Lebih dari 500 Rudal dan 2.000 Drone Ditembakkan, Sampai Kapan Iran Kuat Berperang?

- Sejak 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan militer besar ke Iran yang menargetkan fasilitas militer dan kepemimpinan, sementara Teheran membalas dengan lebih dari 500 rudal balistik dan 2.000 drone ke Israel serta pangkalan AS di kawasan Teluk.
- Pakar menilai Iran menerapkan strategi perang jangka panjang dengan mengandalkan produksi drone massal yang murah, sementara stok rudal balistiknya terus menyusut akibat serangan dan pemakaian di medan perang.
- Warga sipil Iran menanggung dampak terbesar konflik ini, termasuk insiden yang dilaporkan menewaskan 168 anak dan guru di sebuah sekolah dasar di Minab, yang menyebabkan PBB menyerukan penyelidikan segera.
, Teheran – Sejak 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar dan terkoordinasi ke Iran. Sasarannya mencakup para pemimpin, fasilitas militer, hingga gedung-gedung pemerintahan. Meski sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, rezim di Teheran belum menunjukkan tanda-tanda goyah.
Iran membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS yang tersebar di negara-negara Teluk Persia. Uni Emirat Arab melaporkan ratusan roket dan drone Iran menghantam wilayahnya dalam beberapa hari terakhir.
Data yang disampaikan Laksamana Brad Cooper, Kepala Komando Pusat AS, menunjukkan bahwa hingga Rabu (4/3), Iran sudah menembakkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone. Cooper menuduh Teheran melancarkan serangan yang tidak pandang bulu dan membahayakan warga sipil.
Pada hari pertama perang, militer Israel memperkirakan Iran masih memiliki sekitar 2.500 rudal balistik. Angka itu kini diyakini telah menyusut, bukan hanya karena pemakaian dalam perang, tetapi juga karena serangan AS dan Israel yang berhasil menghancurkan sejumlah lokasi penyimpanan amunisi. Citra satelit yang beredar memperlihatkan kerusakan di pangkalan rudal di Kermanshah, Karaj, Khorramabad, dan Tabriz utara.
“Kami tidak tahu persis berapa banyak rudal balistik dan drone yang sebenarnya dimiliki Iran,” kata seorang pakar senjata yang meminta namanya dirahasiakan, kepada DW.
Yang membuat kalkulasi militer ini rumit adalah kapasitas produksi drone Iran. Berdasarkan dokumen Rusia yang bocor, Teheran mampu memproduksi sekitar 5.000 drone per bulan. Drone Shahed, salah satu yang paling sering digunakan, harganya hanya beberapa ribu dolar per unit. Sebagai perbandingan, satu rudal pencegat Patriot buatan AS bisa mencapai 3 juta dolar.
Di sinilah asimetri perang ini terletak: Iran bermain dengan volume dan biaya rendah, sementara AS dan Israel membakar anggaran pertahanan jauh lebih besar hanya untuk menembak jatuh ancaman-ancaman yang murah itu.
Fawaz Gerges, profesor hubungan internasional di London School of Economics, menilai Iran sedang memainkan strategi waktu. Kepemimpinan Teheran, katanya, telah punya cukup ruang untuk merencanakan dan mengkoordinasikan langkah militernya sebelum perang meletus.
“Iran akan berusaha memperpanjang perang dan sedang bermain dengan waktu,” kata Gerges kepada DW.
Menurutnya, tujuan utama rezim bukan kemenangan konvensional, melainkan ketahanan, menyerap serangan, bertahan, lalu terus melanjutkan perlawanan. Sementara beban terberat perang ini justru jatuh ke pundak warga sipil Iran yang tidak punya pilihan apapun atas konflik yang bergulir di sekitar mereka.
Meski AS dan Israel mengeklaim hanya menyerang target militer, dampak terhadap kawasan permukiman tetap besar. Sebuah sekolah dasar di Kota Minab, Iran selatan, dilaporkan terkena serangan pada hari pertama konflik. Pada Selasa (3/3), media pemerintah Iran menayangkan pemakaman massal 168 anak dan guru yang disebut menjadi korban. PBB menyebut insiden itu “sungguh mengejutkan” dan menyerukan penyelidikan. Israel membantah telah menyerang sekolah tersebut.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: