Gara-Gara RKAB Dipangkas, Industri Jasa Tambang Tunda Beli Alat Berat

- Perhapi prediksi perusahaan jasa tambang tunda beli alat berat akibat pemangkasan RKAB 2026, belanja modal bakal direm karena penurunan produksi batu bara dan mineral
- Ada perusahaan batu bara yang kena pangkas produksi hingga 80% dari yang diajukan, pelaku industri sangat waspada dampak pemangkasan ini
- Distributor alat berat bakal kena dampak langsung karena pesanan diprediksi turun drastis dibanding proyeksi awal tahun
, Jakarta – Pemangkasan target produksi batu bara dan mineral dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya 2026 mulai menimbulkan efek domino. Industri jasa pertambangan diprediksi akan menunda pembelian alat berat baru.
Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia memperkirakan dampak pemangkasan RKAB akan merembet ke operasional perusahaan jasa tambang. Rencana ekspansi yang sudah disusun sejak akhir tahun lalu dipastikan bakal ditinjau ulang.
Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi Ardhi Ishak Koesen mengatakan perusahaan jasa tambang biasanya sudah menyiapkan anggaran belanja modal menjelang akhir tahun. Salah satu pos terbesar adalah pembelian alat berat.
“Nah kalau kondisinya seperti ini, pasti direm capex-nya. Sejauh apa dampaknya, kita enggak tahu. Jadi pasti akan terjadi penurunan pemesanan alat berat terhadap para distributor alat berat,” kata Ardhi dalam lokakarya Perhapi, Rabu.
Ardhi yang juga menjabat sebagai Promotion and Government Relation Head PT Pamapersada Nusantara mewanti-wanti penurunan produksi komoditas tambang sangat diwaspadai pelaku industri.
Terlebih ada kabar perusahaan batu bara yang kena tebas produksi hingga 80 persen dari yang diajukan. Angka pemangkasan segila ini tentu bukan main-main dampaknya.
Belanja modal yang sudah direncanakan bakal dikaji ulang. Pembelian alat berat baru yang tadinya sudah dianggarkan, kemungkinan besar ditunda atau bahkan dibatalkan sama sekali.
Distributor alat berat bakal merasakan pukulan langsung dari kebijakan ini. Pesanan yang diharapkan masuk awal tahun kemungkinan akan turun drastis dibanding proyeksi semula.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: