Datang untuk Melahirkan, Perempuan Muda Ini Justru Kehilangan Rahim, Keluarga Geruduk Kantor Dinkes Pamekasan

- Pasien QQ (29), warga Pamekasan, menjalani operasi pengangkatan rahim setelah pendarahan hebat pasca sesar di RSIA Puri Bunda Madura, namun pemeriksaan lanjutan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menduga penyebab sebenarnya adalah usus yang melintir.
- Keluarga pasien mengaku dipersulit saat meminta rekam medis dari RSIA Puri Bunda Madura, berbeda dengan pengalaman mereka di Surabaya yang langsung mendapatkan dokumen tersebut.
- Dinkes Pamekasan menyatakan investigasi masih berlangsung bersama IDI dan komite medik provinsi, sementara pihak rumah sakit mengklaim telah menyerahkan semua dokumen kepada Dinkes.
, Pamekasan – Seorang perempuan berusia 29 tahun berinisial QQ, warga Kecamatan Pakong, Pamekasan, kini terbaring dalam kondisi kritis di RSUD Dr. Soetomo Surabaya setelah melewati serangkaian tindakan medis yang menurut keluarganya tidak berjalan sesuai harapan. Semuanya bermula dari operasi sesar yang ia jalani di RSIA Puri Bunda Madura.
Persalinan yang semestinya menjadi momen bahagia itu berubah arah setelah QQ mengalami pendarahan hebat pascaoperasi. Pihak rumah sakit kemudian mengambil keputusan untuk melakukan operasi lanjutan, yaitu pengangkatan rahim.
Namun masalah tidak berhenti di situ. Setelah dirujuk ke Surabaya dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut, tim medis RSUD Dr. Soetomo menemukan kondisi lain yang diduga menjadi pangkal persoalan sesungguhnya.
“Setelah dilakukan tindakan di Surabaya, ternyata bukan masalah pada rahim, melainkan usus yang melintir. Karena itu, pihak keluarga mempertanyakan tindakan pengangkatan rahim yang dilakukan sebelumnya,” ungkap Imam Arifin, Ketua Pemuda Indonesia Jawa Timur sekaligus koordinator aksi, dalam orasinya di depan Kantor Dinas Kesehatan Pamekasan, Kamis (25/6/2026).
Temuan itulah yang mendorong puluhan massa yang tergabung dalam organisasi Pemuda Indonesia Jawa Timur turun ke jalan. Mereka menggelar demonstrasi di depan kantor Dinkes pagi itu, menuntut pertanggungjawaban atas kondisi yang dialami QQ.
Di luar persoalan medis, keluarga juga menghadapi hambatan ketika mencoba mengakses rekam medis pasien dari RSIA Puri Bunda Madura. Mereka membandingkannya dengan pengalaman di Surabaya, di mana dokumen serupa diberikan tanpa kesulitan.
“Di RSUD Dr. Soetomo, saat pasien pulang rekam medis langsung diberikan. Namun ketika meminta dokumen yang sama di sini, kami merasa dipersulit,” kata Imam Arifin.
Dalam situasi seperti ini, akses terhadap rekam medis bukan sekadar urusan administrasi. Dokumen itu adalah satu-satunya cara bagi keluarga untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh orang yang mereka cintai.
Massa menuntut tiga hal. Rekam medis diserahkan kepada keluarga sesuai prosedur, ada pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami pasien, serta Dinkes Pamekasan melakukan inspeksi mendadak ke rumah sakit tersebut.
Menanggapi aksi itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pamekasan, Avira Sulistyowati, menyebut pihaknya telah membentuk tim investigasi awal yang melibatkan Ikatan Dokter Indonesia dan pihak rumah sakit.
“Hasilnya belum bisa kami sampaikan saat ini. Nanti akan kami informasikan secara resmi setelah dilakukan konsolidasi dengan komite medik di tingkat provinsi,” jelas Avira.
Terkait rekam medis, ia menambahkan bahwa akses terhadap isi dokumen tersebut diatur oleh ketentuan khusus dan saat ini masih menjadi bagian dari proses yang ditangani bersama komite provinsi.
Sementara itu, Humas RSIA Puri Bunda Madura, Sari Purwati, menyatakan seluruh data dan dokumen yang diperlukan sudah diserahkan kepada Dinas Kesehatan Pamekasan.
“Semua sudah kami laporkan ke Dinas Kesehatan dan sudah dipaparkan dalam forum yang berlangsung saat aksi tadi,” singkatnya.
Proses investigasi masih berjalan. Keluarga QQ menunggu kejelasan, dan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di ruang operasi itu belum terjawab.
Ikuti Update Kami
Dapatkan berita dan artikel pilihan langsung di: