Pabrik Gas Qatar Lumpuh Lima Tahun Imbas Serangan Iran, China hingga Korea Selatan Terancam Kekurangan Pasokan

- Serangan rudal Iran menghantam Ras Laffan Industrial City, Qatar, merusak parah dua unit produksi LNG milik QatarEnergy (Train 4 dan Train 6) serta fasilitas Pearl gas-to-liquids milik Shell, memicu kerugian pendapatan sekitar Rp337 triliun dan force majeure kontrak LNG jangka panjang hingga lima tahun.
- Negara-negara pengimpor utama seperti China, Korea Selatan, Italia, dan Belgia langsung merasakan dampak gangguan pasokan, dengan harga gas alam berjangka di Eropa melonjak 35 persen dan harga LNG Asia diprediksi melampaui US$26 per MMBTU.
- Selain kerusakan pada fasilitas LNG, QatarEnergy mencatat potensi kehilangan ekspor kondensat sebesar 24 persen, LPG 13 persen, dan helium sekitar 14 persen dari total ekspor Qatar, menjadikan serangan ini salah satu gangguan pasokan energi global terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
, Qatar – Serangan rudal Iran ke Qatar bukan sekadar babak baru dalam konflik Timur Tengah yang sudah memasuki pekan ketiga. Sasarannya kali ini adalah jantung industri energi global.
Fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia di Ras Laffan Industrial City, Qatar, mengalami kerusakan parah setelah hantaman rudal Iran. Dua unit produksi utama milik QatarEnergy, yaitu Train 4 dan Train 6, lumpuh dengan kapasitas produksi gabungan 12,8 juta ton per tahun. Angka itu setara sekitar 17 persen dari total ekspor LNG Qatar setiap tahunnya. Perbaikan diperkirakan memakan waktu hingga lima tahun.
Akibatnya, kerugian pendapatan yang diperkirakan menimpa perusahaan energi milik negara Qatar tersebut mencapai sekitar US$20 miliar, atau setara Rp337 triliun.
Saad al-Kaabi, CEO QatarEnergy, menyebut dampaknya tidak hanya dirasakan Qatar. Negara-negara pengimpor terbesar turut terdampak langsung.
“Dampaknya dirasakan oleh China, Korea Selatan, Italia, dan Belgia,” kata Saad al-Kaabi. “Ini berarti kami terpaksa menyatakan force majeure hingga lima tahun untuk beberapa kontrak LNG jangka panjang.”
Train 4 dan Train 6 merupakan usaha patungan QatarEnergy dengan Exxon Mobil Corp. Serangan ini juga merusak fasilitas Pearl gas-to-liquids milik Shell Plc di dekatnya, yang mengubah gas alam menjadi oli mesin, parafin, dan lilin. Penilaian kerusakan di fasilitas Shell masih berlangsung, namun operasinya diperkirakan terhenti setidaknya satu tahun.
Sebelum serangan terbaru ini, pabrik LNG tersebut sebenarnya sudah menghentikan produksi akibat serangan drone sebelumnya. Tapi serangan rudal kali ini jauh lebih menghancurkan secara fisik, memaksa para pembeli di Asia berebut mencari sumber pasokan pengganti dalam skala jutaan ton.
Korea Selatan, salah satu importir LNG terbesar di dunia, langsung angkat bicara. Juru bicara Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan menyatakan negaranya tidak menghadapi masalah pasokan gas secara langsung, mengingat Qatar hanya menyumbang sekitar 14 persen dari total impor LNG mereka tahun ini. Namun tekanan pasar global tetap terasa.
Dampak serangan ini langsung memukul harga energi. Kontrak berjangka gas alam di Eropa melonjak hingga 35 persen menjadi lebih dari dua kali lipat dibandingkan level sebelum perang meletus. Harga LNG di Asia pun diprediksi melampaui US$26 per MMBTU. Lonjakan itu menegaskan bahwa konflik bersenjata di Timur Tengah kini telah berubah menjadi krisis energi dengan jangkauan global yang jauh melampaui medan perang itu sendiri.
QatarEnergy menambahkan, kerugian yang diperhitungkan juga mencakup sekitar 18,6 juta barel kondensat, yang mewakili 24 persen ekspor kondensat Qatar, 13 persen ekspor gas petroleum cair (LPG), dan sekitar 14 persen ekspor helium dunia dari Qatar.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: