Kabar Duka dari Tanah Suci: Jemaah Haji RI yang Wafat Bertambah, Puluhan Masih Berjuang di RS Saudi

- Tujuh jemaah haji Indonesia wafat di Arab Saudi sejak operasional haji 1447 H dimulai, bertambah dari lima orang per 30 April 2026, dengan 39 jemaah masih dirawat di RSAS.
- Lebih dari 62.000 jemaah telah diberangkatkan, sebagian mulai bergerak dari Madinah ke Makkah, layanan kesehatan dikerahkan di 40 klinik Makkah dan 5 klinik Madinah.
- Pemerintah memperingatkan KBIHU agar mematuhi aturan, dengan ancaman pencabutan izin bila terbukti melanggar prosedur yang membahayakan keselamatan jemaah.
, Jakarta – Kabar duka kembali datang dari Tanah Suci. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melaporkan jumlah jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi bertambah menjadi tujuh orang sejak operasional haji 1447 H dimulai. Sementara itu, 39 jemaah lainnya masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit Arab Saudi (RSAS).
Sebelumnya, per 30 April 2026 atau hari ke-10 operasional, angka kematian tercatat lima orang. Penambahan dua jemaah dalam beberapa hari terakhir menggenapi total menjadi tujuh, sementara jumlah yang dirawat di RSAS menunjukkan penurunan dibanding laporan sebelumnya yang sempat mencapai 49 orang.
Di antara jemaah yang lebih dulu wafat, Kemenhaj telah mengidentifikasi lima nama. Nursidah (58) dari kloter UPG asal Kabupaten Gowa, Kamariah Dul Tayib (85) dari kloter SUB-08 asal Kabupaten Pasuruan, dan Rodiah (68) dari kloter SOC-03 asal Solo merupakan jemaah pertama yang berpulang. Menyusul kemudian Tukiman Sardi Kromo Karso (54) asal Kota Bengkulu dan Dawanus Mahmud Muhammad Hasyim (51) asal Kabupaten Kampar, Riau.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kami sampaikan terdapat dua jemaah wafat atas nama Tukiman Sardi Kromo Karso dan Dawanus Mahmud Muhammad Hasyim,” kata Juru Bicara Kemenhaj, Suci Annisa, dalam konferensi pers.
“Semoga almarhum ditempatkan di sisi terbaik Allah Subhanahu wa Ta’ala,” lanjutnya.
Di luar kasus kematian, kondisi kesehatan jemaah secara umum terus dipantau ketat. Ribuan jemaah telah mengakses layanan rawat jalan, sementara puluhan lainnya dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan rumah sakit setempat. Pemerintah menyiagakan 40 klinik di Makkah dan 5 klinik di Madinah, didukung KKHI di kedua kota serta kerja sama dengan RS rujukan Arab Saudi.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaf, menegaskan keselamatan jemaah tetap menjadi prioritas utama, terutama bagi mereka yang masuk kategori lansia dan berisiko tinggi.
“Kami ingin memastikan setiap jemaah, terutama lansia dan yang memiliki risiko kesehatan, mendapatkan pendampingan yang optimal sejak awal keberangkatan hingga seluruh rangkaian ibadah selesai,” ujar Maria Assegaf.
Hingga hari ke-11 operasional, sebanyak 62.193 jemaah dari 159 kloter telah diberangkatkan ke Tanah Suci. Dari jumlah itu, 57.955 jemaah telah tiba di Madinah, sementara sekitar 4.800 jemaah mulai bergerak dari Madinah menuju Makkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah hingga puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Selain laporan kematian, terdapat insiden kecelakaan bus pada 28 April lalu di Madinah, yang melibatkan jemaah dari kloter JKS-01 asal Bekasi dan SUB-02 asal Probolinggo. Tujuh jemaah dari kloter JKS-01, dua dari SUB-02, serta seorang pengurus KBIHU mengalami luka ringan. Kemenhaj memastikan insiden itu tidak mengganggu jalannya operasional haji secara keseluruhan.
Angka tujuh kematian dalam 12 hari pertama operasional tentu belum bisa dibandingkan dengan skala musim haji penuh. Namun angka itu membawa beban tersendiri, mengingat Indonesia masih membawa catatan buram dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2025, sebanyak 447 jemaah wafat di Arab Saudi, menjadikan Indonesia sebagai negara penyumbang kematian haji terbesar, sekitar 14 persen dari total seluruh dunia.
Kemenhaj juga menyampaikan peringatan keras kepada seluruh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) agar tidak melakukan kegiatan di luar prosedur resmi. Pemerintah menyatakan tidak akan segan mencabut izin operasional bila ditemukan pelanggaran serius.
“Keselamatan dan perlindungan jemaah adalah prioritas utama. Tidak ada kompromi terhadap pelanggaran aturan dalam penyelenggaraan ibadah haji,” kata Maria Assegaf.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: