Ribut dengan Eropa, Iran Balik Tuduh Tentara Negara Uni Eropa Teroris

- Iran menetapkan tentara negara-negara Eropa sebagai kelompok teroris, membalas keputusan Uni Eropa yang mengklasifikasikan Garda Revolusi Islam sebagai organisasi teroris.
- Keputusan diambil parlemen Iran berdasarkan undang-undang yang disahkan sejak 2019, saat AS pertama kali melabeli Garda Revolusi sebagai teroris.
- Eskalasi ini terjadi saat Iran dan AS saling mengancam aksi militer, meski keduanya menyatakan masih terbuka untuk dialog diplomatik.
, TEHERAN – Parlemen Iran resmi menetapkan tentara negara-negara Eropa sebagai kelompok teroris. Keputusan itu keluar sebagai tindakan balasan setelah Uni Eropa memasukkan Korps Garda Revolusi Islam ke dalam daftar organisasi teroris.
Televisi pemerintah Iran menayangkan anggota parlemen mengenakan seragam hijau Garda saat sidang berlangsung. Di sesi yang sama, mereka meneriakkan slogan “Matilah Amerika, Matilah Israel, dan Memalukan kalian, Eropa.”
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan keputusan itu didasarkan pada Pasal 7 dari undang-undang tentang tindakan balasan terhadap deklarasi Garda Revolusi sebagai organisasi teroris. Tentara negara-negara Eropa kini resmi dianggap sebagai kelompok teroris oleh Teheran.
Belum ada penjelasan mengenai dampak langsung dari keputusan tersebut terhadap hubungan Iran dengan Eropa.
Undang-undang yang menjadi dasar keputusan itu sebenarnya sudah disahkan sejak 2019, saat Amerika Serikat pertama kali mengklasifikasikan Garda Revolusi sebagai organisasi teroris. Sidang kali ini digelar bertepatan dengan peringatan 47 tahun kembalinya Ayatollah Ruhollah Khomeini dari pengasingan, tokoh yang mendirikan republik Islam pada 1979.
Garda Revolusi adalah sayap militer yang bertugas melindungi revolusi Islam dari ancaman eksternal maupun internal. Barat menuduh mereka bertanggung jawab atas penindasan keras terhadap gerakan protes yang menewaskan ribuan orang.
Teheran membantah tuduhan itu. Pemerintah Iran justru mengklaim kekerasan yang terjadi dipicu oleh provokasi Amerika Serikat dan Israel.
Uni Eropa, pada Kamis pekan lalu, resmi memasukkan Garda Revolusi ke dalam daftar organisasi teroris sebagai respons terhadap penanganan brutal atas protes. Keputusan itu sejalan dengan langkah serupa yang sebelumnya diambil oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Ghalibaf menilai keputusan Eropa itu hanya mengikuti perintah presiden Amerika dan rezim Zionis. Langkah tersebut, katanya, justru mempercepat ketidakrelevanan Eropa dalam tatanan dunia masa depan.
“Keputusan ini malah meningkatkan dukungan domestik untuk Garda Revolusi,” ujar Ghalibaf.
Sidang berlangsung di tengah eskalasi perang kata antara Iran dan Amerika Serikat. Kedua negara saling melontarkan peringatan dan ancaman soal kemungkinan aksi militer.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan campur tangan dengan mengirim kelompok kapal induk ke wilayah Timur Tengah. Namun, dalam beberapa hari terakhir, baik Washington maupun Teheran menyatakan tetap terbuka untuk dialog.
Trump mengonfirmasi percakapan tengah berjalan, tetapi tidak menarik kembali ancaman militernya.
Klasifikasi teroris yang saling dibalas ini menunjukkan betapa rapuhnya jalan diplomasi di tengah tekanan politik domestik masing-masing pihak.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: