Netanyahu Panik! Telepon Trump Minta Tunda Bom Iran, Akui Sistem Pertahanan Rudal Israel Masih Lemah

- Netanyahu menelepon Trump pada Rabu meminta tunda serangan ke Iran karena sistem pertahanan udara Israel belum pulih pasca perang 12 hari Juni 2025, khawatir tidak mampu tahan serangan balasan
- Pejabat Israel akui sistem pertahanan rudal seperti Iron Dome telah digunakan secara luas dalam konflik langsung dengan Iran tahun lalu, tidak yakin rezim Iran jatuh tanpa kampanye militer berkepanjangan
- The New York Times dan CNN laporkan permintaan penundaan ini, negara-negara Arab juga khawatir jadi sasaran pembalasan Iran jika konflik meluas karena banyak basis militer AS di wilayah mereka
, Jakarta – Israel dilaporkan dalam kondisi cemas menghadapi kemungkinan serangan balasan dari Iran karena sistem pertahanan udaranya dinilai belum pulih sepenuhnya. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menelepon Presiden terpilih Donald Trump untuk mendesak penundaan rencana pengeboman terhadap Iran.
Menurut laporan Consortium News, Israel sangat khawatir bahwa sistem pertahanan udaranya yang telah melemah akibat serangan Iran dalam perang 12 hari pada Juni 2025 lalu, belum cukup pulih untuk menahan respons keras dari Teheran. Kekhawatiran ini muncul setelah retorika publik Donald Trump yang mengancam akan melakukan serangan ke Iran.
Netanyahu melakukan panggilan telepon kepada Trump pada hari Rabu untuk meminta mundur dari rencana serangan hingga Israel siap menghadapi kemungkinan pembalasan. Permintaan ini menunjukkan tingkat kekhawatiran tinggi pihak Israel terhadap kapabilitas militer Iran saat ini.
Kabar tentang permintaan Israel ini sempat diterbitkan oleh media besar Amerika Serikat, CNN, meskipun tidak ada pengumuman resmi dari pemerintah Israel maupun tim Trump. Media Israel Y Net Global turut mengutip laporan tersebut dengan menambahkan detail kekhawatiran pejabat Israel.
“Menurut CNN, para pejabat Israel memperingatkan bahwa sistem pertahanan udara telah digunakan secara luas selama konflik langsung tahun lalu dengan Iran dan bahwa mereka tidak percaya rezim Iran akan runtuh dengan cepat tanpa kampanye militer yang berkepanjangan,” tulis Y Net Global.
Laporan dari sumber-sumber yang mengetahui isi percakapan menyebutkan bahwa pada Rabu sore, Trump berbicara melalui telepon dengan Netanyahu. Inti dari percakapan tersebut adalah desakan perdana menteri Israel agar presiden menunda rencana serangan militer ke Iran.
Seorang sumber yang mengetahui isi percakapan mengungkapkan bahwa warga Israel tidak percaya rezim Iran akan jatuh dengan cepat tanpa kampanye berkepanjangan. Ada pula kekhawatiran serius tentang kondisi sistem pertahanan rudal negara mereka yang masih rapuh.
Rudal merupakan senjata yang banyak digunakan selama konflik antara Israel dan Iran tahun lalu. Sistem pertahanan anti-rudal Israel seperti Iron Dome, David’s Sling, dan Arrow mengalami beban berat selama konflik tersebut, menurut sumber lain yang mengetahui permasalahan ini.
Pesan dari Netanyahu memiliki bobot tambahan bagi Trump, mengingat Netanyahu sebelumnya pernah memohon kepada calon presiden AS tersebut untuk bergabung dalam aksi militer Israel melawan Iran. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dalam sikap perdana menteri Israel.
The New York Times pertama kali melaporkan percakapan antara Netanyahu dan Trump tersebut. Media terkemuka AS itu menerbitkan laporan menarik pada hari Kamis dengan judul yang cukup mengejutkan.
Judul artikel The New York Times berbunyi “Israel dan Negara-negara Arab Meminta Trump untuk Menahan Diri dari Menyerang Iran,” dengan subjudul yang menyatakan bahwa Netanyahu meminta presiden untuk menunda serangan yang direncanakan, serta para pejabat Israel dan Arab khawatir Iran dapat membalas dengan menyerang negara mereka.
Artikel tersebut dimulai dengan mengutip seorang pejabat senior AS yang mengatakan Netanyahu telah meminta Presiden Trump untuk menunda rencana serangan militer Amerika terhadap Iran. Namun, artikel tersebut tidak memberikan penjelasan mendalam mengapa Netanyahu, yang biasanya sangat menginginkan serangan AS terhadap Iran, kini justru meminta penundaan.
Artikel The New York Times juga tidak sepenuhnya mendukung subjudul yang menyatakan bahwa Israel takut akan pembalasan Iran. Media tersebut tidak memberikan detail lebih lanjut dan beralih ke topik lain tanpa kembali menyebutkan secara detail tentang seruan Israel untuk menghentikan serangan tersebut.
Kekhawatiran Israel ini mengungkap kondisi riil sistem pertahanan udara mereka yang ternyata belum sepenuhnya pulih setelah konflik Juni 2025. Serangan Iran pada waktu itu dilaporkan berhasil menembus beberapa lapis pertahanan Israel dan menguras persediaan rudal interseptor.
Para pejabat Israel menilai bahwa tanpa dukungan penuh dari Amerika Serikat dan sekutu regional lainnya, mereka akan kesulitan menghadapi serangan balasan Iran yang diperkirakan akan lebih masif jika AS melancarkan serangan terlebih dahulu.
Negara-negara Arab di kawasan juga dilaporkan ikut khawatir terhadap rencana serangan AS ke Iran. Mereka takut menjadi sasaran pembalasan Iran jika konflik meluas, mengingat banyak basis militer AS yang berada di wilayah mereka.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas dinamika geopolitik Timur Tengah menjelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden AS pada 20 Januari 2026. Trump selama kampanye sering mengancam akan bertindak keras terhadap Iran, namun kini menghadapi realitas strategis yang lebih rumit.
Permintaan Israel untuk menunda serangan juga mengindikasikan bahwa Netanyahu menyadari betapa berbahayanya eskalasi konflik dengan Iran dalam kondisi pertahanan Israel yang masih lemah. Hal ini berbeda dengan sikap agresif Israel selama ini terhadap program nuklir Iran.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: