Konflik Timur Tengah Berlanjut, Rupiah Tertekan ke Rp17.003 per Dolar AS di Awal Pekan

- Rupiah melemah tipis ke Rp17.003 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (6/4/2026), dipicu berlanjutnya konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent bertahan di US$110 per barel.
- Selat Hormuz yang masih terganggu membuat rencana tambahan produksi OPEC+ sebesar 206 barel per hari mulai Mei dinilai belum bisa menjadi solusi nyata atas kekurangan pasokan minyak global.
- Sebagian besar mata uang Asia tertekan, dengan peso Filipina melemah paling dalam 0,58%; penguatan tipis pada won dan yen lebih disebabkan intervensi teknikal, bukan perbaikan fundamental ekonomi.
, JAKARTA – Rupiah membuka pekan ini dengan tertatih. Pada perdagangan spot pagi tadi, nilai tukar rupiah sempat stagnan di posisi Rp16.995 per dolar AS sebelum akhirnya melemah tipis ke Rp17.003 per dolar AS pada pukul 09.08 WIB. Tekanan datang dari luar, bukan dari dalam negeri.
Biang keroknya masih sama, konflik di Timur Tengah yang kini sudah memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda mereda. Harga minyak mentah jenis Brent bertahan di kisaran US$110 per barel, sementara WTI diperdagangkan di angka US$111,91 per barel. Indeks dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia pun masih parkir di level 100, menjaga tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Lonjakan harga minyak menarik serta harga produk-produk turunannya. Rangkaian kenaikan ini menggerus daya beli, menambah beban biaya produksi, dan mempersempit ruang pertumbuhan ekonomi di banyak negara.
Keruwetan di pasar diperparah oleh sikap Presiden AS Donald Trump yang kerap berubah haluan. Kadang memberi sinyal bahwa perang akan segera berakhir, sesaat kemudian mengancam eskalasi bahkan terhadap infrastruktur sipil. Ketidakpastian semacam ini membuat pelaku pasar sulit mengambil keputusan.
Serangan AS ke kawasan Timur Tengah telah merusak sejumlah aset energi strategis, dengan dampak yang diperkirakan masih akan panjang. Memperbaiki kilang dan infrastruktur energi yang hancur bukan perkara cepat, dan gangguan jalur pengiriman minyak memperburuk ketidakstabilan pasokan global.
OPEC+ sudah menyepakati tambahan produksi sekitar 206 barel per hari mulai Mei mendatang, dengan Arab Saudi dan Rusia sebagai motor utamanya. Namun angka itu kemungkinan hanya di atas kertas selama Selat Hormuz belum benar-benar terbuka kembali bagi lalu lintas kapal tanker minyak.
Di sinilah masalah sesungguhnya. Bukan soal kuota produksi, bukan pula kebijakan OPEC+. Selama Selat Hormuz belum pulih, tidak ada penambahan produksi yang bisa menambal kekurangan pasokan global.
Dari sisi mata uang kawasan Asia, gambarannya beragam namun belum menggembirakan. Peso Filipina turun paling dalam dengan pelemahan 0,58%, diikuti ringgit Malaysia 0,1%, dan rupiah 0,02%. Di sisi lain, won Korea Selatan menguat 0,18% di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga pekan ini. Yen Jepang, dolar Singapura, dan yuan offshore juga bergerak menguat, namun kenaikannya sangat terbatas.
Penguatan yang terjadi di sejumlah mata uang Asia itu belum mencerminkan perbaikan kondisi yang sesungguhnya. Sebagian besar didorong faktor teknikal dan intervensi otoritas, bukan perbaikan fundamental. Investor masih dalam posisi menunggu, menahan diri dari taruhan besar sambil memantau arah kebijakan moneter dan perkembangan konflik.
Pasar sedang belajar membaca dua hal sekaligus: geopolitik yang tidak bisa diprediksi dan harga energi yang tidak mau turun. Dua hal itu berjalan beriringan, dan rupiah ada di tengah-tengahnya.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: