Jenderal IRGC Peringatkan Konflik Baru AS-Iran Hampir Pasti Terjadi Seiring Perundingan yang Buntu

- Jenderal IRGC Mohammad Jafar Asadi memperingatkan konflik baru antara Iran dan AS hampir pasti terjadi, menyebut Washington tidak berkomitmen pada janji maupun perjanjian apa pun di tengah perundingan yang kembali buntu.
- Trump mengkritik proposal damai terbaru Iran dan menyebut AS punya dua pilihan: serangan besar-besaran atau negosiasi, sambil menegaskan secara kemanusiaan ia lebih memilih jalur damai.
- Iran sebelumnya sudah mengirimkan proposal baru untuk memulai kembali perundingan yang sempat terhenti, namun respons AS dinilai tidak memadai oleh Teheran.
, Jakarta – Perundingan damai Iran dan Amerika Serikat kembali menemui jalan buntu, dan kali ini nada dari Teheran jauh lebih keras dari sebelumnya. Wakil Inspektur Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohammad Jafar Asadi, secara terbuka menyatakan konflik baru antara kedua negara hampir pasti tidak terhindarkan.
“Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar akan terjadi, dan bukti menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berkomitmen pada janji atau perjanjian apa pun,” kata Mohammad Jafar Asadi seperti dikutip kantor berita Fars Iran, Sabtu (2/5/2026).
Pernyataan itu muncul setelah Trump secara terbuka mengkritik proposal damai terbaru yang dikirimkan Iran. Di Washington, Trump bahkan menggambarkan situasi ini dengan dua pilihan yang sangat berbeda jaraknya.
“Apakah kita ingin langsung membombardir mereka habis-habisan dan menghancurkan mereka selamanya? Atau apakah kita ingin mencoba mencapai kesepakatan? Itulah pilihannya,” kata Trump seperti dikutip CNN International.
Trump kemudian menegaskan pilihan keduanyalah yang akan diambil, yaitu jalur perundingan. Namun ia mempertegas itu dengan cara yang tidak terdengar seperti ajakan berdamai.
“Secara kemanusiaan, saya lebih memilih untuk tidak melakukannya,” katanya, merujuk pada opsi serangan besar-besaran.
Kebuntuan saat ini terjadi karena Iran sudah mengirimkan proposal terbaru sebagai upaya memulai kembali perundingan yang sempat terhenti. Namun respons dari Washington tidak menyambut. Trump menyatakan tidak puas dengan isi proposal itu, tanpa merinci di mana letak ketidakpuasannya.
Dua pihak yang sama-sama tidak mau bergerak lebih dulu, sementara Selat Hormuz masih tertutup dan tekanan ekonomi global terus menumpuk. Pernyataan jenderal IRGC itu terdengar bukan sekadar retorika, melainkan sinyal bahwa sabar Teheran sudah mendekati batasnya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: