Insanul Fahmi Pertimbangkan Laporan ke Komnas Anak karena Akses Bertemu Anaknya Dibatasi

- Insanul Fahmi mempertimbangkan melaporkan istrinya, Wardatina Mawa, ke Komnas Anak karena merasa akses untuk bertemu anaknya terus dibatasi, dengan didampingi kuasa hukumnya.
- Langkah pelaporan belum dilakukan; Insanul menyebut opsi tersebut sebagai jalan terakhir dan masih mengutamakan pendekatan damai, terutama di bulan Ramadan.
- Insanul terinspirasi oleh langkah Inara Rusli yang sebelumnya melaporkan Virgoun ke Komnas Anak dalam kasus serupa terkait hak bertemu anak.
, Jakarta – Insanul Fahmi membuka suara soal persoalan yang tengah menghimpit rumah tangganya. Di sela pertemuan dengan awak media, Sabtu (21/2/2026), ia mengungkap kemungkinan melaporkan sang istri, Wardatina Mawa, ke Komisi Nasional Perlindungan Anak atau Komnas Anak, lantaran merasa waktu pertemuannya dengan sang buah hati terus dipersempit.
“Makanya dalam beberapa waktu ini, kalau misalnya memang masih belum ada respons buat ketemu anak, kayaknya aku sama Bang Tommy pengin tegas ke Komnas Anak,” ujar Insanul Fahmi, menyebut nama kuasa hukumnya.
Langkah ini bukan tanpa inspirasi. Insanul mengaku tergerak setelah melihat Inara Rusli, istri sirinya, menempuh jalur serupa terhadap mantan suami Inara, yakni Virgoun, dalam kasus yang dinilai punya kemiripan.
Meski sudah menyebut nama lembaga dan kuasa hukum, Insanul menegaskan pelaporan itu belum dilakukan dan ia masih berharap persoalan ini bisa diselesaikan tanpa harus melewati jalur formal.
“Karena kalau misalnya kita laporin ke Komnas ini jadi semakin panjang ya. Apalagi bulan puasa, pengin damai-damai, kita masih berharap kalau bisa dijalankan dengan cara yang persuasif,” paparnya.
Sambil menunggu perkembangan, Insanul menyebut komunikasi dengan anaknya masih berjalan, meski hanya lewat sambungan video call.
Ada sesuatu yang sedikit ganjil dari narasi ini: seorang ayah yang menyebut jalur hukum sebagai “senjata terakhir” sekaligus secara terbuka membicarakannya kepada media. Tapi begitulah dinamika konflik keluarga yang masuk ke ruang publik, batas antara upaya persuasif dan tekanan sosial kerap kabur.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: