Pakar: Trump Kehilangan Kendali dan Putus Asa Hadapi Iran

- Profesor Robert Pape dari Universitas Chicago nilai Trump putus asa hadapi Iran, tercermin dari serangan ke Pulau Kharg yang memproses 90 persen ekspor minyak Iran (950 juta barel per tahun), Trump berusaha dapat kembali kendali situasi yang hilang dari jam ke jam
- Rencana awal AS serang Iran dalam hitungan hari gagal, tujuan runtuhkan rezim ulama dan hancurkan program nuklir serta rudal balistik tak tercapai sempurna meski serangan balasan Teheran juga intensif, Trump terkejut kepemimpinan Iran tidak runtuh seperti rumah kartu
- Operasi AS-Israel tewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat top pertahanan, namun Iran punya kepemimpinan kuat dengan mekanisme pemilihan jelas: bentuk dewan pemerintah sementara, siapkan pengganti lewat Majelis Pakar berisi 88 orang hasil seleksi Dewan Penjaga
, Jakarta – Profesor ilmu politik dari Universitas Chicago, Robert Pape menduga bahwa sebetulnya Presiden AS Donald Trump sudah sangat putus asa menghadapi Iran dalam perang yang makin memanas ini. Menurut Pape, hal tersebut tercermin dari serangan AS ke pusat ekspor minyak mentah di Teheran, Pulau Kharg. Di situ, Trump terlihat sekali ingin mengontrol situasi.
“Sulit untuk memahami pikiran siapa pun, apalagi pikiran Donald Trump. Tetapi saya pikir apa yang dia coba lakukan adalah mendapat kembali kendali atas situasi ketika dia kehilangan kendali dari jam ke jam, hari demi hari,” kata Pape kepada Al Jazeera, Sabtu (14/3).
Pulau Kharg memproses 90 persen dari total ekspor minyak Iran dan menangani 950 juta barel setiap tahun.
Di kesempatan itu, Pape mengatakan rencana awal AS menyerang Iran cuma dalam hitungan hari. Namun, karena tujuan tak tercapai AS terus menekan Iran tapi serangan balasan Teheran juga tak kalah intensif.
AS dan Israel menggempur Iran dengan tujuan meruntuhkan rezim ulama dan menghancurkan program nuklir serta rudal balistik mereka. Namun, tak ada dari tujuan itu yang tercapai sempurna.
“Dia pikir dia akan mendapatkan perubahan rezim dan bahwa kepemimpinan Iran akan runtuh seperti rumah kartu remi, tetapi dia kemudian mengatakan terkejut mereka tidak runtuh,” kata Pape.
Operasi AS dan Israel memang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat top pertahanan. Namun, Iran punya kepemimpinan yang kuat dan tak mudah digoyah.
Mereka juga punya mekanisme pemilihan calon pemimpin tertinggi yang begitu jelas. Usai Khamenei tewas, Iran membentuk dewan pemerintah sementara. Di waktu yang sama, Iran menyiapkan pengganti Khamenei dalam pemilihan yang diadakan Majelis Pakar. Lembaga ini, berisi 88 orang yang sudah melalui seleksi Dewan Penjaga.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: