Pengamat: Penambahan 50 Pesawat Boeing untuk Garuda Tidak Akan Efektif Tanpa Revisi Tarif Batas Atas

- Pengamat penerbangan memperingatkan bahwa rencana Garuda Indonesia menambah 50 pesawat Boeing berisiko menjadi beban finansial jika pemerintah tidak segera merevisi Tarif Batas Atas tiket domestik kelas ekonomi yang terakhir diubah pada 2019.
- Biaya operasional maskapai naik 70 persen sejak 2016, sementara TBA justru turun 5 persen, membuat maskapai terjepit dan sulit memulihkan keuangan pasca-pandemi.
- Jumlah penumpang domestik terus merosot, bahkan pada 2025 turun 2,5 juta dibanding 2024, sehingga pasar dinilai belum siap menyerap kapasitas armada yang lebih besar.
, Jakarta – Rencana pemerintah mewajibkan Garuda Indonesia mengakuisisi 50 pesawat Boeing baru mendapat sorotan tajam dari kalangan pengamat penerbangan. Bukan karena rencana itu salah, melainkan karena ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan: kebijakan Tarif Batas Atas (TBA) tiket domestik yang sudah usang.
Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman menilai penambahan armada memang bisa membantu pemulihan pasar domestik yang sejak pandemi Covid-19 belum sepenuhnya bangkit. Tapi tanpa revisi TBA, langkah itu berisiko menjadi bumerang.
“Jika ini tidak dilakukan, maka penambahan armada akan beresiko menjadi beban finansial yang menjerumuskan Garuda kembali pada ancaman kebangkrutan,” ujar Gerry, Kamis (26/2/2026).
Persoalannya memang mendasar. Ketentuan TBA terakhir diperbarui melalui Keputusan Menteri Perhubungan KM 106 Tahun 2019. Artinya, aturan itu sudah hampir tujuh tahun tidak disentuh. Sementara biaya operasional maskapai naik hingga 70 persen sejak 2016, batasan tarif justru turun 5 persen dalam periode yang sama.
Kondisi ini membuat maskapai terjebak dalam situasi sulit. Di musim sepi penumpang, tiket dijual mahal karena di musim ramai pun keuntungannya tidak cukup untuk menutup kerugian sebelumnya. Pemulihan keuangan pasca-pandemi pun menjadi hampir mustahil dalam kondisi seperti ini.
“Ini berdampak pada sulitnya maskapai Indonesia termasuk Garuda, untuk bisa pulih dari dampak finansial selama pandemi Covid-19,” tambah Gerry.
Ia juga menyebut bahwa Garuda sebenarnya butuh pesawat untuk rute-rute internasional jarak menengah yang tidak terikat TBA, dan secara bisnis lebih menjanjikan. Hanya saja, kebutuhan peremajaan armada yang sudah menua, khususnya Boeing 737-800, tetap tidak bisa diabaikan. Tantangannya ada pada kondisi keuangan yang belum solid untuk menanggung beban pergantian puluhan pesawat sekaligus.
“Tentu Garuda butuh melakukan peremajaan armada, namun kondisi keuangannya, dan kondisi pasar domestik, mempersulit outlook Garuda ke depan,” tutur Gerry.
Suara senada datang dari Pengamat Penerbangan Alvin Lie. Ia menegaskan pasar domestik saat ini belum bergairah. Sejumlah maskapai bahkan sudah mulai mengurangi jumlah pesawat dan memangkas rute yang merugi.
“Sejak tahun 2024, jumlah penumpang domestik kita terus menurun. Tahun 2025 bahkan 2,5 juta lebih rendah daripada 2024,” tuturnya.
Inilah titik tegangnya: pemerintah mendorong ekspansi armada sebagai bagian dari strategi diplomatik dagang dengan Amerika Serikat, sementara kondisi pasar dalam negeri belum menopang. Tanpa perbaikan regulasi tarif, 50 pesawat baru itu bisa jadi aset yang mahal dengan pasar yang belum siap menyerapnya.
Alvin menegaskan, TBA dan Tarif Batas Bawah (TBB) adalah kunci dari dua persoalan sekaligus: pemulihan penerbangan domestik dan keberlangsungan hidup maskapai nasional.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: