Minyak Mentah Melonjak hingga 9% Setelah Iran Nyatakan Selat Hormuz Ditutup, Tanker Berhenti Beroperasi

- Harga minyak mentah AS naik 8,4% ke USD 72,74 per barel dan Brent melonjak 9% ke USD 79,45 setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan mengancam kapal yang melintas, menjadi harga tertinggi sejak serangan Juni 2025.
- Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz terhenti sementara akibat kepanikan pelayaran, mengancam pasokan lebih dari 14 juta barel minyak per hari yang melewati jalur itu, sebagian besar menuju negara-negara Asia.
- Analis Barclays memperkirakan Brent bisa tembus USD 100 per barel dan UBS memproyeksikan harga spot berpotensi melampaui USD 120 jika gangguan pasokan berlangsung lama, sementara negosiasi AS-Iran masih buntu setelah Teheran menolak perundingan.
, Jakarta – Pasar minyak dunia bergolak keras pada perdagangan Senin setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menanggung sekitar sepertiga ekspor minyak laut global. Harga minyak mentah melonjak tajam, bahkan sempat menembus kenaikan lebih dari 12% dalam sesi perdagangan sebelum akhirnya sedikit mereda.
Minyak mentah acuan Amerika Serikat ditutup naik 8,4% atau USD 5,72 per barel ke posisi USD 72,74. Minyak Brent sebagai patokan internasional melesat 9%, atau setara USD 6,65 per barel, menjadi USD 79,45.
Ini menjadi level harga tertinggi sejak serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.
Pemicu utama lonjakan ini adalah pernyataan komandan Garda Revolusi Iran yang menyatakan selat tersebut telah ditutup dan mengancam akan membakar kapal mana pun yang berani melintas. Kabar itu menyebar di tengah kepanikan pasar yang sebelumnya sudah terguncang oleh serangan besar-besaran gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan.
Gelombang serangan itu dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Republik Islam, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat tinggi. Iran kini berada dalam kekosongan kepemimpinan, sebuah kondisi yang memperumit perkiraan pasar tentang ke mana konflik ini akan bergerak.
Konsultan energi Rystad Energy melaporkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz praktis berhenti untuk sementara. Analis Kpler, Matt Smith, menggambarkannya secara blak-blakan: “Kapal-kapal tanker benar-benar ketakutan.”
Data Kpler mencatat lebih dari 14 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz sepanjang 2025, dengan sekitar tiga perempatnya dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Gangguan berkepanjangan di jalur ini bisa memukul rantai pasokan energi Asia jauh lebih dalam dari sekadar angka harga.
Analis Barclays, Amarpreet Singh, tidak menyembunyikan kekhawatirannya. “Bagaimana situasi ini akan berakhir masih sangat tidak pasti. Sementara itu, pasar minyak harus menghadapi skenario terburuknya,” katanya. Barclays memperkirakan Brent bisa menembus USD 100 per barel, sementara UBS bahkan memproyeksikan harga spot bisa melampaui USD 120 apabila gangguan pasokan berlangsung signifikan.
Analis UBS yang dipimpin Henri Patricot menyebut kecepatan pemulihan lalu lintas di Hormuz dan sejauh mana Iran membalas akan menjadi penentu utama arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan.
Di tengah tekanan itu, Presiden AS Donald Trump membuka celah negosiasi. Ia menyebut pihak Iran ingin berbicara dan ia bersedia melakukannya. Kepada CNBC, Trump juga menyatakan operasi militer AS di Iran berjalan lebih cepat dari jadwal.
Namun Iran menutup pintu itu rapat-rapat. Pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, menegaskan pihaknya tidak akan berunding dengan Washington dan menyebut serangan gabungan AS-Israel telah menyeret kawasan ke dalam perang yang tidak perlu.
Iran sendiri merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC, dengan produksi sekitar 3,3 juta barel per hari. Di luar tekanan dari Selat Hormuz, ekspor minyak Iran juga berpotensi merosot akibat keguncangan internal, kemungkinan aksi mogok di wilayah produksi, serta ketidakpastian siapa yang akan memegang kendali di Teheran.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: