“Jari di Pelatuk”: Iran Siap Balas Seketika, Trump Ancam Serangan Lebih Dahsyat dari Juni

- Menlu Iran Abbas Araghchi tegaskan pasukan siap respons segera dan kuat, menolak diplomasi di bawah ancaman militer AS yang kini mengerahkan 10 kapal perang ke Timur Tengah
- Trump desak Iran kembali ke meja perundingan soal nuklir atau hadapi serangan lebih dahsyat dari pemboman Juni 2025 yang targetkan tiga fasilitas nuklir
- Penasihat Khamenei peringatkan setiap serangan AS dari tingkat mana pun akan diperlakukan sebagai awal perang dengan respons menyeluruh yang sasar agresor dan Tel Aviv
, Jakarta-Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan pasukan bersenjata negaranya siap memberikan respons segera dan kuat terhadap kemungkinan serangan Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman aksi militer terhadap Teheran.
Araghchi memperingatkan bahwa diplomasi tidak akan efektif jika dilakukan bersamaan dengan tekanan militer dan ancaman. Ia menekankan posisi Iran yang menolak bernegosiasi di bawah bayang-bayang kekuatan militer.
“Posisi kami jelas: melakukan diplomasi lewat ancaman militer tidak akan efektif atau bermanfaat. Jika mereka mau negosiasi berjalan lancar, tidak boleh ada ancaman, tuntutan berlebihan, dan isu-isu yang tidak rasional,” kata Araghchi sebagaimana disiarkan kantor berita IRNA, Rabu (28/1).
Trump sebelumnya mendesak Iran untuk segera kembali ke meja perundingan dan membuat kesepakatan terkait program nuklirnya. Melalui unggahan di platform Truth Social, ia memperingatkan bahwa waktu Iran semakin menipis.
“Semoga Iran segera ‘datang ke meja perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara tanpa senjata nuklir yang baik bagi semua pihak. Waktu semakin menipis, ini benar-benar mendesak,” tulis Trump.
Presiden AS itu juga mengumumkan pengiriman armada besar menuju kawasan dekat Iran. Ia menyebut armada yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln tersebut bergerak cepat dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar.
“Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu dengan cepat melaksanakan misinya, dengan kecepatan dan kekerasan jika diperlukan,” ujar Trump.
Trump merujuk secara tersirat pada pemboman AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Ia memperingatkan bahwa jika Teheran menolak kesepakatan, serangan lanjutan akan jauh lebih besar dan lebih buruk.
“Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk. Jangan sampai itu terjadi lagi,” tulis Trump.
Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ali Shamkhani memberikan respons keras terhadap ancaman tersebut. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan militer AS, dari lokasi mana pun dan pada tingkat apa pun, akan dianggap sebagai awal perang.
“Setiap tindakan militer oleh AS, dari lokasi mana pun dan pada tingkat apa pun, akan dianggap sebagai awal dari sebuah perang,” kata Shamkhani.
“Responsnya akan segera, menyeluruh, dan belum pernah terjadi sebelumnya. Agresor, jantung Tel Aviv, serta semua pihak yang mendukung agresor akan menjadi sasaran,” lanjutnya.
Jumlah kapal perang AS di Timur Tengah kini mencapai 10 unit setelah kedatangan kelompok kapal induk USS Abraham Lincoln. Kehadiran armada tempur ini dinilai sebagai simbol kekuatan signifikan bagi Trump jika memutuskan melakukan serangan.
Selain aset laut, satu skuadron jet tempur F-15E Strike Eagle juga telah dikirim ke kawasan. Pengerahan pasukan ini hampir setara dengan armada yang dikerahkan ke Karibia menjelang operasi penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari 2026.
Laksamana Muda Habibollah Sayyari, wakil kepala Angkatan Darat Iran untuk Koordinasi, mengatakan musuh-musuh Iran telah gagal secara militer dan kini melancarkan perang hibrida serta kognitif. Dia menekankan bahwa setiap langkah permusuhan terhadap negara itu akan menyebabkan kerusakan serius dan biaya besar bagi musuh.
Sementara itu, Mahmoud Nabavian, wakil ketua Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran, menyatakan bahwa tindakan dan ancaman terbaru AS terkait kemungkinan serangan terhadap Iran hanyalah bagian dari perang psikologi.
Misi tetap Iran untuk PBB menyatakan melalui platform X bahwa negaranya siap untuk berdialog, namun akan membela diri jika ditekan. Iran telah berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil dan pengayaan uranium merupakan hak kedaulatannya.
Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir dengan Iran pada masa jabatan pertamanya pada 2018, tiga tahun setelah republik Islam itu sepakat menghentikan upaya mengembangkan senjata nuklir serta mengizinkan pemeriksaan internasional terhadap fasilitasnya.
Ketegangan semakin meningkat di kawasan Timur Tengah. Iran menggelar latihan militer di sekitar Selat Hormuz sebagai respons terhadap pengerahan armada AS. Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan negara-negara tetangga akan dianggap musuh jika wilayahnya digunakan AS untuk menyerang Iran.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara mereka dipakai untuk serangan terhadap Iran. Upaya diplomasi regional terus dilakukan oleh Mesir, Turki, dan negara-negara lain untuk meredam eskalasi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: