Trump Klaim Iran Sepakat Tangguhkan Nuklir Tanpa Batas Waktu, Selat Hormuz Kembali Dibuka

- Trump mengklaim Iran menyetujui penghentian program nuklir tanpa batas waktu, namun Teheran belum memberikan konfirmasi resmi dan tetap bersikukuh atas hak pengayaan uranium.
- Selat Hormuz dibuka kembali menyusul gencatan senjata di Lebanon, harga minyak Brent langsung turun sekitar 9 persen ke kisaran US$90 per barel di New York.
- Kesepakatan berpotensi membentur hambatan internal AS, dengan Senator Lindsey Graham dan sejumlah pendukung Trump menolak skema yang menyerupai JCPOA era Obama, termasuk pencairan dana beku Iran.
, Jakarta – Selat Hormuz kembali terbuka bagi lalu lintas kapal komersial setelah berminggu-minggu menjadi titik panas krisis energi global. Bersamaan dengan itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah menyetujui penghentian program nuklirnya tanpa batas waktu, sebuah pernyataan yang langsung mendorong pasar energi dunia bergerak turun tajam.
Trump menyampaikan klaim tersebut lewat wawancara telepon pada Jumat (17/4) waktu New York. Ia menyebut moratorium nuklir Iran itu bersifat permanen, tidak ada tanggal kedaluwarsa.
“Sebagian besar poin utama telah difinalisasi. Ini akan berjalan cukup cepat,” kata Presiden Trump dalam wawancara tersebut.
Namun hingga berita ini diturunkan, Teheran belum mengeluarkan satu pun pernyataan resmi yang mengonfirmasi klaim Trump. Ini bukan detail kecil, mengingat Iran selama ini bersikukuh memiliki hak penuh untuk memperkaya uranium sebagai bagian dari kedaulatan energi mereka.
Terlepas dari kesenjangan pernyataan itu, sinyal dari lapangan cukup nyata. Para pemimpin di Teheran mengumumkan Selat Hormuz dibuka kembali setelah Israel menyetujui gencatan senjata di Lebanon. Setidaknya delapan kapal tanker minyak yang sebelumnya tertahan di perairan Teluk Persia segera bergerak menuju selat untuk menguji pengumuman tersebut.
Harga minyak langsung merespons. Minyak mentah Brent anjlok sekitar 9 persen ke kisaran US$90 per barel pada Jumat sore waktu New York. Harga acuan fisik global, Dated Brent, juga tercatat di bawah US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 11 Maret.
Konflik ini sendiri bermula sejak akhir Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Teheran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, sekaligus menarget infrastruktur minyak dan gas milik sekutu Amerika di Teluk Persia. Dari situlah krisis energi global yang mengguncang pasar dunia bermula.
Trump juga menegaskan bahwa AS tidak akan mencairkan dana Iran yang selama ini dibekukan. Ia menjawab “tidak” berulang kali saat ditanya soal kemungkinan tersebut. Laporan Axios sebelumnya menyebut salah satu opsi yang dibahas adalah pelepasan sekitar US$20 miliar dana beku Iran, ditukar dengan penyerahan stok uranium yang diperkaya milik Teheran.
“Banyak hal baik yang terjadi, termasuk di Lebanon,” tambah Trump.
Kekhawatiran di kalangan pendukung keras Trump pun mulai menguat. Senator Republik Lindsey Graham secara terbuka menyuarakan keberatannya jika kesepakatan yang muncul nanti menyerupai perjanjian era Obama, yang dikenal sebagai JCPOA atau Joint Comprehensive Plan of Action 2015.
“Saya sangat yakin Presiden Trump tidak akan membiarkan Iran diperkaya dengan puluhan miliar dolar karena telah menyandera dunia dan menciptakan kekacauan di kawasan,” tulis Graham di platform X.
Analis pun mengingatkan agar tidak terlalu terburu-buru. Behnam Ben Taleblu, Direktur Senior Iran Program di Foundation for Defense of Democracies, menekankan bahwa inti persoalannya bukan soal retorika, melainkan konsistensi strategi.
“Pertanyaannya adalah bagaimana kesepakatan itu berpotensi melemahkan strategi yang telah dinyatakan presiden,” ujar Taleblu.
Trump sendiri pernah menarik AS keluar dari JCPOA pada 2018. Ia menyebut perjanjian itu gagal membatasi rudal balistik Iran dan dukungan mereka terhadap kelompok proksi di kawasan.
Di meja perundingan, perjalanan menuju kesepakatan ternyata tidak mulus. Putaran awal pembicaraan gencatan senjata yang berlangsung di Islamabad, dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, berakhir tanpa hasil. Kini putaran berikutnya sedang disiapkan. Ketika ditanya apakah ia bersedia terbang ke Pakistan untuk menandatangani kesepakatan, Trump menjawab singkat, “Mungkin saja.”
Sementara itu, Washington menyatakan blokade terhadap kapal-kapal yang hendak masuk dan keluar dari pelabuhan Iran masih berlaku. Teheran menyebut blokade tersebut melanggar kerangka gencatan senjata yang sudah disepakati, dan mengancam akan mengambil langkah balasan jika kebijakan itu tidak dicabut.
Di front Lebanon, situasinya pun belum sepenuhnya tenang. Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan militernya “belum menyelesaikan tugasnya” terhadap Hizbullah di Lebanon selatan. Kampanye militer Israel di wilayah itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan memaksa sekitar satu juta warga mengungsi, menurut otoritas setempat.
Ada ironi yang sulit diabaikan di sini. Trump, yang berkampanye dengan janji bahwa ia tidak akan masuk ke jebakan kesepakatan ala Obama, kini sedang mengerjakan sesuatu yang secara struktural cukup mirip. Apakah hasilnya akan berbeda, atau justru sejarah sedang berulang dengan kostum baru, hanya waktu yang bisa membuktikan.
“Kami berharap bisa berdamai dengan semua pihak, dan kami akan menata kembali Lebanon,” kata Trump. “Kami tidak akan membombardir Lebanon secara brutal, dan kami juga tidak akan membiarkan siapa pun melakukannya.”
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: