TODAY'S RECAP
Haul Ke-93 RKH Abd Hamid Itsbat Banyuanyar Dihadiri Puluhan Ribu Alumni dan PejabatPerang Iran Hantam Rupiah! Harga Minyak Diprediksi Tembus US$200, Defisit APBN MengancamGara-Gara Perang Iran, Harga Minyak Dunia Lampaui US$100, APBN Indonesia Ikut TerguncangRupiah Tembus Rp17.000! Melampaui Krisis Moneter 1998 dan Pandemi Covid-19Mojtaba Khamenei Ditunjuk Pimpin Iran, Para Analis Nilai Operasi Militer AS-Israel Gagal Ubah RezimNetanyahu Ancam Iran: Kami Punya Banyak Kejutan untuk Menggoyahkan Rezim Anda!Haul Ke-93 RKH Abd Hamid Itsbat Banyuanyar Dihadiri Puluhan Ribu Alumni dan PejabatPerang Iran Hantam Rupiah! Harga Minyak Diprediksi Tembus US$200, Defisit APBN MengancamGara-Gara Perang Iran, Harga Minyak Dunia Lampaui US$100, APBN Indonesia Ikut TerguncangRupiah Tembus Rp17.000! Melampaui Krisis Moneter 1998 dan Pandemi Covid-19Mojtaba Khamenei Ditunjuk Pimpin Iran, Para Analis Nilai Operasi Militer AS-Israel Gagal Ubah RezimNetanyahu Ancam Iran: Kami Punya Banyak Kejutan untuk Menggoyahkan Rezim Anda!Haul Ke-93 RKH Abd Hamid Itsbat Banyuanyar Dihadiri Puluhan Ribu Alumni dan PejabatPerang Iran Hantam Rupiah! Harga Minyak Diprediksi Tembus US$200, Defisit APBN MengancamGara-Gara Perang Iran, Harga Minyak Dunia Lampaui US$100, APBN Indonesia Ikut TerguncangRupiah Tembus Rp17.000! Melampaui Krisis Moneter 1998 dan Pandemi Covid-19Mojtaba Khamenei Ditunjuk Pimpin Iran, Para Analis Nilai Operasi Militer AS-Israel Gagal Ubah RezimNetanyahu Ancam Iran: Kami Punya Banyak Kejutan untuk Menggoyahkan Rezim Anda!Haul Ke-93 RKH Abd Hamid Itsbat Banyuanyar Dihadiri Puluhan Ribu Alumni dan PejabatPerang Iran Hantam Rupiah! Harga Minyak Diprediksi Tembus US$200, Defisit APBN MengancamGara-Gara Perang Iran, Harga Minyak Dunia Lampaui US$100, APBN Indonesia Ikut TerguncangRupiah Tembus Rp17.000! Melampaui Krisis Moneter 1998 dan Pandemi Covid-19Mojtaba Khamenei Ditunjuk Pimpin Iran, Para Analis Nilai Operasi Militer AS-Israel Gagal Ubah RezimNetanyahu Ancam Iran: Kami Punya Banyak Kejutan untuk Menggoyahkan Rezim Anda!

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

10 Maret 2026

Cari berita

Henny Sulistyorini: Resiliensi Jadi Kunci Keberlanjutan Usaha Kelapa di Aceh

Poin Penting (3)
  • Hasil penelitian Henny Sulistyorini menunjukkan tingkat resiliensi petani kelapa hanya 29,24, dengan pendapatan rata-rata Rp 2,1 juta—di bawah UMK—sehingga berdampak pada rendahnya perawatan tanaman dan nilai jual.
  • Analisis SEM-PLS menemukan bahwa jaringan serta kepercayaan sosial antarpelaku menjadi faktor paling berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan resiliensi dan keberlanjutan usaha kelapa.
  • Plt. Dirjen Perkebunan Abdul Roni Angkat menilai penelitian tersebut relevan untuk pembangunan perkebunan, sekaligus menegaskan rencana peremajaan kelapa 150 ribu hektare secara nasional pada 2026.

Resolusi.co, Bogor–Mahasiswa Program Doktor Komunikasi Pembangunan Pertanian IPB, Henny Sulistyorini, memaparkan temuan penting terkait keberlanjutan usaha kelapa di Aceh. Dalam sidang promosi terbuka bertepatan dengan Hari Perkebunan Nasional ke-68, Henny menegaskan bahwa resiliensi petani menjadi faktor krusial agar usaha kelapa tetap bertahan dan menguntungkan dalam jangka panjang.

Sidang berlangsung di hadapan komisi pembimbing yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Sumardjo, MS, dengan anggota Prof. Dr. Anna Fatchiya, M.Si., dan Dr. Ninuk Purnaningsih, M.Si. Hadir pula penguji luar komisi, Dr. Ir. Siti Amanah, M.Sc., serta Plt. Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Dr. Abdul Roni Angkat, STP, M.Si.

Dalam pemaparannya, Henny menjelaskan bahwa kelapa sejatinya merupakan komoditas strategis bagi Aceh yang rawan bencana. Selain memiliki perakaran kuat dan daya adaptasi tinggi, kelapa juga bernilai ekonomi signifikan. Namun kondisi eksternal yang kurang menguntungkan membuat petani di Kabupaten Simeulue, Aceh Besar, dan Bireuen hanya memperoleh pendapatan rata-rata Rp 2.124.188—di bawah UMK Aceh.

“Pendapatan rendah membuat perawatan tanaman minim dan petani cenderung menjual kelapa dalam bentuk butiran yang bernilai ekonomi rendah,” ungkap Henny.

Karena itu, ia menilai petani perlu memiliki tingkat resiliensi tinggi—kemampuan bertahan, beradaptasi, dan bertransformasi agar usaha tetap berkelanjutan. Henny mengukur resiliensi melalui tiga indikator: strategi nafkah, integrasi sosial, dan kemampuan melestarikan tanaman.

Hasil penelitiannya menunjukkan tingkat resiliensi petani kelapa berada pada kategori rendah, yakni 29,24. Kondisi ini menggambarkan bahwa keberlangsungan petani saat ini sebagian besar ditopang oleh kemampuan mereka berintegrasi dengan lingkungan sosial.

Lebih lanjut, melalui analisis Structural Equation Modeling (SEM-PLS), Henny menemukan bahwa modal sosial—terutama jaringan dan kepercayaan antarpetani—menjadi faktor utama yang memengaruhi resiliensi.

“Penelitian ini memiliki kebaruan dengan mengintegrasikan teori resiliensi, kemandirian, dan keberlanjutan usaha, serta indikator ekonomi, sosial, dan lingkungan,” jelasnya.

Temuan Henny mendapat apresiasi dari penguji sekaligus Plt. Dirjen Perkebunan, Abdul Roni Angkat. Ia menilai riset tersebut dapat menjadi referensi penting bagi arah pembangunan perkebunan nasional.

“Hasil penelitiannya bagus. Ada sejumlah faktor yang dapat dijadikan benchmarking untuk menentukan ke mana bantuan dan pengembangan perkebunan diarahkan,” kata Roni.

Ia menambahkan, penelitian itu juga menegaskan pentingnya kepemilikan lahan minimal 5 hektare agar petani dapat memperoleh pendapatan layak. Selain itu, penguatan modal sosial dinilai menjadi faktor penentu ketahanan usaha.

“Tahun depan kita akan menggenjot replanting dan peremajaan kelapa seluas 150 ribu hektare di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Lokus produksi akan kita ratakan agar tidak terjadi penumpukan di satu daerah dan kekurangan di daerah lain,” tegasnya.