Naik Harga Takut Sepi, Tidak Naik Rugi: Dilema Penjual Angkringan Jogja di Tengah Lonjakan Minyakita

- Harga Minyakita di Pasar Kranggan Yogyakarta melonjak ke Rp 22.000 per liter pasca-Lebaran, jauh di atas HET pemerintah Rp 15.700, disertai kelangkaan stok terutama kemasan satu liter.
- BPS mencatat kenaikan harga minyak goreng kini melanda 207 kabupaten/kota, atau lebih dari 57 persen wilayah Indonesia, meningkat signifikan dari pekan sebelumnya.
- Pedagang angkringan dan UMKM makanan terjepit: menaikkan harga takut sepi pembeli, tidak menaikkan harga maka laba terus tergerus setiap harinya.
, YOGYAKARTA – Di lapak angkringan yang biasanya penuh tawa dan kepulan asap, kini ada kegelisahan yang tidak tampak dari luar. Harga Minyakita, andalan para pedagang kecil untuk menggoreng tempe dan mendoan, sudah jauh melampaui angka yang tertera di kemasan. Di Pasar Kranggan, Kota Yogyakarta, harganya sudah menyentuh Rp 22.000 per liter, dari yang semula Rp 18.000 sebelum Lebaran.
Ani, salah satu pedagang di Pasar Kranggan, merasakan langsung perubahan itu.
“Kenaikannya lumayan, dari Rp 18.000 ke Rp 22.000 kenaikannya ya bulan-bulan ini setelah Lebaran,” ujar Ani, Selasa (21/4/2026).
Bukan hanya soal harga. Stok Minyakita, terutama kemasan satu liter yang paling banyak diburu, kini sulit didapat. Pelanggan yang menanyakan harga tidak jadi membeli. Pedagang di sekitar pasar pun mulai beralih ke minyak curah, pilihan yang tidak ideal tapi lebih tersedia.
Di sinilah para penjual angkringan menemui jalan buntu. Menaikkan harga gorengan berarti mengambil risiko pembeli kabur. Tidak menaikkan harga berarti menanggung selisih biaya sendirian, diam-diam menelan kerugian setiap malam.
Situasi serupa sudah lebih dulu terjadi di daerah lain. Di Demak, Jawa Tengah, pedagang angkringan bernama Udin mengaku membeli Minyakita seharga Rp 20.000 per liter, naik dari Rp 18.000 saat Ramadan.
“Mungkin strateginya nanti ukuran gorengan dikurangi. Kaget juga, baru buka setelah libur Lebaran, harga sudah naik,” kata Udin.
Kenaikan ini bukan gejala lokal. BPS mencatat pada pekan ketiga April 2026, harga minyak goreng mengalami kenaikan di 207 kabupaten dan kota, melonjak dari 177 kabupaten pada pekan sebelumnya.
“Minyak goreng ini peningkatannya terjadi pada 207 kabupaten/kota. Sengaja kami memberikan tanda seru, karena pada minggu keduanya itu hanya 177 kabupaten/kota,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (20/4/2026).
Secara nasional, rata-rata harga Minyakita tercatat di kisaran Rp 15.982 per liter, melampaui harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 15.700 per liter. Di ujung paling ekstrem, harga minyak goreng di Kabupaten Intan Jaya, Papua, menyentuh Rp 60.000 per liter.
Ada dua faktor struktural yang disebut mendorong kenaikan ini. Kementerian Perdagangan mengakui lonjakan harga bijih plastik global turut mengerek biaya produksi kemasan. Selain itu, implementasi program biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai Juli 2026 disebut berpotensi mengalihkan sekitar 3,5 juta ton CPO dari sektor pangan ke energi, menekan pasokan minyak goreng.
Di Pasuruan, Jawa Timur, pejabat Dinas Perindustrian dan Perdagangan menyebut keterlambatan distribusi Bulog sebagai salah satu pemicu langkanya Minyakita di pasar tradisional.
“Informasinya ada keterlambatan distribusi dari Bulog, karena sebelumnya mendapat penugasan untuk menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng kepada masyarakat kurang mampu,” kata Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Mulyono.
Bagi pedagang angkringan di Yogyakarta, penjelasan soal rantai distribusi dan kebijakan energi terasa terlalu jauh dari kompor mereka. Yang nyata adalah: minyak mahal, stok susah, dan gorengan harus tetap tersedia sebelum subuh.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: