TODAY'S RECAP

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

21 April 2026
TODAY'S RECAP

Cari berita

Kabar Baik dari Perut Bumi Kalimantan: Indonesia Punya Dua Sumber Gas Baru Berkapasitas 7 Triliun Kaki Kubik

Poin Penting (3)
  • Kementerian ESDM mengumumkan dua blok gas baru, Geliga dan Gula, di Kalimantan Timur dengan total potensi cadangan 7 TCF gas dan ratusan juta barel kondensat, hasil eksplorasi Eni SpA asal Italia.
  • Produksi Blok Geliga ditargetkan melonjak dari 600 MMSCFD saat ini menjadi 3.000 MMSCFD pada 2030, dengan kondensat hingga 150.000 barel per hari pada 2029-2030.
  • Pemerintah berencana memprioritaskan gas untuk kebutuhan domestik dan berpeluang membangun industri LPG di Kalimantan Timur jika komposisi gas memungkinkan.

Resolusi.co, Kalimantan – Indonesia mencatat temuan eksplorasi gas terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Senin (20/4/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengumumkan dua blok gas baru berskala raksasa di Kalimantan Timur dengan total estimasi cadangan mencapai 7 triliun kaki kubik atau 7 trillion cubic feet (TCF).

Dua blok itu diberi nama Geliga dan Gula. Blok Geliga adalah temuan terbesar, dengan potensi gas sekitar 5 TCF dan kondensat sekitar 300 juta barel setara minyak. Penemuan ini berasal dari eksplorasi perusahaan energi Italia, Eni SpA. Sementara Blok Gula menyimpan sekitar 2 TCF gas ditambah 75 juta barel kondensat.

“Kami mau mengumumkan sesuatu yang kami anggap penting dan ini merupakan bagian daripada sejarah daripada proses eksplorasi dalam rangka mencari cadangan-cadangan,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di kantornya.

Dari sisi produksi, Blok Geliga dirancang untuk segera dipercepat. Kapasitas gasnya yang saat ini berkisar 600 sampai 700 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) ditargetkan tumbuh hampir tiga kali lipat menjadi 2.000 MMSCFD pada 2028, lalu mencapai 3.000 MMSCFD pada 2030.

Untuk kondensat, angkanya tidak kalah ambisius. Produksi ditargetkan menyentuh 90.000 barel per hari pada 2028.

“Selain daripada gas, kita juga menemukan nanti pada 2028, kita produksi kondensat itu kurang lebih sekitar 90.000 barel. Pada 2029 sampai 2030 itu bisa tambah lagi menjadi 150.000 barel,” jelas Bahlil.

Bila kedua blok beroperasi bersamaan, pemerintah memperkirakan tambahan produksi gabungan bisa mencapai 1.000 MMSCFD gas dan 80.000 barel per hari kondensat. Angka-angka ini belum final, masih bersifat estimasi awal yang akan terus dikonfirmasi melalui pengeboran lebih lanjut.

Yang menarik, Bahlil tidak hanya bicara soal volume. Ia menegaskan bahwa gas dari kedua blok ini akan diprioritaskan untuk konsumsi dalam negeri, termasuk mendorong hilirisasi industri dan menekan ketergantungan pada impor LPG yang selama ini membebani neraca perdagangan energi Indonesia.

Di tengah situasi global yang banyak negara mulai memperketat cadangan energinya, temuan sebesar ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan posisi tawar yang bisa mengubah peta ketahanan energi Indonesia setidaknya untuk dua dekade ke depan.

Pemerintah bahkan membuka kemungkinan membangun industri LPG langsung di Kalimantan Timur, jika hasil uji komposisi gas memenuhi syarat teknis.

“Nah, selain ini, saya akan meminta kepada Kepala SKK Migas untuk mengecek jenis daripada gasnya. Kalau gasnya C3, C4-nya cukup untuk kemudian kita bangun industri LPG, maka kita akan bangun langsung industri LPG di Kalimantan Timur untuk kemudian bisa memenuhi sebagian kebutuhan domestik kita,” tegas Bahlil.

Ia juga menyebut temuan ini sebagai bagian dari arahan langsung Presiden untuk terus mencari sumber-sumber energi baru di tengah tekanan geopolitik dan volatilitas pasar global.

“Ini penting. Pada era kondisi dunia yang hampir semua dunia sekarang menjaga cadangan mereka… ini anugerah yang diberikan dan kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru,” tuturnya.

Produksi dari kedua blok dijadwalkan mulai berjalan pada 2028.