Kelompok Bersenjata Irak Masuk Iran Bawa Bantuan Kemanusiaan di Tengah Ancaman Serangan Darat AS

- Kelompok milisi Irak, Hashd al-Shaabi (PMF), memasuki Iran membawa 70 ton bantuan pangan dan medis dalam apa yang disebut sebagai "kampanye loyalitas" kepada Teheran di tengah perang dengan AS-Israel.
- AS tengah mempersiapkan opsi serangan darat ke Iran untuk menguasai pulau-pulau strategis di Selat Hormuz, sementara rencana melibatkan pejuang Kurdi sebagai front tambahan untuk sementara dinilai tidak layak.
- Serangan udara AS-Israel terus berlanjut, menghantam situs nuklir sipil, pabrik baja, dan universitas di Iran, disertai pemadaman listrik di Teheran dan sekitarnya.
, Yogyakarta-Otoritas Iran menyambut kedatangan sejumlah pasukan paramiliter Irak yang masuk ke wilayahnya dalam sebuah konvoi yang disebut sebagai “misi kemanusiaan”. Kedatangan ini terjadi di tengah meningkatnya ancaman perang dengan Amerika Serikat dan Israel, yang kini mempertimbangkan opsi serangan darat.
Rekaman yang beredar di media Iran dan Irak pada Sabtu dan Minggu memperlihatkan konvoi milik Hashd al-Shaabi atau Popular Mobilisation Forces (PMF) — kelompok milisi pro-Iran — memasuki wilayah Iran. Konvoi itu terdiri dari puluhan truk bak terbuka yang mengangkut kargo terbungkus, serta pria berseragam militer yang sebagian di antaranya juga mengenakan sorban.
Para anggota konvoi tersebut mengibarkan bendera Irak sekaligus bendera Hizbullah Lebanon, sesama anggota “poros perlawanan” yang dipimpin Teheran. Kantor berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, menyebut gerakan ini sebagai “konvoi bantuan kemanusiaan pertama dari rakyat Irak”.
Saluran berita berbahasa Arab milik televisi negara Iran, Al-Alam, menamai kegiatan ini sebagai “kampanye loyalitas” dan menyebutkan konvoi tersebut membawa 70 ton bahan makanan dan perlengkapan medis. Pemerintah Iran sendiri berkali-kali menegaskan sejak perang pecah sebulan lalu bahwa negara itu tidak mengalami kekurangan kebutuhan pokok.
Konvoi berangkat dari Basra di selatan Irak, kemudian melintasi perbatasan menuju Khuzestan di barat Iran. Titik masuknya adalah Shalamcheh, sebuah kota bersejarah di perbatasan yang pernah menjadi lokasi serangan gas kimia oleh pasukan Irak pada masa Perang Iran-Irak era 1980-an.
Selama perjalanan, para pejuang PMF merekam video di Abadan dan Khorramshahr, di mana warga setempat terlihat menyambut mereka dengan sorak-sorai diiringi lantunan lagu-lagu Syiah. Imam shalat Jumat setempat tampak merangkul para pejuang dan ulama yang datang, sambil menggenggam senapan sebagai simbol perlawanan di masa perang.
Sejumlah laporan yang belum terverifikasi menyebutkan pasukan Irak itu sempat terlihat di jalanan Teheran, namun otoritas Iran maupun rekaman yang dapat dikonfirmasi tidak mengonfirmasi hal tersebut. Spekulasi ini berkaitan dengan tuduhan bertahun-tahun bahwa Iran memanfaatkan PMF dan kelompok bersenjata sekutunya untuk menumpas perbedaan pendapat di dalam negeri — tuduhan yang selalu dibantah oleh Teheran.
Di tengah pemadaman internet yang berlangsung sebulan, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan pandangannya soal perkembangan situasi di Iran.
“Saya rasa pergantian rezim sudah terjadi; kita tidak bisa berbuat banyak lebih dari itu,” ujar Trump kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenannya pada Senin. “Satu rezim sudah hancur, sudah mati. Rezim berikutnya sebagian besar sudah mati, dan rezim ketiga yang tengah kita hadapi adalah orang-orang yang belum pernah dihadapi siapa pun sebelumnya,” lanjutnya.
Washington dikabarkan tengah mempersiapkan serangkaian operasi darat di tanah Iran guna menguasai pulau-pulau strategis di pesisir selatan yang menjadi pusat pengolahan minyak dan gas, sekaligus mengendalikan Selat Hormuz. AS dan Israel juga dilaporkan mempertimbangkan penggunaan kelompok bersenjata Kurdi yang berbasis di Irak untuk membuka front darat baru di dalam Iran.
Namun, menurut laporan Channel 12 Israel, rencana pelibatan Kurdi itu kini dinilai tidak layak dilaksanakan dalam waktu dekat, menyusul bocornya informasi ke media, lobi dari pihak-pihak terkait, dan tuntutan jaminan dari pihak pejuang Kurdi.
Sejak perang berlangsung, IRGC berulang kali melancarkan serangan ke pangkalan-pangkalan Kurdi di Irak menggunakan drone bom dan rudal balistik. Pejabat senior Dewan Pertahanan Iran Ali Akbar Ahmadian menegaskan bahwa Iran hingga kini hanya mengincar “pangkalan AS, rezim Zionis, dan kelompok separatis” di kawasan Kurdistan Irak — tetapi memperingatkan akan menghancurkan “semua fasilitas” di sana jika pejuang Kurdi berani memasuki wilayah Iran.
Serangan udara AS dan Israel terus berlangsung di Teheran dan berbagai kota Iran, termasuk menghantam situs nuklir sipil, pabrik baja, dan sebuah universitas. Serangan semalam yang terjadi menjelang Senin menyebabkan pemadaman listrik sementara di beberapa wilayah Teheran dan kota Karaj di dekatnya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: