Sudaryono Pastikan Banjir Sumatra Tak Ganggu Minyak Goreng Nasional

- Pasokan aman – Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan banjir di sentra sawit Sumatra tidak ganggu produksi minyak goreng nasional. Produksi dalam negeri jauh lebih besar dari konsumsi, dan mekanisme DMO menjamin kebutuhan domestik terpenuhi sebelum ekspor.
- Stok kebutuhan pokok, termasuk beras dan minyak goreng, aman di gudang pemerintah dan Bulog. Kepanikan muncul hanya jika barang sulit diperoleh, tapi saat ini semua tersedia.
- Total lahan pertanian terdampak di Sumatera Utara 38.878 hektare, dengan 5.570 hektare gagal panen, kerugian petani Rp1,132 triliun. Meski sawah terimbas, perkebunan sawit tetap luas: Riau 3,37 juta ha, Sumut 1,57 juta ha, Aceh 440 ribu ha, Sumbar 448 ribu ha.
, Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan banjir yang melanda sejumlah sentra perkebunan sawit di Sumatra tidak akan mengganggu pasokan minyak goreng nasional. Pasokan dalam negeri tetap aman karena kapasitas produksi Indonesia jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan konsumsi domestik.
Menurut Sudaryono, mekanisme Domestic Market Obligation (DMO) menjamin kebutuhan pasar dalam negeri terpenuhi sebelum ekspor dilakukan. “Kalau hitungan kami tidak berpengaruh ke produksi minyak goreng nasional ya, karena kita ini produksinya besar. Jadi yang diekspor lebih besar daripada yang dikonsumsi,” ujar Sudaryono di Kantor Kementan, Jakarta Selatan, Rabu (10/12).
Ia menekankan, kekhawatiran muncul bila barang tidak tersedia di pasaran. Namun saat ini stok masih aman. “Kita itu worry kalau barangnya enggak ada. Jadi kita dapat anugerah tahun ini, kebutuhan beras kita swasembada,” ucapnya.
Sudaryono menambahkan, dalam situasi bencana, kepanikan bisa timbul ketika kebutuhan pokok sulit diperoleh. Tapi kondisi itu tidak terjadi karena cadangan masih tersedia. “Bayangkan di saat bencana begini, kemudian barangnya tuh enggak ada. Apa enggak malah kita makin panik ya?” katanya.
Ia memastikan stok kebutuhan pokok masih tersedia di gudang pemerintah, termasuk di Bulog. “So far, stoknya ada, ada di gudang Bulog, bahkan ada yang sempat kemarin udah ramai-ramai katanya diambil dalam tanda kutip penjaraan dalam,” jelasnya.
Persoalan utama dalam kondisi darurat, menurut Sudaryono, bukan ketersediaan barang, melainkan proses pengambilan dan distribusi. “Enggak ada masalah, barangnya ada. Yang susah itu kan mau ngambil, barangnya enggak ada. Nah, ini kan diambil dan barangnya ada. Dan orang lagi genting ya sudah. Yang penting kita semua layani dulu,” tuturnya.
Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara berdampak besar pada sektor pertanian, terutama lahan sawah. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Kementan mencatat total lahan terdampak 38.878 hektare, dengan 5.570 hektare mengalami gagal panen. Estimasi kerugian petani mencapai Rp1,132 triliun.
Penjabat Sekretaris Daerah Sumatera Utara, Sulaiman Harahap, menjelaskan sebagian lahan sawah di Kabupaten Tapanuli Tengah berubah menjadi hamparan tanah akibat banjir. Kondisi itu memerlukan waktu dan biaya signifikan untuk dikembalikan menjadi lahan produktif.
Meski begitu, Sumatra tetap menjadi sentra utama perkebunan sawit nasional. Data pemerintah mencatat Riau memiliki luas 3,37 juta hektare, Sumatera Utara 1,57 juta hektare, Aceh 440 ribu hektare, dan Sumatera Barat 448 ribu hektare.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: