TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

4 April 2026

Cari berita

Rencana RI Potong Produksi Bikin Harga Nikel Melonjak 39%, Tembus US$25.000!

Poin Penting (3)
  • Pemangkasan Produksi: Indonesia berencana memangkas produksi bijih nikel menjadi 250-260 juta ton pada 2026, turun drastis dari target RKAB 2025 sebesar 379 juta ton
  • Proyeksi Harga Melonjak: Harga nikel diprediksi naik dari US$18.000 per ton saat ini menjadi US$25.000 per ton sepanjang 2026 seiring pemangkasan produksi Indonesia yang menguasai 50% pangsa pasar global
  • Risiko Jangka Panjang: Kenaikan harga nikel terlalu tinggi berisiko membuat produsen kendaraan listrik beralih ke baterai LFP yang tidak menggunakan nikel, serta meningkatkan ketergantungan smelter domestik pada impor bijih dari Filipina

Resolusi.co, JAKARTA – Harga nikel global diproyeksi terus melonjak pada 2026. Analis memproyeksi harga mineral tersebut bisa tembus level US$25.000 per ton pada tahun ini.

Harga nikel sendiri belakangan mulai mendaki seiring rencana Indonesia memangkas produksi untuk 2026. Meski belum ditetapkan secara resmi, RI berencana memangkas produksi bijih nikel menjadi di level 250 juta hingga 260 juta ton.

Angka tersebut lebih rendah dibanding rencana produksi dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2025, yakni 379 juta ton.

Analis dari Traderindo Wahyu Tri Laksono menuturkan, rencana pemangkasan produksi oleh Indonesia memang tengah menjadi perhatian pasar. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis pemerintah untuk menyeimbangkan pasar dan menyelamatkan harga yang tertekan.

Menurutnya, harga saat ini dianggap sudah mendekati atau bahkan di bawah biaya produksi bagi banyak penambang global di luar Indonesia.

“Pengurangan pasokan dari Indonesia sebagai pemegang pangsa pasar lebih dari 50% akan memaksa harga naik untuk menjaga keberlangsungan industri,” kata Wahyu, Rabu (21/1/2026).

Adapun saat ini harga nikel berada di level US$18.000 per ton. Angka tersebut cukup melonjak dibanding akhir 2025 yang masih berada di kisaran US$14.000 hingga US$15.000 per ton.

Wahyu memproyeksi harga nikel bakal terus naik. Menurutnya, untuk jangka pendek atau satu bulan ke depan, harga nikel bisa tembus ke level US$20.000 per ton.

Dia menjelaskan, harga nikel bakal terus terkerek tergantung kejelasan RKAB 2026 dari pemerintah. Maklum, hingga saat ini RKAB untuk tahun buku 2026 masih belum terbit.

“Tergantung seberapa lama RKAB ‘nyangkut’. Jika dalam 2 minggu belum ada kejelasan, harga bisa melompat ke atas US$18.000,” ujarnya.

Sementara itu, untuk jangka menengah atau sepanjang 2026, dia memproyeksi harga nikel tembus US$25.000 per ton. Hal ini tak lepas dari pemangkasan produksi yang bakal dilakukan Indonesia.

“Jika RKAB terbit namun dengan kuota yang dipangkas, harga akan stabil di level tinggi,” kata Wahyu.

Di sisi lain, dia mengungkapkan sejumlah implikasi dari pemangkasan produksi dan kenaikan harga nikel. Menurut Wahyu, pemangkasan produksi RI akan meningkatkan ketergantungan smelter domestik pada bijih impor, terutama dari Filipina.

Dia berpendapat, hal tersebut berisiko menaikkan biaya produksi smelter di dalam negeri.

Selain itu, jika harga nikel naik terlalu tinggi akibat pemangkasan ini, produsen kendaraan listrik berpotensi semakin masif beralih ke baterai LFP (Lithium Iron Phosphate) yang tidak menggunakan nikel.

“Dalam jangka panjang bisa mengancam permintaan nikel itu sendiri,” ucap Wahyu.