Trump Klaim Serangan Besar di Venezuela, Maduro Ditangkap dan Diterbangkan Keluar Negeri

- Presiden AS Donald Trump mengklaim telah melancarkan serangan berskala besar ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, lalu diterbangkan keluar dari negara tersebut.
- Venezuela tengah berada dalam krisis ekonomi berat, dengan pertumbuhan ekonomi 2025 hanya 0,5 persen, inflasi ekstrem hingga ratusan persen, serta pengangguran mencapai 35,6 persen.
- Meski mencatat surplus transaksi berjalan, kondisi fiskal Venezuela tetap rapuh dengan defisit anggaran dan rasio utang pemerintah menembus 164,3 persen dari PDB.
, Jakarta –Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim telah melancarkan serangan berskala besar ke Venezuela pada Sabtu waktu setempat. Operasi tersebut disebut berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan Maduro dan Cilia Flores ditangkap, lalu diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela. Operasi itu, menurut Trump, dilakukan melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum Amerika Serikat.
“Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS,” ujar Trump, dikutip dari CNBC, Sabtu (3/1/2026).
Venezuela sendiri tengah berada dalam kondisi ekonomi yang sangat rapuh. Pada April 2025 lalu, pemerintahan Maduro sempat menetapkan status darurat ekonomi akibat tekanan berkepanjangan pada sektor fiskal dan moneter.
Berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi Venezuela pada 2025 diproyeksikan hanya mencapai 0,5 persen. Nilai produk domestik bruto (PDB) tercatat sebesar US$82,77 miliar, jauh menyusut dibandingkan periode sebelum krisis ekonomi berkepanjangan.
PDB per kapita Venezuela pada 2025 berada di kisaran US$3.100, mencerminkan rendahnya daya beli masyarakat. Jika dihitung berdasarkan paritas daya beli, PDB per kapita mencapai US$8.790, menunjukkan adanya jurang besar antara nilai tukar resmi dan kondisi ekonomi riil masyarakat.
Total PDB Venezuela berdasarkan paritas daya beli tercatat sebesar US$234,34 miliar, atau hanya sekitar 0,11 persen dari total perekonomian global. Angka ini menegaskan menyusutnya peran Venezuela di kancah ekonomi dunia.
Tekanan inflasi juga masih berada pada level ekstrem. Rata-rata inflasi konsumen sepanjang 2025 tercatat mencapai 269,9 persen. Bahkan, inflasi akhir periode diperkirakan melonjak hingga 548,6 persen, menekan daya beli rumah tangga secara signifikan.
Populasi Venezuela diproyeksikan mencapai 26,89 juta jiwa pada 2026, mencerminkan dampak migrasi besar-besaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, tingkat pengangguran dilaporkan mencapai 35,6 persen, menandakan rapuhnya pasar tenaga kerja formal.
Di sisi eksternal, neraca transaksi berjalan Venezuela mencatat surplus sebesar US$3,52 miliar pada 2025 atau setara 4,2 persen dari PDB. Namun, surplus tersebut lebih banyak ditopang oleh sektor komoditas, bukan oleh penguatan sektor produktif.
Dari sisi fiskal, pemerintah Venezuela masih membukukan defisit dengan rasio net lending/borrowing sebesar minus 3,6 persen terhadap PDB pada 2024. Pada saat yang sama, rasio utang pemerintah umum telah menembus 164,3 persen dari PDB, menempatkan Venezuela dalam kategori negara dengan beban utang sangat tinggi.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: