Empat Doa Menyambut Ramadan dari Hadis: Mana yang Paling Sahih untuk Diamalkan?

- Doa melihat hilal "Allahumma ahillahu 'alaina..." dari hadis riwayat Tirmidzi adalah doa paling sahih untuk menyambut Ramadan, dibaca saat hilal tampak sebagai tanda pergantian bulan hijriah
- Doa riwayat Ubadah bin ash-Shamith RA berisi tiga permohonan sekaligus: umur panjang untuk mencapai Ramadan, kesempatan beribadah di dalamnya, dan diterimanya seluruh amal
- Doa populer "Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya'bana..." dinilai sebagian ulama memiliki riwayat dhaif, boleh diamalkan sebagai doa biasa namun tidak bisa diyakini sebagai sunnah sahih dari Rasulullah SAW
, Jakarta – Setiap menjelang Ramadan, berbagai doa beredar luas di media sosial dan grup percakapan. Sebagian memiliki sandaran riwayat yang kuat, sebagian lain lemah bahkan tidak jelas asal-usulnya. Mengetahui perbedaannya penting agar amalan yang dikerjakan sesuai tuntunan.
Doa yang paling kuat riwayatnya adalah doa melihat hilal. Bersumber dari hadis Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW terbiasa membaca doa ini setiap kali hilal terlihat sebagai tanda pergantian bulan hijriah, termasuk awal Ramadan. Hadis ini dinilai hasan oleh para ulama.
Lafal doa tersebut berbunyi: Allahumma ahillahu ‘alaina bil yumni wal iman, was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah. Artinya: “Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3451, Ahmad, dan Ad-Darimi).
Kalimat penutup “Rabbi wa rabbukallah” bukan sekadar pelengkap. Ia adalah penegasan tauhid bahwa bulan hanyalah makhluk, bukan sesuatu yang layak diagungkan. Doa ini mengajarkan umat Islam untuk memulai bulan dengan memperbarui komitmen iman, bukan sekadar menyambut pergantian kalender.
Selain doa hilal, ada riwayat dari Imam ath-Thabarani dalam Kitab ad-Du’a yang bersumber dari sahabat Ubadah bin ash-Shamith RA. Doa ini diajarkan Rasulullah kepada para sahabat ketika Ramadan benar-benar tiba. Lafal singkatnya: Allahumma salimni min ramadhana wa sallim ramadhana li wa tasallamhu minni mutaqabbalan. Artinya: “Ya Allah, sampaikan aku menuju Ramadan, sampaikanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah amal ibadahku di bulan Ramadan.”
Tiga permohonan dalam doa itu saling berkaitan, umur yang cukup untuk mencapai Ramadan, kesempatan untuk beribadah di dalamnya, dan amal yang diterima di akhirnya. Ketiganya tidak bisa dipisahkan.
Bagi yang ingin doa lebih lengkap, ada riwayat dari Abdul Aziz bin Abi Rawad yang memuat permohonan kekuatan, semangat, dan perlindungan dari rasa malas selama Ramadan, termasuk harapan untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar. Doa panjang ini mencerminkan kesadaran bahwa tantangan terbesar Ramadan bukan semata lapar dan haus, melainkan menjaga konsistensi ibadah selama sebulan penuh.
Adapun doa yang kerap terdengar di masjid-masjid menjelang Ramadan, Allahumma barik lana fî Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana, perlu diperlakukan lebih hati-hati. Sebagian ulama menilai riwayatnya dhaif. Namun kandungan maknanya baik dan tidak bertentangan dengan syariat, sehingga boleh diamalkan sebatas doa biasa, bukan sebagai sunnah yang diyakini pasti berasal dari Nabi.
Soal waktu terbaik membaca doa-doa ini, para ulama menyepakati momen paling tepat adalah ketika hilal benar-benar terlihat atau ketika bulan Ramadan resmi tiba. Tidak ditemukan riwayat sahih yang secara khusus menganjurkan doa tertentu jauh sebelum Ramadan datang.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: