Kapal Iran Disita AS, Hormuz Macet Lagi, IHSG Langsung Luntur ke Zona Merah

- IHSG ditutup turun 0,52% ke level 7.594 pada Senin (20/4/2026), dipimpin pelemahan sektor properti, energi, dan teknologi, dengan nilai transaksi harian mencapai Rp17,21 triliun.
- Pemicu utama adalah eskalasi konflik AS-Iran setelah AL AS menyita kapal kargo Iran dan Teheran menutup kembali Selat Hormuz, mengunci jutaan barel minyak di Teluk Persia.
- Rupiah ikut tertekan ke Rp17.170/US$ seiring arus keluar dana asing yang berlanjut dan meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko inflasi global.
, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (20/4/2026) di zona merah. Indeks terkoreksi 39,89 poin atau 0,52% ke posisi 7.594, terseret oleh pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar seiring memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sepanjang sesi sore, IHSG bergerak di kisaran 7.570 sampai 7.692. Nilai transaksi mencapai Rp17,21 triliun dari 40,83 miliar saham yang berpindah tangan, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2,46 juta kali.
Tekanan terasa merata. Sebanyak 424 saham ditutup melemah, jauh melampaui 247 saham yang berhasil menguat. Sisanya, 148 saham tidak bergerak.
Tiga sektor paling terpukul adalah properti yang ambruk 2,04%, diikuti energi sebesar 1,34%, dan teknologi turun 1,29%. Indeks LQ45 yang memuat saham-saham unggulan berkapitalisasi besar juga tertekan, melemah 0,41% ke level 755,84.
Di antara saham LQ45, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) mencatatkan penurunan paling dalam yakni 4,58%, diikuti PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang tergerus 4,55%. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) kehilangan 4,04%, sementara PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) masing-masing melemah 3,68% dan 3,63%.
Pemicunya jelas: ketegangan AS-Iran kembali membara setelah Angkatan Laut Amerika Serikat menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran di Teluk Oman pada Minggu (19/4/2026). Ini menjadi insiden pertama sejak blokade AL AS terhadap kapal-kapal Iran diberlakukan.
Situasi sempat memberi secercah harapan. Iran mengumumkan pembukaan sementara Selat Hormuz dalam kerangka gencatan senjata bersama Hizbullah. Namun Presiden AS Donald Trump menegaskan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal Iran tetap berjalan, sehingga Teheran pun menarik kembali izin tersebut dan menutup selat itu lagi. Setidaknya 13 kapal tanker minyak yang semula bergerak menuju selat berbalik arah. Tidak ada satu pun penyeberangan yang tercatat pada hari itu.
Jutaan barel minyak mentah dan gas alam cair kini terjebak di dalam Teluk Persia, memperburuk krisis energi yang sudah membebani perekonomian global.
Situasi ini menggambarkan betapa rawannya pasar Indonesia terhadap pergerakan geopolitik yang lokasinya ribuan kilometer jauhnya. Selat Hormuz bukan hanya jalur minyak, melainkan termometer kepanikan pasar global, dan setiap penutupannya langsung membaca ulang seluruh kalkulasi risiko investor.
Analis Phintraco Sekuritas menilai kembali memburuknya konflik AS-Iran telah mengikis harapan yang sempat terbuka, seiring tidak terwujudnya pembukaan kembali Selat Hormuz. Senada dengan itu, Phillip Sekuritas Indonesia mencatat bahwa gencatan senjata yang semestinya bertahan hingga Selasa diragukan ketahannya.
“Iran pada hari Minggu menolak perundingan damai baru dengan AS, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan mengirim utusan untuk berunding di Pakistan dan akan melancarkan serangan baru terhadap Iran kecuali negara itu menerima persyaratan yang diajukan AS,” terang Phillip Sekuritas Indonesia dalam catatan riset terbarunya.
Panin Sekuritas pun menegaskan arah yang sama, bahwa koreksi hari ini berpangkal pada eskalasi tensi antara AS, Israel, dan Iran pasca penutupan kembali Hormuz serta penangkapan kapal kargo Iran oleh AS.
“Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian pasar,” tegas Panin Sekuritas.
Tekanan juga merambat ke pasar mata uang. Rupiah terpantau berada di Rp17.170 per dolar AS, dengan arus keluar dana asing yang terus berlanjut seiring kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak dan prospek meningkatnya beban fiskal pemerintah.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: