Sempat Ultimatum 48 Jam, Trump Tunda Serangan ke Fasilitas Energi Iran Hingga 6 April

- Trump tunda penghancuran fasilitas energi Iran 10 hari hingga 6 April setelah permintaan Iran, pembicaraan berlangsung dan berjalan sangat baik, sebelumnya Trump ultimatum 48 jam lalu tunda hingga Jumat (27/3), Iran blokade Selat Hormuz jalur 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair
- Lebih dari 30 negara berkomitmen bahas pengamanan jalur Selat Hormuz dipimpin Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Jepang, Belanda, Sekjen NATO Mark Rutte sebut negara Eropa butuh waktu karena tak ada pemberitahuan sebelumnya soal serangan AS-Israel 28 Februari, Menlu AS Rubio sebut pembukaan Selat kepentingan G7
- Prancis kerahkan kapal induk ke Mediterania timur dan delapan kapal perang ke Timur Tengah, Macron usulkan kerangka PBB untuk tindakan di selat setelah permusuhan mereda, Inggris susun rencana layak mulai operasi pencarian ranjau lalu perlindungan kapal tanker, Iran terbuka terhadap permintaan Spanyol yang hormati hukum internasional
, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan akan menunda penghancuran fasilitas energi selama 10 hari di Iran hingga 6 April. Dalam unggahan di platform Truth Social miliknya, ia menambahkan bahwa langkah tersebut diambil setelah adanya permintaan dari pemerintah Iran.
Trump juga menulis bahwa pembicaraan masih berlangsung dan berjalan sangat baik.
Pada akhir pekan lalu, Trump mengatakan bahwa AS akan membombardir infrastruktur energi Iran, jika Teheran tidak mengizinkan kapal melintasi Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ia kemudian menunda ultimatum tersebut hingga Jumat (27/03), dan kini kembali memperpanjang penundaan itu.
Iran menyatakan akan membalas dengan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk, jika Trump menindaklanjuti ancamannya. Iran secara efektif telah memblokade Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair, sehingga mendorong kenaikan harga energi dan mengguncang pasar keuangan global.
Desakan AS terhadap sekutu untuk mengamankan jalur
Sebelumnya, Trump menyerukan agar negara-negara NATO membantu AS mengamankan Selat Hormuz. Tak lama setelah itu, Trump mengkritik NATO karena dianggap tidak mendukung kampanye militer AS-Israel di Iran.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan negara-negara Eropa membutuhkan waktu karena alasan yang kuat, termasuk tidak adanya pemberitahuan sebelumnya mengenai serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
“Kabar baiknya sekarang adalah, berkat kepemimpinan dari enam negara, yakni Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Jepang, dan Belanda, lebih dari 30 negara telah berkomitmen untuk berkumpul dan membahas kapan dan di mana langkah akan diambil guna memastikan jalur laut tetap terbuka,” kata Rutte.
Sejalan dengan Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Kamis (26/03) juga mengatakan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz merupakan kepentingan seluruh negara G7. Kelompok G7 terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
“Itu adalah kepentingan mereka untuk membantu,” kata Rubio sesaat sebelum berangkat ke Prancis untuk menghadiri pertemuan menteri luar negeri G7 di luar Paris pada Jumat (27/03).
Prancis dan Inggris memimpin diskusi terkait Hormuz
Kementerian Pertahanan Prancis dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa 35 negara turut serta dalam diskusi pada Kamis (26/03) mengenai pengamanan jalur bagi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Konferensi video para kepala staf pertahanan tersebut berfokus pada cara membuka kembali jalur pelayaran setelah intensitas permusuhan menurun secara signifikan, demikian isi pernyataan tersebut. Langkah tersebut bisa sepenuhnya bersifat defensif untuk mengawal kapal komersial dan memulihkan kebebasan navigasi, tambah kementerian tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kini mengusulkan adanya kerangka kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk setiap tindakan di selat tersebut, menyatakan bahwa upaya internasional hanya dapat dilakukan setelah situasi permusuhan mereda, perusahaan asuransi dan pelayanan dilibatkan, serta dengan persetujuan Iran.
Prancis telah mengerahkan kelompok tempur kapal induk ke Mediterania timur, serta dua kapal induk helikopter dan delapan kapal perang ke Timur Tengah sebagai persiapan untuk kemungkinan misi di masa mendatang.
Inggris juga menyatakan tengah bekerja sama dengan para sekutu untuk menyusun rencana yang layak guna membuka kembali Selat tersebut. Menurut Perdana Menteri Keir Starmer, hal itu akan sulit dilakukan tanpa adanya deeskalasi di Timur Tengah.
Seorang pejabat pertahanan mengatakan bahwa tahap awal akan difokuskan pada operasi pencarian ranjau, yang kemudian diikuti tahap kedua berupa perlindungan terhadap kapal tanker yang melintasi kawasan tersebut. Upaya pembersihan ranjau berpotensi menjadi tantangan besar, mengingat Amerika Serikat tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya sendiri, menurut sejumlah sumber.
Iran terbuka soal permintaan Spanyol terkait Hormuz
Di tengah diskusi yang berlangsung antara negara-negara Uni Eropa, Kedutaan Besar Iran di Spanyol justru menyatakan bahwa Teheran terbuka terhadap setiap permintaan dari Madrid terkait Selat Hormuz. Menurut kedutaan tersebut, hal ini didasarkan pada sikap Spanyol yang menghormati hukum internasional. Ini menjadi konsesi pertama Iran kepada negara anggota Uni Eropa.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, yang dikenal sebagai salah satu pemimpin paling progresif di Eropa, merupakan salah satu pemimpin pertama yang menentang perang AS-Israel dengan Iran. Sejak itu, ia tetap konsisten dalam penolakannya terhadap konflik tersebut.
Spanyol juga menolak penggunaan pangkalan militernya oleh AS. Trump sebelumnya mengatakan bahwa kami bisa menggunakan pangkalan mereka jika kami mau, merujuk pada fasilitas di Rota dan Moron di Spanyol Selatan yang digunakan bersama oleh AS dan Spanyol, tetapi tetap berada di bawah kendali Spanyol.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: