Rencana Impor 580.000 Bibit Ayam dari AS Dinilai Bisa Bumerang bagi Peternak Kecil, Ini Alasannya

- Pemerintah berencana mengimpor 580.000 ekor grand parent stock (GPS) ayam dari Amerika Serikat senilai US$20 juta (sekitar Rp336,88 miliar) sebagai bagian dari perjanjian dagang resiprokal Indonesia-AS, dengan alasan Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan GPS mandiri.
- Pengamat Pertanian Core Indonesia Eliza Mardian memperingatkan bahwa impor GPS yang tidak dikalkulasi berbasis kebutuhan nasional riil berisiko memicu over supply DOC dan menekan harga ayam hidup di tingkat peternak kecil, bukan menurunkan harga di tingkat konsumen.
- Eliza merekomendasikan impor GPS wajib disertai perhitungan kebutuhan berbasis data, pengendalian pasokan DOC, dan peta jalan pembibitan GPS dalam negeri agar tidak memicu instabilitas harga yang merugikan peternak.
, JAKARTA – Rencana pemerintah mengimpor 580.000 ekor grand parent stock (GPS) ayam dari Amerika Serikat mendapat sorotan dari kalangan akademisi dan pengamat. Kebijakan yang menjadi bagian dari perjanjian dagang resiprokal Indonesia-AS itu dinilai perlu diiringi kalkulasi kebutuhan yang berbasis data, agar tidak justru merugikan peternak kecil di kemudian hari.
Impor GPS senilai US$20 juta atau sekitar Rp336,88 miliar tersebut merupakan tindak lanjut dari Agreements on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump. Pemerintah menegaskan GPS memang sangat dibutuhkan industri perunggasan nasional karena Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan GPS sendiri.
“GPS sangat dibutuhkan peternak ayam dalam negeri sebagai sumber genetik utama dan belum ada fasilitas pembibitan GPS di Indonesia,” demikian keterangan pemerintah yang dikutip pada Selasa (24/2/2026).
Namun Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Eliza Mardian, mengingatkan bahwa impor GPS tidak secara otomatis menekan harga ayam di tingkat konsumen dalam jangka pendek. Risiko justru mengintai di sisi hulu, yakni potensi kelebihan pasokan bibit ayam umur sehari (day old chick/DOC) yang pada akhirnya menekan harga ayam hidup di kandang peternak.
“Risiko yang perlu diwaspadai justru sebaliknya: apabila impor tidak diperhitungkan dengan matang, bisa memicu over supply DOC di kemudian hari yang menekan harga ayam hidup di tingkat peternak, terutama peternak kecil,” kata Eliza.
Eliza mengakui ketergantungan Indonesia pada GPS impor memang sulit dihindari dalam jangka pendek. Tanpa pasokan GPS, produksi ayam pedaging domestik bisa terganggu. Namun ia menekankan bahwa ketergantungan genetik dalam jangka panjang tetap menjadi persoalan struktural yang perlu segera dibenahi secara sistematis.
Untuk itu, ia merekomendasikan agar importasi GPS disertai tiga prasyarat: perhitungan kebutuhan nasional yang berbasis data riil, mekanisme pengendalian pasokan DOC, serta peta jalan pengembangan fasilitas pembibitan GPS dalam negeri.
“Tanpa semua itu, stabilisasi pasokan justru berpotensi menimbulkan instabilitas harga dan mengganggu kesejahteraan peternak,” tegasnya.
Di sisi lain, pemerintah menyatakan impor produk ayam dari AS tidak hanya terbatas pada GPS hidup. Indonesia juga mengimpor mechanically deboned meat (MDM) sebagai bahan baku industri makanan olahan seperti sosis, nugget, dan bakso, dengan estimasi volume antara 120.000 hingga 150.000 ton per tahun. Pemerintah menegaskan perlindungan peternak dalam negeri dan keseimbangan pasokan-harga ayam nasional tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan impor.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: