan saja.
  • SBY mendorong Indonesia memperkuat ketahanan militer, pangan, dan energi secara bersamaan, serta mengingatkan pentingnya membangun kekuatan pertahanan udara untuk menghadapi era perang modern yang tidak lagi mengenal batas wilayah konvensional.

Resolusi.co, JAKARTA – Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono berbicara blak-blakan soal kondisi geopolitik dunia yang ia nilai tengah berjalan di tepi jurang. Dalam kuliah umum di gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026), SBY menegaskan Indonesia tidak boleh bersikap seolah-olah krisis global tak akan menyentuh negeri ini.

Ia membuka paparannya dengan menelusuri sejarah tatanan dunia sejak era Perang Dingin. Ketika Blok Barat dan Blok Timur saling berhadapan dalam polarisasi yang kaku, dunia setidaknya memiliki kejelasan arah. Setelah Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat mendeklarasikan diri sebagai pemenang tunggal, dan harapan pun muncul bahwa liberalisme akan menjadi wajah permanen dunia.

“Kini mestinya kita sudah kembali ke tatanan multipolar. Amerika, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, beberapa negara BRICS. Sadarilah kita hidup dalam tatanan multipolar,” ujar Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan peserta kuliah umum Lemhannas.

Masalahnya, menurut SBY, Washington tidak menerima kenyataan itu. AS justru berupaya kembali mengukuhkan diri sebagai satu-satunya kekuatan yang menentukan arah dunia.

“Amerika ingin kembali unipolar, Amerika alone sebagai global leader, sebagai lone ranger,” tambahnya.

Di sinilah SBY melihat bahaya yang kerap diabaikan. Ketika satu kekuatan besar memaksakan kehendak dalam sistem yang seharusnya multipolar, gesekan dengan kekuatan lain hampir tak terhindarkan. Dan dalam kondisi seperti itu, negara yang diam pun bisa ikut terbakar.

SBY lalu menarik pelajaran dari Perang Dunia II. Indonesia kala itu tidak ikut serta dalam pertempuran, tapi tetap jatuh sebagai korban.

“Dunia yang sudah saling terhubung seperti ini tidak mungkin kita hanya fokus ke dalam negeri saja. Saya berikan contoh perang dunia kedua, kita tidak ikut-ikutan, jadi korban juga,” kata SBY.

Framing itu terasa relevan jika dikaitkan dengan kondisi sekarang. Perang Rusia-Ukraina, eskalasi di Timur Tengah, ketegangan Selat Taiwan, dan perubahan arah kebijakan luar negeri AS di bawah Donald Trump semuanya bergerak berbarengan, dan semuanya punya ujung yang bisa menjangkau kawasan Asia Tenggara.

SBY tidak menawarkan kekhawatiran tanpa solusi. Ia mendorong Indonesia mengambil langkah konkret ke dalam dan ke luar negeri secara bersamaan: memperkuat daya tangkal militer, menjaga ketahanan energi dan pangan, serta mempertajam pembacaan terhadap peta kekuatan global.

“Effort dalam negeri, yes. Diplomasi, kerja sama internasional, yes. Memahami setting of power relations, yes. Dengan demikian yang kita lakukan insyaallah akan benar,” ucapnya.

Pesan itu ia pertegas dengan satu kalimat yang ia sampaikan langsung: jangan pernah merasa aman hanya karena tidak punya konflik langsung dengan negara lain.

“Kita tidak boleh naif dan tidak boleh seolah-olah tidak akan tersentuh kita. Kita tidak punya masalah kok, don’t say that, karena sudah memang kacau seperti ini,” tegasnya.

SBY juga menyinggung dimensi pertahanan yang menurutnya sering luput dari perhatian serius: kekuatan udara. Doktrin lama yang bertumpu pada pertahanan pantai, perang gerilya, dan perlawanan berbasis daratan ia nilai tidak lagi memadai untuk menghadapi ancaman modern.

Ia melontarkan pertanyaan langsung kepada audiens. Apa yang akan dilakukan Indonesia jika serangan udara tiba-tiba menghantam Jakarta, fasilitas produksi senjata PT Pindad di Bandung, dan galangan kapal PT PAL di Surabaya?

“Jadi ini modern era, modern warfare, modern technology, modern doctrine. Semuanya harus siap,” tegasnya.