TODAY'S RECAP
Dorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu DepanDorong Transformasi Pendidikan, 150 Alumni LPDP Diterjunkan ke Wilayah 3TKomdigi Kembali Panggil Meta dan Google, Kepatuhan PP Tunas DisorotKabar Baik untuk Dapur: Cabai dan Daging Kompak Turun, tapi Bawang Belum IkutWorkshop PPG UNS: 495 Calon Guru Diperkuat Etika Akademik dan Anti KekerasanKerja Lembur Sampai Akhir Pekan, RUU P2SK Ditargetkan Tuntas Minggu Depan

Rubrikasi

Informasi

Ikuti Kami

3 April 2026

Cari berita

FINANSIA

Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Eropa Mulai Khawatir Keran Energinya Ikut Tersumbat

Poin Penting (3)
  • Harga gas alam di Eropa naik lebih dari 70 persen sejak perang AS-Israel melawan Iran meletus akhir Februari, mendorong UE menyiapkan paket kebijakan darurat energi termasuk pembatasan tarif dan pajak listrik.
  • Selat Hormuz praktis lumpuh akibat serangan Iran ke negara-negara Teluk, memicu Uni Emirat Arab melobi koalisi militer internasional untuk membuka selat itu secara paksa, meski risikonya dinilai sangat tinggi.
  • Iran menolak berunding dengan AS dengan tingkat kepercayaan nol, sementara Trump mengklaim perang akan selesai dalam dua hingga tiga minggu dan menegaskan membuka Hormuz bukan tanggung jawab Amerika.

Resolusi.co, Jakarta – Uni Eropa bergerak cepat menghadapi dampak konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang meletus akhir Februari lalu. Harga gas alam di kawasan Eropa sudah merangkak naik lebih dari 70 persen sejak perang itu dimulai, dan Brussels tidak ingin menunggu lebih lama untuk bertindak.

Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, menyatakan pihaknya tengah menyiapkan serangkaian respons kebijakan. Langkah yang disiapkan mencakup pembatasan tarif jaringan listrik dan penyesuaian pajak energi, mengacu pada pola respons yang pernah diterapkan UE saat Rusia menyerbu Ukraina pada 2022.

“Bahkan jika perdamaian tercapai, konsekuensinya akan tetap terasa, karena sebagian infrastruktur energi di kawasan itu sudah hancur akibat perang,” ujar Jørgensen.

Pasokan minyak mentah dan gas alam UE secara langsung belum terpengaruh, karena sebagian besar sumber energi Eropa memang bukan berasal dari kawasan Teluk. Namun, yang membuat Brussels was-was adalah produk olahan minyak, terutama kerosin dan solar. Sekitar 15 persen kebutuhan kerosin Eropa dipasok dari Timur Tengah.

Sementara Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia, kini nyaris mati suri. Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap negara-negara tetangganya di Teluk. Tangki bahan bakar di bandara internasional Kuwait terkena drone, sementara sebuah kapal tanker di perairan Qatar juga menjadi sasaran. Tekanan militer Iran itu praktis melumpuhkan lalu lintas kapal di selat yang sempit namun sangat vital itu.

Uni Emirat Arab merespons situasi ini dengan mendorong pembentukan koalisi militer. Menurut laporan Wall Street Journal, diplomat-diplomat Emirat aktif melobi Washington serta kekuatan militer Eropa dan Asia untuk bersama-sama membuka Selat Hormuz secara paksa, dengan mandat dari Dewan Keamanan PBB.

Namun opsi itu bukan tanpa risiko besar. Iran memiliki kemampuan menyerang sasaran di selat tersebut lewat jalur darat, sementara kapal perang hanya punya waktu sangat singkat untuk bermanuver di perairan yang sempit itu.

Di Washington, Presiden AS Donald Trump justru mengambil jarak. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab membuka kembali Selat Hormuz bukan berada di tangan Amerika Serikat. “Kami tidak ada hubungannya dengan masalah ini,” kata Trump di Gedung Putih, meski konflik itu sendiri merupakan akibat langsung dari operasi militer AS-Israel terhadap Iran.

Trump memperkirakan serangan di Iran akan rampung dalam dua hingga tiga minggu. Ia juga menyebut tidak relevan untuk bernegosiasi dengan pemimpin Teheran, karena tujuannya sudah jelas: memastikan Iran tidak bisa lagi mengembangkan senjata nuklir. “Jika kami merasa mereka telah dikembalikan ke ‘zaman batu’ untuk waktu yang lama dan tidak mampu lagi mengembangkan senjata nuklir, maka kami akan pergi,” katanya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu senada. “Rezim Ayatollah di Iran lebih lemah dari sebelumnya,” kata Netanyahu, meski ia mengakui pertarungan belum selesai.

Dari pihak Tehran, sikap keras ditunjukkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Berbicara kepada Al-Jazeera, ia menegaskan Iran belum memutuskan apakah akan berunding dengan AS.

“Kami sama sekali tidak percaya bahwa negosiasi dengan AS akan menghasilkan apapun. Tingkat kepercayaan kami pada mereka nol,” kata Araghchi.

Di tengah eskalasi yang terus meningkat, suara dari Vatikan terdengar berbeda. Paus Leo XIV mendesak Trump dan seluruh kepala negara di dunia untuk kembali ke meja perundingan. “Akhiri perang ini,” seru pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu.

Yang menarik dari semua ini adalah betapa cepat sebuah konflik bersenjata di Teluk Persia mengubah hitungan energi di benua yang jaraknya ribuan kilometer. Eropa sudah merasakannya lewat tagihan gas yang kian mahal, jauh sebelum ada satu peluru pun yang menyentuh wilayahnya.