Banjir Kayu Gelondongan Terulang di Bener Meriah, Warga Aceh Kembali Dihantui Trauma

, Bencana banjir bandang yang membawa gelondongan kayu dalam jumlah besar kembali terjadi di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, pada Kamis malam (8/1/2026). Peristiwa ini membuat warga panik dan memperparah beban psikologis komunitas yang sebelumnya sudah terdampak bencana serupa.
Fenomena banjir yang membawa batang kayu besar kembali mengusik kehidupan warga, setelah beberapa waktu lalu wilayah ini juga dihantam bencana serupa yang meninggalkan material kayu berserakan seperti “lautan kayu”. Jejak-jejak kehancuran dari peristiwa sebelumnya masih terlihat di banyak titik pemukiman dan lahan pertanian.
Kejadian banjir kayu kali ini terjadi sementara proses pemulihan pascabanjir besar akhir November 2025 belum tuntas. Di Bener Meriah dan daerah lain di Aceh, akses infrastruktur masih banyak yang rusak dan kondisi darurat masih berlangsung, meskipun tidak setinggi puncaknya bulan lalu.
Meski debit air banjir sudah surut, tumpukan kayu gelondongan yang terbawa arus masih menjadi ancaman lama. Bagi warga, bukan hanya air deras yang menakutkan, tetapi juga material berat yang dapat menghantam rumah, jalan, dan fasilitas umum bila kembali terbawa arus sungai yang meluap.
Warga setempat menggambarkan suasana yang berbeda dari banjir biasa. Ketika air naik, banyak keluarga terpaksa bergantung pada reaksi cepat, membersihkan halaman rumah dan menyelamatkan barang-barang rumah tangga dari hantaman kayu besar. Bagi mereka yang sudah mengalami kerusakan rumah dan kehilangan harta benda, kejadian ini memperparah trauma pascabanjir sebelumnya.
Sejumlah warga bahkan masih tinggal di tempat darurat karena rumah rusak dan akses ke desa-desa terpencil belum sepenuhnya terbuka kembali setelah banjir besar sebelumnya. Ini menciptakan ketidakpastian berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Kembalinya banjir kayu gelondongan menunjukkan bahwa dampak banjir besar bukan hanya soal air, tetapi juga material berat yang dibawa arus. Kayu gelondongan ini bisa memperparah kerusakan infrastruk tur dan menambah risiko keselamatan, karena menghantam bangunan dan memblokir jalur evakuasi.
Fenomena ini juga menggarisbawahi tantangan besar dalam pemulihan pasca-bencana, di mana akses yang belum pulih sepenuhnya membuat upaya pembersihan dan mitigasi susulan sulit dilakukan. Banjir bandang serta material yang terbawa arus mencerminkan kompleksitas respons bencana, dari kesiapsiagaan menghadapi banjir ulang hingga pengelolaan material bawaan bencana.
Dalam konteks bencana yang lebih besar di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya sudah mengingatkan potensi banjir dan longsor susulan karena cuaca yang masih tidak stabil di awal tahun 2026. Wilayah berbukit seperti Bener Meriah termasuk yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana berulang.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: